Sanitasi – Analisis Pengelolaan Air Limbah (1)

IDENTIFIKASI MASALAH

Kabupaten Badung dikenal sebagai wilayah dengan objek pariwisata yang paling terkenal yaitu Pantai Kuta dan Nusa Dua. Namun keberadaannya terganggu akibat adanya banjir dan sanitasi yang buruk di lingkungan masyarakat sekitar, sehingga diperlukan upaya-upaya untuk pencegahan atau pengurangan pencemaran tersebut. Pembuangan air limbah domestik yang tidak terkendali dan tidak terkontrol serta geografis Kabupaten Badung yang rendah akan menyebabkan sistem pengolahan limbah akan menjadi sulit. Namun saat ini harus dicarikan solusi dalam permasalahan sanitasi Kabupaten Badung demi memberikan rasa aman dan nyaman bagi para wisatawan dan menghilangkan kesan kumuh serta dampak terhadap kesehatan yang sangat besar.

Tujuan utama dari pengelolaan sanitasi dan air limbah adalah untuk mengurangi resiko kesehatan masyarakat dan khususnya penyakit dan kesehatan yang berkaitan atau disebabkan oleh air. Salah satu tujuan pengelolaan dan pengolahan air limbah adalah untuk menekan laju pertumbuhan penyakit yang ditularkan dan menyebar melalui air seperti air permukaan (sungai, waduk) dan air tanah (sumur gali/pompa). Semakin terkontaminasi air di suatu daerah, semakin besar kemungkinan penyakit terinfeksi oleh air. Penyakit yang ditimbulkan oleh kondisi air yang buruk adalah diare. Tahun 2011 tercatat sebanyak 7.422 jiwa terserang diare di Kabupaten Badung.

Pada kawasan Kabupaten Badung, air limbah dihasilkan dari rumah tangga, area komersil atau bangunan/fasilitas umum serta industri rumah tangga. Secara umum air limbah dari rumah tangga maupun area komersil atau industri dibagi dalam dua katagori yaitu air limbah dari WC disebut “black water“, dan air limbah dari dapur, kamar mandi, tempat cuci dan kegiatan manusia lainnya disebut “grey water“.

Hampir seluruh rumah tangga dan bangunan yang ada di area studi telah mempunyai WC dan fasilitas pengolahan berupa septictank, namun banyak rumah yang mempunyai WC dengan fasilitas pengolahan yang tidak memenuhi persyaratan, dan ada juga yang tidak mempunyai fasilitas dengan kata lain membuang langsung ke kali. Air limbah “grey water” umumnya dibuang ke kali atau saluran/got di depan rumah, dan sebagian ada yang masih membuang di permukaan tanah atau halaman rumah. Kondisi tersebut diatas akan memperburuk kondisi lingkungan dan kemungkinan terjadi kontaminasi atau pencemaran terhadap lingkungan perairan.

Pengelolaaan limbah cair domestik dilaksanakan dengan cara sebagai berikut:

  • Sistem pembuangan air limbah yang berasal dari toilet dialirkan ke dalam septictank (tangki septik) dan air limpasan dari tangki septik diresapkan ke dalam tanah atau dibuang ke saluran umum
  • Air limbah non toilet yang berasal dari mandi, cuci dan buangan dapur dibuang langsung ke saluran umum/sungai.


KONDISI SANITASI RUMAH TANGGA

Air limbah rumah tangga terdiri dari air limbah WC dan air limbah dari kamar mandi, cuci dan sebagainya. Umumnya kondisi yang ada sekarang pembuangan kedua macam air limbah tersebut dilakukan secara terpisah, dan karena belum ada sistem terpusat maka umumnya menggunakan sistem on-site. Keberadaan jamban keluarga (JAGA) sangat penting dalam sebuah keluarga. Berdasarkan data di Dinas Kesehatan Kabupaten Badung tahun 2010 mengenai kepemilikan jamban keluarga (JAGA) dapat dilihat pada tabel berikut :


Dari tabel di atas diketahui bahwa Kabupaten Badung memiliki jumlah kepala keluarga (KK) sebanyak 100.147 KK dan telah memiliki jamban keluarga sebanyak 96.314 KK sedangkan kepala keluarga yang telah memenuhi syarat jamban yang sehat sebesar 93,40 % dari 45.696 KK yang dilakukan pemeriksaan. Apabila dibandingkan dengan target tahun 2015 dari MDG’s Indonesia dengan proporsi rumah tangga pedesaan dan perkotaan sebesar 65,5%, maka cakupan keluarga yang telah memiliki jamban keluarga sudah memenuhi target tersebut. Faktor yang mendukung pencapaian target tersebut yaitu meningkatnya pembangunan dan pengembangan perumahan yang memenuhi syarat kesehatan.

Dalam upaya mendukung terwujudnya kualitas lingkungan yang sehat diperlukan pengelolaan air limbah yang sesuai standar dan memenuhi syarat kesehatan. Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang air buangan kamar mandi, tempat cuci, dapur dan lain-lain bukan dari WC atau pengurasan. SPAL yang sehat hendaknya memenuhi persyaratan sebagai berikut:

  • Tidak mencemari sumber air bersih (jarak dengan sumber air bersih minimal 10 m)
  • Tidak menimbulkan genangan air yang dapat dipergunakan untuk sarang nyamuk (diberi tutup yang cukup rapat)
  • Tidak menimbulkan bau (diberi tutup yang cukup rapat)
  • Tidak menimbulkan becek atau pandangan yang tidak menyenangkan (tidak bocor sampai meluap).


KONDISI SANITASI SARANA UMUM

Tempat-tempat umum adalah tempat kegiatan bagi umum yang disediakan badan-badan pemerintah, swasta atau perorangan yang langsung digunakan oleh masyarakat yang mempunyai tempat dan kegiatan tetap, memiliki fasilitas sanitasi (jamban, tempat pembuangan sampah dan limbah) untuk kebersihan dan kesehatan di lingkungan. Tempat-tempat umum yang sehat berpengaruh cukup besar di masyarakat karena masyarakat menggunakan fasilitas umum tersebut untuk berbagai kepentingan.

Pengawasan sanitasi tempat umum bertujuan untuk mewujudkan kondisi tempat umum yang memenuhi syarat kesehatan agar masyarakat pengunjung terhindar dari kemungkinan bahaya penularan penyakit serta tidak menjadi sarang vektor penyakit yang dapat menimbulkan atau menyebabkan gangguan terhadap kesehatan masyarakat di sekitarnya. Pengawasan sanitasi tempat umum meliputi sarana wisata, sarana ibadah, sarana transportasi, sarana ekonomi dan sosial. Pengawasan sanitasi Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) di Kabupaten Badung meliputi hotel, restoran/rumah makan dan pasar.

Sejumlah permasalahan dalam pengelolaan limbah cair di Kabupaten Badung, di antaranya adalah:

  • Belum terbangunnya fasilitas pengolahan air buangan kota (sewerage system)
  • Belum terbangunnya sarana pengelolaan limbah cair domestik secara terpusat untuk mencakup seluruh wilayah Kabupaten Badung
  • Kurang memadainya sistem pengelolaan limbah cair domestik/rumah tangga individual (on site treatment) atau semi komunal.
  • Terbatasnya cakupan pelayanan jaringan air limbah.


INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH (IPAL)

Cakupan wilayah Kabupaten Badung dilayani oleh 2 sistem pengolahan air limbah terpusat yaitu IPAL Suwung dan BTDC. IPAL Suwung melayani wilayah Kuta, Legian dan Seminyak sedangkan BTDC melayani wilayah Nusa Dua.


Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Suwung

Sistem pengolahan air limbah di IPAL Suwung ini menggunakan kolam aerasi dan kolam sedimentasi yang beroperasi sejak tahun 2008. Sistem aerasi digunakan untuk mengurangi kebutuhan luas lahan dan mempercepat proses pengolahan sekaligus menghilangkan bau yang mungkin timbul akibat proses oksidasi yang tidak sempurna. IPAL Suwung berlokasi di dekat Pelabuhan Benoa, yang termasuk dalam wilayah administrasi Desa Pemogan, dimana effluent IPAL dapat digunakan untuk penyiraman taman kota atau dialirkan ke laut tanpa mencemari perairan. Kapasitas IPAL ini sebesar 51.000 m³/hari dengan bangunan utama terdiri dari :

  • Inflow Pumping Station : 3 unit pompa dengan kapasitas 46,5 m³/menit
  • Electrical Building
  • Control Building dilengkapi dengan ruang pertemuan dan laboratorium.

Berdasarkan hasil penelitian dari Fakultas Teknik Universitas Udayana tahun 2011, diperoleh bahwa jenis air limbah yang masuk dalam sistem IPAL Suwung ini adalah air limbah rumah tangga, air limbah area komersil atau bangunan umum, air limbah dari area pariwisata, air limbah industri, air limbah rembesan dan tambahan dengan estimasi sebagai berikut:

  1. Air Limbah Rumah Tangga (Domestik)

    Pada area rumah tangga unit pemakaian air didasarkan pada tingkat pendapatan kepala keluarga dengan estimasi produksi air limbah yang dihasilkan yaitu : 298 liter/orang/hari untuk pendapatan tinggi, 185 liter/orang/hari untuk pendapatan sedang dan 149 liter/orang/hari untuk pendapatan rendah.

  2. Air Limbah Komersil dan Bangunan Umum

    Perkiraan air limbah komersil dan bangunan umum didasarkan pada rasio tata guna lahan untuk area rumah tangga dengan air limbah rumah tangga.

  3. Air Limbah Pariwisata

    Air limbah periwisata di sini merupakan air limbah yang dihasilkan dari hotel dan rumah makan. Air limbah hotel diperkirakan dengan mengalikan jumlah kamar hotel dengan unit air limbah yang dihasilkan. Unit air limbah yang dihasilkan yaitu : hotel bintang sebesar 1050 liter/hari/kamar, hotel non bintang sebesar 770 liter/hari/kamar dan rumah makan sebesar 22 liter/hari/tempat duduk.

  4. Air Limbah Industri

    Air limbah industri dikelompokkan dalam lima kategori dan diestimasi berdasarkan jumlah industri dikalikan dengan unit air limbah yang dihasilkan. Unit air limbah yang dihasilkan industri adalah sebagai berikut: industri makanan sebesar 0,010 m³/hari/juta Rp per tahun, industri tekstil sebesar 0,002 m³/hari/juta Rp per tahun, industri kerajinan sebesar 0,003 m³/hari/juta Rp per tahun, industri kimia bangunan dan industri umum sebesar 0,004 m³/hari/juta Rp per tahun, dan industry elektronik logam dan industry lain sebesar 0,017 m³/hari/juta Rp per tahun.

  5. Air Limbah Rembesan dan Tambahan

    Selain air yang masuk memalui limpahan, maka terdapat air hujan yang merembes ke dalam tanah. Apabila permukaan air tanah bertemu dengan saluran air limbah maka akan terdapat kemungkinan terjadi penyusupan air tanah ke saluran air limbah melalui sambungan pipa atau celah-celah yang ada karena rusaknya pipa salura. Besaran aliran ini diperkirakan sebesar 0,0094 m³ sampai 0,94 m³ setiap diameter (mm) setiap kilometer. Dengan demikian maka banyaknya air yang masuk ke dalam aliran air limbah yaitu sebanyak 1,0094-0,94 dikalikan dengan diameter pipa (mm) dikali lagi dengan panjangnya pipa (km) sehingga akan diperoleh jumlah air limbah dalam satuan m³.


Wilayah Pelayanan

Wilayah Pelayanan IPAL Suwung meliputi seluruh wilayah Kabupaten Badung dimana terdapat 2 sistem pelayanan yaitu dengan sistem perpipaan dan sistem holding tank.

Wilayah yang dilayani dengan sistem perpipaan di Kabupaten Badung seluas kurang lebih 660 Ha, yaitu Kelurahan Kuta 365 Ha dengan rencana sambungan pelayanan sebanyak 2500 buah pada akhir tahun 2014 dan Kelurahan Legian dan Seminyak seluas 295 Ha dengan jumlah sambungan yang sudah terpasang sebanyak 1860 buah. Tabel di bawah ini menyajikan uraian mengenai area pelayanan IPAL Suwung.

Sistem Holding Tank merupakan sistem pembuangan limbah dengan mempergunakan jasa truk tinja. Dari hasil pendataan yang dilakukan sejak bulan Maret tahun 2012 sampai bulan Agustus 2012 jumlah truk yang membuang limbah ke IPAL Suwung sebanyak 5.625 buah. Sehingga rata-rata jumlah truk yang masuk ke IPAL Suwung tiap bulannya sebanyak 938 truk atau sebanyak 31 truk/hari. Biaya yang dikenakan per m³ limbah sebesar Rp. 25.000/m3 dimana diperkirakan banyaknya muatan untu 1 (satu) truk tinja sebesar 2 m³ atau Rp. 50.000/truk. Sehingga dapat diprediksi jumlah limbah cair dan tinja yang dibuang ke IPAL Suwung melalui sistem Holding Tank perhari rata-rata 62 meter kubik per hari.

Di samping dilayani oleh perusahan penyedot tinja swasta, Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Badung juga melakukan hal yang sama. Dinas Kebersihan dan Pertamanan hingga saat ini hanya memiliki 1 buah truk penyedot tinja.


Kelembagaan Instalasi Pengolahan Air Limbah Suwung

Susunan organisasi untuk pengoperasian Instalasi Pengolahan Air Limbah seperti tercantum pada Peraturan Bersama Gubernur Bali, Bupati Badung dan Walikota Denpasar disajikan pada gambar berikut :

Peraturan terkait dengan Badan layanan umum pengelola air limbah terdiri dari Peraturan Bersama Gubernur Bali, Bupati Badung dan Walikota Denpasar tahun 2006 tentang Pengelolaan Bersama Sistem Air Limbah Perpipaan.


Teknologi Pengolahan Air Limbah Suwung

Teknologi pengolahan air limbah yang dipergunakan di IPAL Suwung merupakan pengolahan secara aerob. IPAL terdiri dari 2 buah kolam aerasi dan 2 buah kolam sedimentasi. Masing-masing kolam memiliki kedalaman 4 meter. Sistem aerasi digunakan dengan maksud untuk mengurangi kebutuhan luas lahan dan meningkatkan proses pengolahan menjadi lebih cepat sekaligus meniadakan bau yang mungkin timbul akibat proses oksidasi yang tidak sempurna. Kolam juga dilapisi geomembran dan geotextile untuk menghindari rembesan air limbah keluar dari kolam. Air hasil olahan memiliki BOD kurang dari 30 mg/liter lebih baik dari standar mutu air yaitu 50 mg/liter.

Kolam Aerasi

Kolam aerasi adalah kolam dimana limbah cair diperkaya dengan oksigen dengan bantuan aerator. Prinsip kerjanya adalah penambahan oksigen ke dalam air sehingga oksigen terlarut di dalam air akan semakin tinggi. Aerasi termasuk pengolahan secara fisika, karena lebih mengutamakan unsur mekanisasi dari pada unsur biologi. Prinsip kerjanya yaitu membuat kontak antara air dan oksigen. Tujuan mengaktifkan proses aerob pemecahan senyawa dan penjernihan air oleh bakteri yang memang sudah terdapat dalam limbah cair tersebut misalnya bakteri coli.

Kolam Sedimentasi

Kolam sedimentasi berfungsi untuk mengendapkan partikel-partikel yang telah diproses di kolam aerasi dan selanjutnya akan dibuang ke laut atau dimanfaatkan untuk menyiram tanaman.


Proses Pengolahan Limbah IPAL Suwung

Proses yang diterapkan pada sistem pengolahan IPAL Suwung menggunakan metode biologis yaitu:

  1. Pengolahan primer

    Merupakan pengolahan fisik yang bertujuan untuk memisahkan padatan kasar yang terdapat pada air limbah berupa sampah dan kayu, unit yang digunakan adalah bar screen. Bar screen dipasang sebelum air limbah ke sumur pengumpul agar sampah yang masuk tidak mengganggu sistem pemompaan pada sumur pengumpul.

  2. Pengolahan sekunder

    Merupakan proses biologis yang bertujuan untuk mendegradasi padatan terlarut yang mengandun bahan-bahan organik (C,H,O) dan nutrien (N,P) dengan bantuan mikroorganisme aerobic yang terdapat dalam limbah. Unit pengolahan yang sigunakan adalah aerated lagoon atau laguna aerasi. Adapun untuk memisahkan padatan-padatan yang mudah mengendap hasil dari proses aerasi pada bak laguna aerasi dan untuk menyempurnakan kualitas effluen maka air limbah harus diendapkan dengan menggunakan unit bangunan sedimentation pond atau bak sedimentasi.

Proses Pengolahan Limbah IPAL Suwung

Skema proses pengaliran limbah menuju IPAL Suwung dilakukan dengan 2 sistem yaitu sistem gravitasi dan sistem pompa. Untuk wilayah pelayanan Denpasar dan Kuta, air limbah yang dihasilkan langsung menuju stasiun pompa, sedangkan untuk wilayah Sanur menuju ke receiving tank (bak pengumpul). Air limbah yang berasal dari Denpasar dan Kuta disaring (pemisahan air limbah dan sampah) dengan menggunakan bar screen yang kemudian dipompa menuju receiving tank. Dari receiving tank dilakukan sistem overflow menuju 2 kolam aerasi yang terbagi secara otomatis.

Waktu yang diperlukan untuk pemrosesan air limbah di kolam aerasi selama ±5 hari dengan kapasitas air limbah 9.000-11.000 m³/hari (kondisi eksisting IPAL Suwung). Sedangkan kapasitas perencanaan sebesar 51.000 m³/hari dibutuhkan waktu selama 2 hari pemrosesan. Setelah waktu pemrosesan aerasi selesai dilakukan sistem overflow menuju kolam sedimentasi untuk memisahkan padatan dan air. Padatan akan mengendap pada kolam sedimentasi sedangkan airnya akan dibuang ke mangrove.

Untuk mengetahui kualitas air yang dibuang ke hutan mangrove, maka dilakukan tes kondisi air limbah setiap hari dengan mengambil 4 titik sampling yaitu 1 titik sampling pada intake, 2 titik sampling pada outlet dan 1 titik sampling pada holding tank. Holding tank merupakan pemrosesan air limbah yang diangkut dengan truk tinja. Sistem yang digunakan yaitu pengendapan. Air yang masuk ke dalam holding tank diendapkan selama 3 hari dan selanjutnya air akan masuk ke dalam receiving tank dan proses berikutnya sama dengan pengolahan di kolam aerator dan kolam sedimentasi.

Ada beberapa unit proses pengolahan air limbah pada IPAL Suwung, setiap unit bangunan terjadi proses pengolahan secara bertahap dari pengolahan secara fisik hingga pengolahan secara biologis. Dalam setiap tahapan proses pengolahan agar terjadi pengolahan sesuai dengan yang diinginkan maka dalam pengopersiannya harus sesuai dengan SOP yang telah ditentukan atau sesuai dengan yang telah direncanakan.


Biaya Pengelolaan IPAL Suwung

Pembiayaan pembangunan fisik IPAL Suwung dibagi berdasarkan tahapan pengerjaan proyek dengan bantuan dana dari beberapa instansi dan pihak swasta seperti :

Total biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan proyek IPAL Suwung Tahap I sebesar 88,3 milyar ditambah 5.400 juta JPY. Sedangkan untuk pembangunan Tahap II sebesar 104,95 milyar ditambah 6.004 JPY.

Dalam pengoperasian Instalasi pengolahan IPAL Suwung diperoleh alokasi dana dari beberapa pihak yaitu APBN, APBD I, Hibah Kota Denpasar dan Hibah Kabupaten Badung seperti tertera pada berikut. Alokasi dana untuk pengoperasian air limbah dilakukan dari tahun 2007. Selain dari APBN dan APBD I, alokasi dana BLUPAL ini juga diperoleh dari dana hibah Kota Denpasar dan hibah Kabupaten Badung yang dimulai pada tahun 2009.

Biaya Retribusi Pengolahan Limbah Cair Perpipaan

Sistem pemipaan air limbah (DSDP I) telah beroperasi sejak awal tahun 2008 dengan area pelayanan di Kota Denpasar, Kawasan Wisata Sanur, Legian dan Seminyak di Kabupaten Badung. Jumlah pelanggan yang terdata sampai tahun 2010 sebanyak 7000 pelanggan yang terdiri dari rumah tangga, bangunan toko, rumah makan, hotel, perkantoran dan fasilitas umum. Perluasan area pelayanan pengolahan limbah cair (DSDP II) sedang dilaksanakan dengan jumlah sambungan sebanyak 7500 unit.

Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Bali No. 2 Tahun 2011 Tentang Retribusi Jasa Umum, pihak pengelola air limbah cair DSDP melaksanakan pemungutan jasa layanan terhitung mulai September 2011. Pembayaran yang dilakukan oleh pelanggan sesuai dengan klasifikasi jenis pelanggan seperti pada tabel berikut :

Target yang ingin dicapai dari pembayaran retribusi pengolahan limbah cair pada tahun 2011 sebesar 1,2 milyar dengan realisasi sebesar Rp. 94.560.000. sedangkan target pada tahun 2012 sebesar 3,4 milyar.


Kualitas Air Olahan IPAL Suwung

Beberapa parameter yang ditetapkan untuk diukur pada air hasil olahan IPAL Suwung adalah: Biology Oxygen Demand (BOD), Derajat Keasaman (pH), Suhu, Dissolved Oxygen (DO), Chemical Oxygen Demand (COD) dan Total Suspended Solid (TSS). Data rata-rata per tahun dapat dilihat pada tabel berikut :

Hasil tes air hasil olahan dari IPAL Suwung masih dibawah rata-rata maksimal diperbolehkan standar kualitas air untuk air limbah.

Advertisements

3 thoughts on “Sanitasi – Analisis Pengelolaan Air Limbah (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s