I Cikampeng

i cikampengMenulis cerita rakyat I Cikampeng ini benar-benar lucu dan kocak. Cerita rakyat yang mengisahkan tentang seorang laki-laki bernama I Cikampeng yang bodoh. Karena kebodohannya, ia sampai tidak tahu bahwa istrinya meninggal dan lebih parahnya ia justru menyangka dirinya sudah meninggal dunia.

Bagaimana kelanjutan cerita rakyat Indonesia I Cikampeng ini?

***

Di Desa Sekar, Bali, pernah hidup seorang pria bernama I Cikampeng. Walaupun kaya raya, pria berusia 40 tahun ini hidupnya terkesan gembel. Orang-orang di sekitarnya menjulukinya si pelit. Bagaimana tidak untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari saja, ia hanya makan nasi putih, sayur beserta ikan asin. Sementara, untuk baju, ia hanya memiliki satu stel saja yang melekat di tubuhnya. Bahkan, ia jarang mandi. Kalaupun toh mandi, I Cikampeng hanya berendam ke sungai dalam beberapa menit saja. Hal ini sebenarnya bukan keinginan I Cikampeng sendiri, melainkan karena kebodohannya sendiri. Ya, sejak usianya masih belia, I Cikampeng sudah ditinggal mati oleh kedua orang tuanya.

Suatu ketika, I Cikampeng jalan-jalan bersama para lelaki di kampungnya. Salah seorang dari mereka bertanya iseng kepada I Cikampeng. “Hei, Cikampeng, kapan kamu menikah. Ingat umurmu sudah di atas rata-rata usia menikah. Mau bulukan kamu?” Pertanyaan itu sontak mengundang derai tawa dari yang lainnya, yang seolah-olah meledek.

I Cikampeng tidak tertawa dengan ledekan itu. Ia justru serius menanggapi pertanyaan itu, “Sebetulnya, aku juga hendak kawin. Cuma sampai kini belum kutemukan perempuan yang sesuai kriteriaku.”

“Kau memiliki kriteria? Apa kriteriamu?”

I Cikampeng mengangguk, lalu segera menimpali, “Yang badannya kurus dan hidupnya irit.”

Salah seorang dari laki-laki yang bersama dengan I Cikampeng mengatakan bahwa ia mengenal seseorang yang mungkin cocok dengan I Cikampeng. “Kurasa aku mengenal perempuan yang masuk dalam kriteriamu. Ia tinggal di kampung sebelah. Namanya Ni Mayang Sari.”

***

I Cikampeng segera mencari perempuan yang dimaksud kawannya itu. Setelah bertemu beberapa kali, I Cikampeng meminta Ni Mayang Sari untuk menjadi istrinya. Ni Mayang Sari pun setuju.

Pesta pernikahan pun digelar. Tamu undangan yang memberi hadiah kepada mereka, seperti beras, pakaian, sirih pinang, lauk pauk, peralatan dapur, dan lain-lain. I Cikampeng yang pelit berkata dalam hati, ‘Lumayan untuk memperpanjang pengeluaranku.’

Sesudah pesta pernikahan digelar, I Cikampeng mengajak istrinya untuk tidur. Tapi, Ni Mayang Sari ingin melihat bintang di malam hari terlebih dulu. I Cikampeng pun menyetujuinya. Sambil duduk di sampingnya, Ni Mayang Sari menunjuk-nunjuk bintang sambil bertanya kepada I Cikampeng.

“Oh, bintang apakah itu, yang berbaris seperti bajak?” tanya Ni Mayang Sari.

“Namanya bintang bajak.”

“Itu, lihat… ada bintang yang berjalan cepat dan mempunyai ekor, apakah namanya?”

“Bintang berekor.”

“Oh, itu bintang apa?”

“Bintang kejora.”

Begitulah, sampai malam menjelang pagi I Cikampeng terus menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Ni Mayang Sari. Karena, I Cikampeng itu bodoh, ia tidak mengetahui kalau sebenarnya Ni Mayang Sari dijangkiti penyakit asma akut. Malam itu, Ni Mayang Sari merasa sangat sakit di dadanya, hingga menyebabkan tubuhnya melemah dan akhirnya, mati. Tapi, I Cikampeng menyangka istrinya hanya tertidur saja.

Ketika matahari mulai terbit, I Cikampeng membawa istrinya ke kamar dan ia sendiri pergi ke sawah. Saat kembali ke rumah pada sore harinya, I Cikampeng menengok istrinya dan menemukannya masih terbaring di tempat tidur. I Cikampeng berpikir mungkin ada baiknya istrinya terus tertidur, sehingga tidak perlu diberi makan. Pengeluaran untuk bahan makanan pun semakin sedikit.

***

Empat hari berikutnya, tetangga berdatangan ke rumah I Cikampeng. Mereka bertanya, “Cikampeng, bau apakah yang datang dari rumahmu?”

“Sepertinya dari tubuh istriku. Sudah empat hari ini, ia terlelap tanpa pernah mandi sekalipun. Tapi aku membiarkan saja, karena aku bangunkan ia tidak mau bangun bangun.”

“Di mana istrimu?” tanya tetangga terkejut mendengar penjelasan si bodoh itu.

“Ia di kamar.”

Tetangga segera menuju ke kamar yang dimaksud I Cikampeng. Lalu, mereka berteriak dengan geram, “Dasar goblok, kamu, Cikampeng! Istrimu ini mati, bukannya tidur. Tololllll!!! Cepat beli kain kafan dan kuburkan.”

Upacara pemakaman pun segera dilakukan.

***

Tiga hari kemudian, selepas pemakaman. I Cikampeng sedang makan malam di dapurnya, tiba-tiba kentut. Baunya sangat busuk, mungkin ia masuk angin. Ketika mencium bau busuk kentutnya sendiri, I Cikampeng yang bodoh mengira dirinya sudah mati. Ia mengambil cangkul dan langsung pergi ke kuburan untuk mengubur dirinya sendiri. Ia mengira lebih baik menguburkan diri sendiri tanpa harus meminta bantuan orang lain. Jadi, irit ongkos.

I Cikampeng cepat menggali dan membenamkan tubuhnya sendiri hingga batas kepala. Jadi, ia menguburkan dirinya sendiri dengan berdiri.

***

Keesokan paginya, orang-orang yang tengah melintasi perkuburan terkejut melihat kepala I Cikampeng. Awalnya, mereka mengira itu kepala leak. Tapi, setelah memperhatikan dengan seksama, mereka yakin bahwa itu kepala I Cikampeng. Setelah yakin, mereka menghampiri I Cikampeng.

“Apa yang kamu lakukan terhadap dirimu sendiri, Cikampeng?”

“Aku sedang mati.”

“Kalau kamu mati, kok bisa bicara?” tanya mereka tertawa geli.

“Ini cuma bicara. Tadi malam, aku malah bisa berjalan dan membuat lubang di sini.”

Meledaklah tawa orang-orang itu.

Lalu, salah seorang yang dari mereka yang tidak ikut tertawa berkata, “Kenapa ditertawakan sih? Kalian semua tahu, ia ini orang tolol. Kasihanilah ia, ayo kita gali.”

Mereka pun menggali dan mengangkat I Cikampeng. Dan mereka bertanya, “Kenapa kamu mengira dirimu sudah mati?”

I Cikampeng menjawab polos, “Waktu istriku berbau busuk, kalian mengatakan mereka sudah mati. Semalam, aku mencium bau busuk dari tubuhku. Berarti aku sudah mati. Karena itu, kutanam sendiri tubuhku, biar irit ongkos.”

“Otak udang! Kalau orang mati, selain berbau busuk, juga tidak bernapas lagi. Kamu kan masih bernapas. Oiya, ngomong-ngomong apa yang berbau busuk? Apa mungkin kamu kentut?”

“Bukan, bukan kentut. Pantatku hanya keluar angin,” jawab I Cikampeng polos.

Mendengar perkataan I Cikampeng tersebut, pecahlah tawa mereka semua.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s