Kisah Kura-Kura dan Angsa

Ada sepasang Kura-kura dan Angsa yang hidup di sebuah telaga yang bernama Telaga Kumudawati. Telaga itu sangat indah serta banyak bunga berwarna-warni tumbuh di sana.

kura kura

Kura-kura yang jantan bernama Durbhuddhi dan yang betina bernama Katcapa, sementara Angsa yang jantan bernama Cakrengga dan yang betina bernama Cakrenggi. Kedua pasangan hewan itu sudah lama bersahabat.

Musim kemarau telah tiba, di telaga telah mulai mengering. Kedua angsa akan berpamitan dengan sahabatnya kura-kura karena angsa tidak bisa hidup tanpa air. Maka sepasang angsa itu meninggalkan Telaga Kumudawati menuju Telaga Manasasaro di pegunungan Himalaya.

Kura-kura tidak bisa melepaskan kepergian kedua sahabatnya itu. Akhirnya kura-kura memutuskan untuk ikut bersama dengan angsa. “Cakrengga! Cakrenggi! Bolehkah kami ikut dengan kalian?” tanya Durbuddhi.

“Ya, kami sanggup berpisah dengan kalian,” sambar Katcapa.

“Bagaimana Cakrengga?” tanya Cakrenggi kepada pasangannya.

Cakrengga berpikir sejenak, “Boleh saja. Asal kalian mau menuruti peraturanku selama perjalanan nanti, bagaimana?” Sepasang kura-kura itu mengangguk serentak. “Aku dan Cakrenggi akan memegang sebuah kayu, dan kalian harus menggigitnya,”

“Kalian jangan lengah selama perjalanan nanti,” ucap Cakrenggi menambahkan. “Jangan sekali-kali berbicara dan jangan melihat di bawah, atau jika ada yang bertanya jangan sekalipun menjawab,” lanjutnya.

Sepasang angsa itu pun memegang kayu, dan sepasang kura-kura menggigit kayu tersebut. Menggigit kayu adalah cara kura-kura untuk berpegangan. Cakrengga dan Cakrenggi pun mulai mengepakan sayapnya, kemudian terbang tinggi.

Setelah tepat berada di tanah lapang Wila Jenggala, ada sepasang anjing srigala yang berlindung di bawah pohon mangga. Srigala jantan bernama Si Nohan, dan srigala betina Si Bayan.

Srigala betina melihat ke atas, dilihatnya angsa terbang membawa sepasang kura-kura. Lalu Si Bayan berkata pada suaminya, “Ayah, cobalah lihat ke atas betapa aneh angsa terbang membawa sepasang kura-kura!”

“Itu bukan kura-kura, tetapi itu kotoran sapi.” jawab Si Nohan.

Percakapan itu terdengar oleh sepasang kura-kura dan membuat keduanya kesal. Durbuddhi dan Katcapa mengoceh, gigitan mereka terlepas pada kayu. Akhirnya kura-kura itu jatuh dan menjadi makanan srigala.

Sepasang angsa merasa kecewa. Cakrengga dan Cakrenggi sangat menyayangkan mengapa kura-kura tidak mau mendengar nasehatnya

Pesan Moral :

Hidup harus menyeimbangkan antara rasional dan emosional. Emosional selalu membawa kepada kehancuran. Betapa banyak kegagalan diakibat oleh keputusan yang emosional, apa lagi tidak didasari oleh keimanan.

Advertisements

One thought on “Kisah Kura-Kura dan Angsa

  1. Pingback: Dharma Wacana – Saraswati | ...blog nak belog...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s