Sapuh Leger – Pengertian Otonan

Pendahuluan

Masyarakat Bali yang menganut agama Hindu, selalu melakukan kegiatan upacara yadnya, sebagai pertanda hormat dan bhakti kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa dan bhatara-bhatari yang telah “amoring acintya“. Dengan tujuan untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagian hidup. Itulah sebabnya, hampir tak putus-putusnya melakukan kegiatan upacara, seperti : banten jotan (masaiban), canang, daksina, nelu bulanin, ngotonin, masakapan, ngodalin dan banyak lagi adanya upacara agama yang lainnya. Hal ini sebagai bukti orang Bali yang beragama Hindu sungguh-sungguh untuk menciptakan kasukertaning Tri Hita Karana, bhuwana alit dan bhuwana agung.

Pementasan Wayang Sapuh Leger

Perwujudan rasa hormat dan bhakti kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa dan bhatara-bhatari, terbukti dengan dengan tahapan-tahapan upacara Dewa Yadnya di Sanggah Pamarajan, Pura-pura, semuanya mengikuti padewasan atau dewasa ayu. Demikian juga rasa hormat “salunglung sabhayantaka” dengan sesama, baik dalam keluarga, banjar maupun desa. Dalam kegiatan suka maupun duka selalu dikerjakan bersama-sama sebagai pertanda sikap gotong royong saling bantu membantu.

Disamping itu adanya suatu kepercayaan bahwa hidup lahir ke dunia maya ini adalah merupakan suatu kesempatan untuk berbuat baik, karena sadar bahwa yang hidup di dunia tidak bisa terlepas dari peredaran “tri kona“, yaitu hidup, lahir dan mati. Sehingga ada tanggapan bahwa orang yang lahir/samsara, telah membawa bekal dari alam sana, yang sering disebut karma wasana yakni bekas-bekas perbuatan dalam kehidupan yang lampau. Demikian juga perwatakan manusia dapat pula dipengaruhi oleh hari kelahirannya. Maka hal ini dalam pustaka suci ada yang khusus menguraikan hal itu yakni lontar Wrehaspatikalpa, Palelintangan dan Wariga. Peringatan terhadap hari lahir tersebut di Bali disebut Ngotonin, yang datangnya 210 hari sekali.

Ngotonin adalah kata kerja yang berasal dari kata “oton” yang menjadi otonan, disebut juga wedalan atau odalan. Otonan, wedalan atau odalan adalah salah satu upacara Manusa Yadnya, yang sudah umum dilakukan oleh umat Hindu (Bali), di manapun mereka berada. Tetapi, kendatipun umum dan lumrah, mungkin masih diperlukan satu uraian atau penjelasan mengenai maksud dan tujuannya, sehingga kelumrahan yang dangkal itu menjadi semakin mendalam. Makin mendalamnya pengertian akan mengakibatkan semakin mantap cara melaksanakannya.

Kata oton (menjadi otonan), berasal dari kata “wetu” yang artinya keluar atau lahir. Dari kata itu sendiri mudah dimaklumi, bahwa otonan, wedalan atau odalan, adalah salah satu upacara hari pawedalan, hari lahir atau hari ulang tahun kelahiran. Tegasnya hari peringatan lahirnya seseorang, ditandai dengan suatu upacara, menurut petunjuk ajaran agamanya masing-masing. Upacara semacam ini tidak hanya dimiliki oleh umat Hindu (Bali) saja, tetapi oleh semua umat. Tujuannya mungkin sama, tetapi yang jelas bahwa masing-masing Agama dan peradaban mempunyai petunjuk-petunjuk masing-masing, bagaimana segi upacaranya dan tarih apa yang dijadikan patokan.

Bagi agama Hindu di Bali petunjuk soal otonan, tercantum dalam beberapa lontar, seperti : Dharma Kahuripan, Eka Prathama, Padhu Kama dan lain-lainnya, yakni lontar-lontar yang membicarakan masalah Manusa Yadnya. Otonan adalah salah satu dari Manusa Yadnya (…… aweh amangan ring karaman, angaci-aci angga sarira, saking patemwaning pawarangan).

Hari upacara otonan dilaksanakan berdasarkan atas Pawukon dengan wewarannya. Sehingga terjadinya otonan dari seseorang datang berulang kali setiap 6 bulan atau 210 hari. Seumpama seseorang yang lahir Redite Umanis Wukir, maka ia akan berturut-turut membuat upacara otonan pada setiap datangnya hari Redite Umanis Wukir tersebut. Tidak dihitung tanggal dan bulan apa dalam perhitungan Masehi, asal wuku Wukir, Redite Umanis itulah hari kelahirannya. Maka dibuatkan upacara peringatan hari lahirnya itu betapa patutnya. Demikian juga otonan dipakai dasar untuk menentukan umur dari seseorang. Perhitungan ini hingga kini masih berlaku di Bali.

Selanjutnya, menurut petunjuk-petunjuk lontar-lontar di atas, dinyatakan bahwa otonan seseorang dibeda-bedakan sebagai berikut :

  1. Sejak oton ke-1 hingga ke-3 (tiga oton).
  2. Sejak oton ke-4 hingga sebelum tanggal gigi/makupak (kira-kira umur 6 tahun).
  3. Otonan sejak tanggal gigi/makupak dan selanjutnya.

Perbedaan dari ke tiga jenis otonan itu terutama terletak pada jenis widhi widhananya yang dipergunakan pada tiap-tiap tingkat dari otonan tersebut. Berbeda jenis widhi widhananya/bebantennya, terang berbeda pula puja astawanya (saa) yang digunakan dan ini memberikan arti adanya kekhususan makna dan tujuan masing-masing dari upacara otonan itu.

Apakah widhi widhana dari masing-masing tingkatan otonan itu ?


Widhi Widhana/Bebanten Umum

Pada semua tingkatan otonan, dari yang ke-I sampai yang terakhir, termasuk pula bagi otonan orang yang telah tua, maka akan terdapat bebanten, yang bernama Panyeneng. Dari kata Panyeneng dapat diambil kesimpulan bahwa ia adalah suatu perlambang/perwujudan dari cipta, dalam mendoakan yang bersangkutan agar selama “nyenengnya” (hidupnya) mendapatkan kenikmatan hidup dan penghidupan. Wujud dari Panyeneng itu berbentuk “sampean“, dengan keistimewaannya memakai tiga ruangan (tangkih) yang dipersatukan.

Masing-masing tangkih itu berisi :

  1. Suatu lumatan daun dapdap dan beras/tepung (disebut tepung tawar)
  2. Sesarik (beras/bija dan
  3. Tetebus (benang).

Penyeneng ini biasanya beralaskan seikat uang kepeng (pis bolong) disebut juga andel-andel dan beras yang ditaruh pada sebuah bokor/dulang. Maksud dari upakara ini adalah sebagai perlambang/perwujudan doa menciptakan yang dioton, supaya hidupnya bahagia dan sehat walafiat.

Memperhatikan bahan-bahan terutama mendengar ucapan doa (saa) para ibu-ibu, ketika ngotonin putra-putrinya, kiranya dapatlah diartikan masing-masing sebagai berikut :

  1. Tepung tawar (lumatan daun dapdap dan tepung beras). Bahan-bahan aslinya adalah bahan-bahan obat. Tepung tawar ini dijalankan pada awal mula akan natab, dengan saa “Cening matepung tawar apang tedas bersih ening“. Suatu perlambang/perwujudan dari doa cipta ingin membersihkan, mensterilkan atau menyehatkan.
  2. Sesarik (beras bija). Dijalankan setelah tepung tawar dan matirtha, dengan antaran doa : “Tebel tanah, tebel langit, tebelan tuwuh ceninge, ngantiang matungked bungbung, ngantiang batu makocok, apang cening nugtugang tuwuh“. Bahannya beras, pangan untuk hidup. Saanya panjang umur.
  3. Tetebus (benang). Mula-mula sehelai benang digelangkan pada pergelangan tangan kanan, saa : “Cening tusing magelang benang, cening magelang wesi wresani, mawat kawat mabalung wesi“. Semua melambangkan kekuatan dan keberanian. Tetebus ke dua (sehelai benang), ditaruh di atas ubun-ubun, dihantar doa/saa : “Nyuwun ancak, nyuwun kroya, nyuwun atma juwita satak solas“. Benang adalah bahan sandang, dimaksud agar mendapatkan kecukupan upabhoga dan paribhoga, maka pertama-tama ditujukan kepada badan. Ke dua diperingatkan juga, betapa beratnya tugas-tugas hidup di dunia ini, yang laksana menjunjung pohon ancak (bodi) dan kroya (sejenis beringin), sungguh berat, tetapi bernilai mulia dan agung.


Oton Masa Bayi

Pada otonan yang ke-1 sampai dengan yang ke-3, terdapat widhi widhana/bebanten yang khusus bernama “Dapetan“. Demikian pula pada waktu baru lahir bayi tersebut, dibuatkan juga bebanten yang disebut Dapetan, yang ditempatkan di hulu tempat bayi itu tidur. Tetapi sejak oton ke empat dan selanjutnya bebanten yang demikian tidak terdapat lagi. Kiranya tidaklah sukar kalau disimpulkan, bahwa Dapetan (banten khusus) untuk otonan mempunyai arti : perwujudan rasa kegembiraan dalam memproleh sesuatu. Baik dari sudut orang tua demikian juga si anak yang lahir/maoton. Menurut para bijaksanawan, bebanten Dapetan adalah perlambang yang memiliki arti sebagai berikut :

  1. Wujud rasa gembira dari orang tua, bahwa telah mendapatkan keturunan, dengan adanya keturunan berarti nantinya ada yang akan membantu di hari tua dan adanya pelanjut keturunan.
  2. Bagi si bayi/anak itu sendiri, Dapetan adalah perlambang, bahwa ia mendapatkan sesuatu yang maha penting, yakni mendapatkan kesempatan hidup di Mercapada, yang juga berarti mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan martabat (jiwa)-nya, dengan usaha untuk melakukan perbuatan baik berdasarkan dharma.


Oton Masa Kanak-Kanak

Jenis otonan sejak yang ke- 4 sampai pada otonan anak yang belum tanggal gigi, dapatlah dikatakan Otonan Masa Kanak-Kanak, ini biasanya berlaku sampai otonan yang ke-12. Masa ini banten Dapetan tidak dibuat lagi dan kini widhi widhana/bebantennya yang utama adalah “Sambutan“. Banten Sambutan itu adalah banten yang berisi “Tulung“. Pada waktu Panyambutan diayabkan kepada anak yang dioton, diiringi dengan saa, sebagai berikut : “Cening natab isin jong isin perahu, luas matalang, teka manyangkil manyuwun, kija luas kija laku apang ada anak nulungin“.

Bila direnung-renungkan kira-kira dapatlah disimpulkan bahwa Panyambutan, Tulung dengan saa itu berarti :

Kalau pada masa bayi seseorang lahir ke dunia ini dengan cara pasif, seolah-olah batu atau benda lain yang jatuh begitu saja ke dunia ini. Maka pada masa kanak-kanaknya maka mulailah ia beraksi dan berbuat terutama belajar menyesesuaikan diri dengan dunia ini. Pendeknya, belajar memetik pengalaman untuk bekal hidup di dunia maya ini. Ia datang dari dunia/alam lain, ia masih kosong, bersih, suci atau “luas matalang“. Maka di sini (dunia maya) ini ia akan melihat 1001 macam soal dan keadaan yang banyak macamnya, laksana “isin jong isin perahu“. Untuk belajarnya ini ia memerlukan 1001 macam pertolongan pula, yakni dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Maka dengan menekankan arti yang demikian itu bahwa kita memesankan kepada si anak, agar ia bersiap-siap untuk bereaksi “menyambut” kehidupan di dunia ini. Kehidupan dunia yang penuh dengan bermacam-macam soal. Juga ditekankan bahwa ia masih membutuhkan bermacam-macam pertolongan. Sudah tentu pertolongan yang pertama dan utama akan didapat dari orang tua si nak tersebut. Jelaslah kiranya bahwa dengan menasehati dan memesankan mereka itu, baik yang perlu ditolong, maupun yang wajib menolong, ditanamkan rasa kekeluargaan, rasa hidup bergotong royong, yaitu yang berdasarkan cinta kasih kemanusiaan yang seluhur-luhurnya. Demikianlah sejak kanak-kanak dengan perlambang “Panyambutan dengan Tulungnya“, ajaran kesusilaan Agama sudah mulai dilakukan kepada si anak.


Oton Dewasa

Dalam hubungan dengan jenis otonan, anggapan dewasa bagi seorang umat Hindu di Bali, berbeda dengan anggapan-anggapan yang lain. Sedangkan bagi masyarakat umum, masyarakat hukum dan sebagainya, menganggap seseorang disebut dewasa, ialah pada usia 14 tahun ke atas. Maka dalam hubungan dengan otonan jauh lebih muda dari itu.

Bahwa seorang anak yang berusia 6 sampai 7 tahun, yakni dengan patokan sejak tanggal giginya, sudah diberi otonan Dewasa. Bebanten yang pokok pada tingkatan ini adalah “Biakala dan Tetebasan“. Sebenarnya sejak berusia 6 – 7 tahun, anak itu telah mulai aktif hidup di dunia ini. Hidup secara aktif menurut ajaran agama Hindu, ialah hidup dengan berbuat, hidup dengan berkarma. Sudah tentu karma itu ada yang baik, ada yang buruk, subha dan asubha atau hala dan hayu. Dalam umur tersebut seorang anak sudah tahu mana yang baik dan mana yang buruk, walaupun dalam hal-hal yang sangat bersahaja. Dan sebagian dari karmanya itu, sesungguhnya didorong oleh kemauan-kemauan tertentu. Karena itu sejak berumur sekian itu ia telah hidup aktif di dunia ini. Berkarma hala dan hayu, berarti pula akan menerima pahala hala dan hayu. Pada masa bayi dan anak-anak hidup secara aktif ini belum dikenal. Mulai bisa berkarma hala, berarti telah mulai dihinggapi oleh “keletehan hati” dan mempunyai nafsu.

Karena itu pada otonan orang dalam tingkatan ini mulai tampak adanya bebanten Biakala atau Bhayakala, dengan ini dilambangkan bahwa orang yang bersangkutan hendaknya berusaha memerangi “Kala” atau “keletehan hati

Tetebasan adalah suatu sesajen yang dilingkari oleh wakul-wakul kecil/celekontongan. Banyaknya wakul/celekontongan ini adalah sama dengan urip hari otonannya, yakni jumlah urip Saptawara dan Pancawaranya. Wakul/celekontongan yang banyaknya menurut jumlah urip hari pawetonan, adalah lambang, bahwa orang yang bersangkutan hendaknya berhati-hati, terhadap pengaruh baik dan buruknya Sang Hari. Celekontongan bermakna memudarkan pengaruh-pengaruh bintang yang buruk dan menguatkan segi-segi yang baik.

Tetebasan, sebagai namanya adalah penebus dari dosa-dosa yang diperbuat oleh orang yang beroton itu.

Maka itu suatu keyakinan umat Hindu di Bali, setelah mereka tanggal gigi/makupak, barulah mereka boleh melakukan Panebasan Oton, sesuai dengan petunjuk lontar yang ada. Lebih-lebih mereka yang lahir pada wuku Wayang, yang dianggap “wuku katadah Kala“, yang sangat besar memberi pengaruh kepada karakter atau watak anak tersebut. Kala yang dilambangkan sebagai raksasa adalah makhluk yang bengis, garang dan “nyapa kadi aku“. Oleh karena itulah orang yang lahir pada wuku Wayang, menurut sastra/lontar di Bali, sepatutnya melakukan penyucian/pengruwatan dengan Wayang Sapuh Leger.

Sesuai dengan apa yang telah diuraikan di depan, bahwa pada hakekatnya banten-banten pokok pada otonan, tidak akan merupakan tambahan biaya yang banyak jika dibandingkan dengan biaya dapur yang sehari-harinya. Sebab isinya adalah sekedar nasi dengan lauk pauknya, bersama jajan dan buah-buahan. Isi dari banten pokok itu hampir sama dengan santapan orang sehari-hari, yang pada akhirnya layudan/surudan dari banten itu dapat disantap oleh yang bersangkutan.


Permasalahan

Pangruwatan Wayang Sapuh Leger, yang dikaitkan dengan suatu penyucian yang dilakukan oleh seorang Dalang, yang telah memahami tentang hakekat dari Wayang Sapuh Leger. Yang mana Dalang yang akan memerankan peran yang penting dalam pementasan dan upakara yang harus dipersembahkan dalam pertunjukkan tersebut. Demikian juga berdasarkan ceritra-ceritra yang dihubungkan dengan kelahiran Sanghyang Kala. Untuk itu yang menjadi permasalahan, antara lain :

  1. Apakah anak yang lahir pada wuku Wayang harus dilukat dengan Tirtha Panglukatan Wayang Sapuh Leger?
  2. Apakah Pangruwatan hanya untuk perseorangan ?
  3. Nilai-nilai apa yang terkandung dalam Pangruwatan Wayang Sapuh Leger ?
Advertisements

2 thoughts on “Sapuh Leger – Pengertian Otonan

  1. Terimakasih atas penjelasannya, mohon ijin untuk mengcopy penjelasan ini sebagai pegangan dalam melaksanakan upacara otonan bagi kami sekeluarga. somoga dharma baik ini mendapatkan pahala dariNYa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s