Sapuh Leger – Tatwa dan Susila

Pangruwatan Wayang Sapuh Leger – Bagi Yang Lahir Pada Wuku Wayang.

Berdasarkan ceritra tersebut di atas dan adanya keyakinan yang mendalam kepada wuku Wayang adalah wuku katadah Kala, yang merupakan wuku cemer, yang nantinya dapat memberi pengaruh pada watak dan kerakter orang yang lahir pada wuku tersebut.

Kayonan

Dalam kehidupan di masyarakat sering terjadi suatu peristiwa yang di luar akal sehat. Adanya orang bertabiat yang kurang baik, ada pula yang sakit tak tentu, ada yang menangis menjerit-jerit di malam hari. Dibawa ke dokter sudah, dengan obat tradisional juga sudah, tetapi belum nampak adanya kemajuan, sering kali orang akan mencari jalan dengan cara “meluasan/matuun” kepada Balian Katakson. Jika beliau Hyang Widhi dan Bhatara-Bhatari leluhur perkenan (sueca), maka akan ada bayangan untuk “malukat“. Jika otonannya jatuh pada wuku Wayang/Ringgit, perlu mendapatkan panebasan dengan Tirtha Wayang Sapuh Leger. Tirtha Wayang Sapuh Leger adalah Tirtha Pangruwatan bagi orang-orang yang lahir pada wuku Wayang.

Jika tidak dilukat akan mempunyai watak atau karakter yang keras hati, tak perduli sama orang lain, atau anak itu sakit-sakitan, sukar sembuh, pendek umur dan sebagainya. Hal ini diungkapkan dalam buku Cudamani Tari Wali, karangan Drs. I Gusti Agung Gde Putra. Wuku Wayang itu wuku Cemer, karena pada wuku inilah terjadi pertemuan yang tidak wajar Bhatara Siwa Guru dengan Dewi Uma.

Sebagai lambang pangruwatan dalam pementasan wayang Sapuh Leger, sebagai lambang “ngruwat” atau “nglukat“, adalah Twalen (Ismaya), Acintya dan Kayonan. Lambang apakah ketiga tokoh wayang tersebut ?

Maka pangruwatan itu amat penting karena di dalamnya ada unsur doa yang disertai dengan upakara bebanten. Salah satu cara mengharmoniskan hubungan Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit adalah melalui yadnya dan doa.

Pangruwatan Sapuh Leger dapat dilakukan seorang diri saja namun dapat dilakukan secara massal, namun perlu juga mengingat tradisi di masyarakat Hindu di Bali. Ada upacara yang khusus bagi perseorangan dan ada juga yang berlaku untuk semua orang, atau disesuaikan dengan Iksa (pertimbangan), Sakti (kekuatan), Desa (tempat), Kala (waktu) dan Tattwa (kebenaran).


Nilai-Nilai Yang Terkandung Dalam Pangruwatan Wayang Sapuh Leger

Sesuai dengan krangka agama Hindu, yakni Tattwa, Susila dan Upakara. Maka itu setiap pelaksanaan ajaran agama Hindu di Bali, tidak bisa dilepaskan dengan Tri Karangka tersebut. Karena pelaksanaan dari Pangruwatan Wayang Sapuh Leger, bertitik tolak dari sumber sastra tersebut di atas, maka nilai-nilai itu diambil dari lambang-lambang yang ada, yang merupakan pencerminan Tattwa, Susila dan Upakara.


Tattwa

Berbicara mengenai Tattwa yang terkandung dalam uraian di atas, bahwa wuku Wayang adalah wuku katadah Kala, wuku yang cemer. Hal itu dikisahkan dalam pertemuan Bhatara Siwa dengan Bhatari Giriputri, yang tidak mengikuti aturan/petunjuk agama. Kalau memperhatikan kitab Wrehaspati Tattwa, Samkhya Yoga yang berlandaskan konsepsi Monodualisme atau disebut Konsepsi Rwa Bhineda. Yang merupakan pertemuan Purusa (Siwa) dengan Pradhana (Dewi Uma), hendaknya terjadi secara seimbang/harmonis maka akan menciptakan sesuatu yang baik pula. Hal ini memberikan gambaran kepada kita agar selalu menjaga keseimbangan antara sekala dan niskala, Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit.

Upacara Pangruwatan Wayang Sapuh Leger, diperuntukkan bagi anak-anak/orang yang telah berumur lebih kurang 7 tahun atau secara tradisi agama di Bali, yakni setelah tanggal gigi/makupak. Hal ini dapat merujuk keterangan di atas, yakni anak yang telah berumur 7 tahun/sudah makupak, sudah dianggap dewasa dan telah tahu wiweka mempertimbangkan yang baik dan buruk, walaupun dalam taraf permulaan. Kebiasaan di Bali orang menentukan umur itu dipakai otonan, karena otonan datangnya 6 bulan sekali (210 hari), jadi umur 7 tahun berarti 14 oton. Demikian juga ditentukan dengan makupak/tanggal gigi, ingat Bhatara Kala untuk mengenal jati dirinya yakni orang tuanya, maka harus menanggalkan taring (gigi) nya. Kira-kira hal itulah yang menjadi acuan tentang batas umur anak/orang yang sebaiknya mendapatkan Pangruwatan.

Bhatara Kala selalu mengejar Sang Rare Kumara untuk dimakan. Mengejar dalam hal ini dapat diartikan bahwa siapa saja yang terus-menerus mengejar keduniaan/khususnya makan daging dan sejenisnya akan memberi pengaruh kepada watak atau karakter seseorang. Makanan yang bersifat Rajas, akan memberi pengaruh Rajas pula; makanan yang bersifat Tamas, juga akan memberi pengaruh watak yang Tamas (malas) dan makanan yang bersifat Sattwam, akan memberi pengaruh kepada watak seseorang, maka ia akan selalu berbuat Dharma (ingat ajaran Resi Bhisma).

Keselamatan Bhatara Siwa dan Dewi Uma, tatkala dihadang oleh Bhatara Kala untuk dimakan. Bhatara Siwa mengeluarkan jyana (samyakjnana) atau pengetahuan yang tinggi (Para Widya) dengan mengeluarkan sloka. Sloka adalah syair pujaan yang mengandung nilai-nilai kerokhanian yang tinggi. Mengapa Bhatara Kala tidak mampu menterjemahkan Sloka itu, karena kealpaannya (awidya). Mata ketiga atau Tri Netra Siwa adalah perwujudan dari suatu kemampuan kesucian, sebagai mata bathin, untuk mengetahui hakekat dunia ini. Maka itu kita dalam melakukan persembahyangan lebih tatkala menerima Panglukatan, mendapatkan bija, yang ditaruh disela-sela kening, sebagai lambang mata bathin/kesucian

Dalam pementasan Wayang Sapuh Leger, tatkala pembuatan/memohon Tirtha Pangruwatan, memakai tiga wayang, yakni : Twalen, Acintya dan Kekayonan. Untuk hal ini para Dalang yang mengetahuinya. Karena Dalang itu disebut “ngudal piwulang” mengupas dan menguraikan ajaran-ajaran, yakni ajaran kebenaran, terutama pasuk wetuning Sanghyang Atma (Tutur Tattwa Kalamaya).


Susila

Kata susila, berarti tingkah laku yang baik dan dalam bahasa keagamaan khususnya Agama Hindu, dikenal dengan istilah Sasana. Sasana itu adalah tata cara/aturan, pengendalian diri. Sasana itu berarti tata aturan pengendalian diri, yang sesuai dengan petunjuk sastra agama. Sasana dalam agama Hindu mempunyai 2 tingkatan, yakni memberikan tuntunan dalam membentuk dan membina watak moral manusia, untuk menjadi anggota keluarga, anggota masyarakat yang baik, menjadi putra bangsa dan menjadi manusia yang berpribadi yang luhur serta mulia, untuk mencapai kebahagiaan. Selain dari pada itu sasana juga menuntun seseorang untuk mempersatukan dirinya dengan makhluk sesamanya dan akhirnya menuntun mereka untuk mencapai kesatuan jiwatmanya dengan Paramatma.

Bertitik tolak dari ceritra tersebut di atas, yakni pertemuan Bhatara Siwa dengan Dewi Uma, yang menjalin asmara tidak pada tempatnya dan waktu yang tepat, menyebabkan lahirnya Bhatara Kala, yang berwujud raksasa.

Apa yang diperbuat pada waktu itu dengan berlandaskan nafsu semata-mata, tanpa mempertimbangkan hari baik dan buruk (wariga), lebih-lebih dalam mendapatkan putra yang suputra. Untuk itu memberikan bayangan kepada kita selaku umat beragama, supaya berhati-hati dalam melakukan hubungan seksual, sebagai bahan pertimbangan, maka dapat dirujuk uraian kitab suci Sarasamuscaya, yang menyatakan sebagai berikut :

“Nihan tacaranika sang brahmana, yan ring amawasya, catur dasi, ring purnama, ring astame kala kuneng, brahmacarya juga sira, haywa pareking stri, ngaraning brata samangkana, Amretasnataka”.

(Inilah sebenarnya kesusilaan bagi yang disebut Brahmana, jika pada waktu tilem (amawa), purwani (catur dasi), purnama, pananggal/panglong delapan, sepatutnya berlaku brahmacari, jangan dekat (berhubungan badan) dengan istri, itulah yang disebut Brata Amretasnataka). Utsaha ta larapana.

Hubungan Bhatara Kala, Bhatara Siwa, Dewi Uma dan Sang Rare Kumara, adalah hubungan orang tua dengan anaknya. Jika masing-masing telah menjalankan swadharma, maka kesejahtraan dan kebahagiaan akan tercapai.

Kita pada hakekatnya selalu memohon perlindungan kepada Bhatara Kala, yang selalu menjaga keharmonisan hubungan dengan sesama, khususnya dalam keluarga, yakni kita puja beliau pada sebuah Palinggih di Barat Laut yang disebut Panunggun Karang, yakni sthana Sanghyang Kalaraksa.

Untuk bahan renungan, kami sampaikan ceritra pawayangan Sapuh Leger (mungkin tidak terkenal).

Manut carita pawayangan Sapuh Leger, wenten aras-arasan katuturan kadi ring sor puniki, nuju dina saniscara kliwon wuku wayang sane kabaos tumpek wayang, embas Ida Sang Sudha. Manut panugrahan ida Bhatara Siwa, nyen ja lekad ri nuju wuku wayang, pamekas tumpek wayang, dadi katadah antuk sang Kala, ida Sang Sudha sane embas ri nuju tumpek wayang, binuru antuk sang Kala pacang katadah, Kapilayu melaib ngengkebang raga, mangda tan kawasa tinemu olih sang Kala. Kabirit-birit malaib kema mai sembari ngruruh tongos mengkeb. Ida Dewi Adnyawati arin Ida Sang Sudha, marasa sungsut ring kayun, nyingak rakan ida kaburu pacang katadah. Raris ida Dewi Adnyawti ngeka upaya, mangda sida nulungin rakanida, tangkil ring Sang Arjuna Sahasrabahu ring panagara Mayaspati, saha mapinunas mangda ida Sang Prabu ledang matetulung nangkepin Sang Kala. Gelising carita mayuda ida Sang Arjuna Sahasrabahu nangkepin Sang Kala. ring sajroning payudan, kaon ida Sang Kala matangkep ring payudan, yadiastu sampun kaon, Sang Kala nenten kasedayang, meh-meh kaicen genah marupa Palinggih olih ida Sang Prabu, sarwi ngandika : “Hai Sang Kala, mangke ring Wayabya unggwanta huwus ta kita angrubeda. Nah uli sekat ento ada palinggih kaja kauh madan Panunggun Karang, linggih Sanghyang Kala, ngraksa kahuripanne sakula warga, sajeroning karang pomahan.

Napi suksmanne katur ring ida dane para rumawos.


Kesimpulan

  1. Sumber ajaran Wayang Sapuh Leger, adalah Kala Tattwa, Capa Kala, Siwagama, Geguritan Sapuh Leger dan yang lainnya.
  2. Anak/orang yang lahir pada wuku Wayang, sepatutnya mendapatkan Pangruwatan Wayang Sapuh Leger, setelah mereka berumur 7 tahun atau telak makupak.
  3. Panglukatan Wayang Sapuh Leger, dapat dilaksanakan perseorangan atau dapat juga massal.
  4. Peranan Dalang Sapuh Leger sangat penting, karena pada dirinyalah akan lahir Tirtha Pangruwatan tersebut.
  5. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pangruwatan tersebut, adalah Nilai Tattwa, Nilai Susila dan yang lainnya.
  6. Upakara berpedoman pada Bebacakan Banten Sapuh Leger


Saran

Di dalam pelaksanaan yang bersifat massal, hendaknya perlu diperhatikan Banten Tebasan bagi masing-masing orang sesuai dengan hari lahirnya. Maksudnya jika orang yang lahir pada Redite Wage, maka jumlah uripnya 9 (Redite = 5, Wage = 4); Soma Kliwon, uripnya 12 (Soma = 4, Kliwon = 8); Anggara Umanis, uripnya = 8 (Anggara = 3, Umanis = 5); Buda Paing, uripnya 16 (Buda = 7, Paing = 9); Wrespati Pon, uripnya 15 (Wrespati = 8, Pon = 7); Sukra Wage, uripnya 10 (Sukra = 6, Wage = 4); Saniscara Kliwon, uripnya 17 (Saniscara = 9; Kliwon = 8). Sebab banten Tebasan itulah yang akan “diayab” oleh masing-masing peserta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s