Pengertian Pura

Istilah Pura yang dipakai sekarang sebagai nama tempat suci bagi umat Hindu. Berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu dari urat kata “pur” yang berarti kota, benteng atau kota yang berbenteng. Pura sebagai istilah nama tempat suci, agaknya timbul belakangan. Sebelum dipergunakan kata Pura untuk menyebut tempat suci, dipergunakan istilah Hyang, Kahyangan atau Parhyangan.

Disebutkan tatkala masa pemerintahan Raja Erlangga di Jawa Timur (1019-1042 M), datanglah Mpu Kuturan ke Bali dari Jawa Timur. Di Bali beliau mengajarkan perihal membuat Parhyangan atau Kahyangan Dewa, baik yang disebut dengan Sad Kahyangan maupun Dang Kahyangan. Konsepsi yang diajarkan beliau lebih dikenal dengan konsepsi Gedong dan Meru. Bali pada saat itu diperintah oleh Raja Marakata yaitu adik Raja Erlangga.

Dalam jaman Bali Kuna dalam arti sebelum kedatangan Dinasti Dalem di Bali atau sebelum Bali ditaklukan oleh Majapahit (1343 M), istana raja bukan lagi disebut Karaton/Kadaton, melainkan disebut dengan istilah Pura, seperti :

  • Keraton Dalem di Samprangan, disebut Linggarsapura.
  • Keraton di Gelgel, disebut Swecapura.
  • Keraton di Klungkung, disebut Smarapura.

Sehingga penggunaan kata Pura, sebagai nama tempat suci, setelah Dinasti Dalem, berstana di Klungkung. Dalam hubungan ini kata Pura yang berarti istana raja atau keraton atau rumah pembesar, ketika itu dipakai istilah “Puri” dan kata “Pura” dipakai istilah tempat suci.

Selain Mpu Kuturan, ada pula tokoh lain yang banyak jasanya dalam hal Kahyangan atau Parhyangan, yaitu Danghyang Dwijendra, yang datang di Bali sekitar abad ke-15 – 16 pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong (1460-1550 M). Ajaran Danghyang Dwijendra dalam hubungannya dengan Kahyangan yaitu mengajarkan tentang pembuatan pelinggih Padmasana, yang mungkin sebelum jaman itu belumlah ada.

Istilah Pura sebagai istilah tempat suci, berasal dari jaman yang tidak begitu tua, namun tempat pemujaannya sendiri berakar dan mempunyai latar belakang alam pikiran yang berasal dari masa yang amat tua. Pangkalnya adalah kebudayaan Indonesia asli, berupa pemujaan terhadap roh suci leluhur dan Kekuatan Yang Maha Besar yang telah dikenal pada jaman Neolithikum, sebelum kebudayaan India datang ke Indonesia. Salah satu tempat pemujaan roh leluhur pada waktu itu adalah berbentuk punden berundak-undak, yang diduga sebagai replika (bentuk tiruan) dari gunung, karena gunung itu dianggap sebagai salah satu tempat dari leluhur atau alam arwah. Sistem pemujaan leluhur tersebut kemudian berkembang bersama-sama dengan berkembangnya kebudayaan Hindu di Indonesia. Perkembangannya itu mengalami proses akulturasi dan enkulturasi, sesuai dengan lingkungan budaya nusantara.

Kepercayaan terhadap gunung sebagai alam arwah adalah relevan dengan unsur kebudayaan Hindu, yang menganggap gunung (Mahameru), sebagai alam Dewata, yang merupakan konsepsi bahwa gunung selain alam arwah juga alam para Dewa. Maka untuk mencetuskan ide kepercayaan itu lalu dibuatlah pemujaan yang mencerminkan gunung.

Demikian pula dalam pembuatan bangunan suci, seperti : Sanggah Pamrajan maupun Pura, diletakkan di tempat yang lebih tinggi atau di tempat yang dianggap hulu, berkiblat ke gunung yang tertinggi dan paling dihormati. Yang dianggap hulu adalah arah timur (purwa) dan uttara (kaja). Kata ‘purwa‘ berarti di muka dan sering dihubungkan dengan terbitnya matahari. Sedangkan “uttara” di Bali disebut dengan kaja, yang berasal dari ka-aja,; ka = menuju; aja = gunung. Jadi Kaja (kaaja) berarti menuju gunung.

Dalam perkembangan selanjutnya konsepsi pemujaan roh leluhur yang merupakan unsur kebudayaan asli dan pemujaan terhadap Tuhan dengan manifestasi-Nya, yang merupakan unsur Kebudayaan Hindu, mengalami perpaduan yang harmonis. Perwujudan dari perpaduan ini tercermin pada konsepsi Pura, sebagai tempat pemujaan Dewa manifestasi dari Tuhan dan pemujaan roh suci leluhur yang sering disebut dengan Bhatara. Atas dasar inilah memberikan suatu konsep pengertian bahwa Pura adalah simbul gunung, tempat pemujaan Dewa dan Bhatara.

Advertisements

2 thoughts on “Pengertian Pura

  1. Pingback: Pengelompokan Pura | ...blog nak belog...

  2. Pingback: SHARE 3 | nalatrisudapradnyani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s