Prabhu Sasana – Kepemimpinan Hindu (2)

Lanjutan dari Prabhu Sasana – Kepemimpinan Hindu (1)

Sifat-sifat Pemimpin/Swagunaning Prabhu Menurut Ramayana dan Naskah-Naskah Lainnya

Sebagai bahan perbandingan lebih lanjut dalam membicarakan sifat-sifat kepemimpinan dalam Hinduisme, maka dipandang perlu untuk mengungkapkan sifat-sifat kepemimpinan yang terdapat dalam naskah Ramayana, suatu naskah Jawa Kuno berbentuk kekawin yang masih hidup subur dalam lubuk hati umat Hindu.

Bagian Ramayana yang menonjolkan tentang kepemimpinan adalah dalam nashat Rama kepada adiknya Sang Brata dan nasehat Sang Rama kepada Sang Wibisana. Sifat-sifat kepemimpinan dalam Ramayana disebut dengan Asta Brata, yang berarti delapan jenis aturan-aturan kepemimpinan yang dibandingkan dengan Delapan Macam Sifat Kedewataan, yang wajar dipakai tauladan dalam kepemimpinan.

Adapun yang disebut dengan Asta Brata, yaitu :

  1. Indra Brata, yaitu brata Hyang Indra, dewa mendung dan hujan
  2. Yama Brata, yaitu brata Hyang Yama, dewa keadilan akhirat
  3. Surya Brata, yaitu brata Hyang Surya, dewa penerang
  4. Candra Brata, yaitu brata Hyang Wulan, dewi bulan
  5. Anila Brata, yaitu brata Hyang Bhayu, dewa angin
  6. Kuwera Brata, yaitu brata Hyang Kuwera, dewa kemakmuran
  7. Baruna Brata, yaitu brata Hyang Baruna, dewa penguasa laut
  8. Agni Brata, yaitu brata Hyang Agni, dewa api

Hyang Indra Yama Surya Candranila, Kuwera Barunagni nahan wwalu, sira ta makangga sang bhupati, matang niran inisti Asta Brata ( K. Ramayana, Sargah 23, 42)

Artinya :

Sanghyang Indra, Sanghyang Yama, Sanghyang Surya, Sanghyang Wulan, Sanghyang Bhayu, Sanghyang Kuwera, Sanghyang Bharuna dan Sanghyang Agni, itulah delapan banyaknya menjadi perwujudan sang prabhu, menyebabkan beliau dijunjung (karena menegakkan) Asta Brata.

Untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut tentang Asta Brata, dipetikan dari Kekawin Ramayana, Sargah 23., sebagai berikut :

Indra Brata :

Nihan bratani sanghyang indralapen,

sirangudanaken tumrepting jagat,

sira ta tuladenta indra brata,

sudana ya hudanta manglyabi rat.

Artinya :

Inilah brata Sanghyang Indra yang patut dipetik, Beliau menurunkan hujan (menyebabkan) kemakmuran dunia, Beliau itulah hendaknya diikuti yakni Indra Brata, dalam hal memberi kemakmuran bagaikan hujan yang menyebabkan kemakmuran dunia.

Yama Brata :

Yama brata dumandha karma hala,

sirekana malung maling yar pejah,

umilwa kita malwang ulah salah,

asing ngumawarang sarat prih pati.

Artinya :

Adapun Yama Brata menghukum setiap perbuatan salah, Beliau senantiasa melenyapkan delapan yang termasuk pencuri (asta corah), engkau hendaknya mengikuti melenyapkan perbuatan salah, setiap yang mengacau negara berilah hukuman mati.

Surya Brata :

Bhatara rawi mangisep wwe lana,

nda tan kara sanaih-sanaih de nira,

samangkana kitalap pangguhen,

tatar gelisa yeka surya brata.

Artinya :

Bhatara Surya senantiasa mengisap air, tetapi tidak tergesa-gesa, melainkan amat perlahan-lahan beliau, hendaknya engkau demikian, itulah hendaknya dilaksanakan, jangan terlalu cepat-cepat itulah yang disebut Surya Brata.

Candra Brata/Sasi Brata :

Sasi brata umar sukang rat kabeh,

ulah ta mredhu komala yan katon,

guyunta mamanis ya tulyamreta,

asing matuha pandita t swagatan.

Artinya :

Adapun yang disebut Candra Brata adalah menyebarkan kesenangan dunia, segala tingkah lakumu lemah lembut nampaknya, senyummu hendaknya manis pula, bagaikan tirta amerta, setiap yang lebih tua dan para pendeta hendaknya dihormati.

Anila Brata/Bayu Brata :

Angin ta kita yat panginte ulah,

kumawruhana budhining rat kabeh,

sucara ya panonta tatan katon,

ya dibya guna suksma bayu brata.

Artinya :

Bagaikan anginlah hendaknya engaku, jika engkau menyelidiki sifat orang, hendaknya engkau memahami seluruh jiwa masyarakat, segala prilaku yang baik hendaknya engkau ketahui, namun engkau tidak diketahui olehnya, itulah guna yang utama, yang gaib terkandung dalam Bayu Brata.

Kuwera Brata/Dhanada Brata :

Mamuktyang upabhoga sinambin nginak,

taman panepengeng pangan mwang nginum,

manandanga mabhusana mahyasa,

nahan ta dhanada brata nung tirun.

Artinya :

Menikmati upabhoga dan segala jenis kesenangan, tidak kurang dalam hal makanan dan minuman, berdandan, berpakaian dan segala jenis perhiasan, itulah yang disebut Dhanada Brata, hendaknya ditiru.

Bharuna Brata:

Bhatara bharunanggego sanjata,

maha wisaya nagapasangapus,

sira ta tuladenta pasa brata,

kitomapusanang watek durjana.

Artinya :

Bhatara Bharuna senantiasa siap siaga memegang senjata, amat berbisa yakni senjata Nagapasanya senantiasa mengikat, Beliau itulah hendaknya ditiru Brata Nagapasanya, engkau hendaknya dapat mengikat semua orang-orang jahat.

Agni Brata :

Lananggesengi satru bahni brata,

galakta ri musuh yekapuy,

asing sainasenta sirna pasah,

ya tekana sinangguh agni brata.

Artinya :

Senantiasa menghancurkan musuh itulah Agni Brata, keganasanmu terhadap musuh adalah sifat-sifat api, setiap yang mendekat padamu musnah dan berantakan, hal yang demikian itulah yang disebut Agni Brata.

Demikianlah yang disebut dengan Asta Brata yakni delapan sifat kepemimpinan, yang termuat dalam Kekawin Ramayana, dengan mengambil perbandingan sifat-sifat keutamaan delapan Dewa.

Adapun brata lainnya sebagai swagunaning prabhu, yang disebut Asta Murti Parameng Prabhu, yang terdiri dari Panca Maha Bhuta Brata, ditambah dengan Surya Brata, Candra Brata dan Kartika Brata.

Panca Maha Bhuta Brata, terdiri dari :

  1. Prethiwi Brata (bratanya tanah)
  2. Apah Brata (bratanya air)
  3. Teja Brata (bratanya panas)
  4. Bayu Brata (bratanya angin)
  5. Akasa Brata (bratanya akasa)

Kelima jenis “Panca Mahabhuta” tersebut ditambah dengan tiga macam brata lagi yang diambil dari Dewata Badan-Badan Angkasa lainnya, meliputi :

  1. Surya Brata ( Brata Hyang Aditya/Dewa Matahari)
  2. Candra Brata (Brata Hyang Wulan)
  3. Kartika Brata (Naksatra Brata/Brata Bintang)

Panca Mahabhuta Brata ditambah tiga jenis brata ini disebut Asta Murti Parameng Prabhu. Dalam penjelasannya lebih lanjut dari masing-masing brata tersebut, tidak kami ungkapkan seluruhnya, sebab diantaranya sudah dibicarakan dalam Asta Brata yang tersebut di depan. Seperti halnya Surya Brata, Candra Brata dan Bayu Brata. Adapun yang diuraikan di sini ialah bagian-bagian lainnya saja dari Asta Murti Parameng Prabhu, tersebut di depan, seperti :

Prethiwi Brata :

Brata bumi atau tanah. Dalam hubungan kepemimpinan, seorang pemimpin hendaknya bersifat teguh iman, mempunyai sifat kasih yang merata, kuat dan teguh dalam menerima segala yang menimpanya. Senantiasa memberikan kemakmuran kepada masyarakat tanpa mengharapkan balasan.

“Brata prethiwi mabwat temen, asih ta marata rikang rat kabeh, halahayu jagat haywaken, asyasih guna gunung magong sanggata”.

 (Adapun yang disebut Prethiwi Brata itu adalah amat utama, yaitu bersifat memberi kasih sayang yang merata kepada seluruh masyarakat, baik buruknya masyarakat semuanya dipikul tanpa penyesalan, kebesaran cinta kasuhnya laksana gunung yang besar dan amat berguna dan tak mudah digoyahkan).

Apah Brata :

Bersifat seperti air. Dalam kepemimpinan seorang pemimpin hendaknya senantiasa bersifat memberi kekuatan hidup kepada masyarakat dan negara. Mempunyai sifat melihat ke bawah, senantiasa mendekatkan diri dengan masyarakat yang berada di bawahnya, dalam arti mementingkan kesejahtraan, kebahagiaan dan kenikmatan masyarakat. Hal ini dapat disebut “Janartha Jananuraga“, sifat mengutamakan kepentingan masyarakat dan dicintai oleh masyarakat (rakyat).

Teja Brata/Brahma Brata/Tri Netra Brata :

Bersifat seperti teja atau Brahma yang bermata tiga.; dengan maksud seorang pemimpin hendaknya bijaksana berlogika, yang meliputi Tri Pramana dan Tri Kala Samaya. Tri Pramana berarti berlogika berdasarkan desa (tempat), kala (waktu) dan patra (sastra/tulisan). Sedangkan Tri Kala Samaya, berarti bijaksana berlogika yang meliputi : Atita (memandang kepada masa yang silam); Nagata (mereka-reka keadaan yang akan datang); Wartamana (menentukan sikap dalam masa sekarang).

Akasa Brata :

Brata ether yang bersifat gaib, maha kecil dan meresap di segala-galanya. Dalam kepemimpinan berarti sifat yang mengetahui sebelum diberitahu. Hal ini dapat disamakan dengan sejenis Bayu Brata atau Inggita Cestakara. Dapat mengetahui sesuatu berdasarkan gerak-gerik seseorang.

Kartika Brata/Naksatra Brata :

Brata bintang-bintang, dalam arti pemimpin hendaknya mempunyai cita-cita yang tinggi, luhur dan utama. Dalam hubungannya dengan kemasyarakatan, pemimpin hendaknya senantiasa memberi contoh dan petunjuk jalan dalam mengatasi bermacam-macam kesesatan.

Demikianlah sifat-sifat pemimpin atau swagunaning prabhu yang terlukis dalam naskah Ramayana Kekawin, sebagai salah satu Kepustakaan Jawa Kuna yang masih berurat-berakar dalam lubuk hati umat Hindu.

Sifat-Sifat Pemimpin Menurut Naskah Slokantara

Dalam naskah Slokantara ada juga disebutkan sifat-sifat utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, karena merupakan syarat-syarat kepemimpinan. Dalam naskah Slokantara disebut : Ambek Nawa Sanggha, yang meliputi sembilan jenis.

“Nihan ambek Nawa Sanggha ngaranya, marapwan sira sidha rahayu lwirnya : Andrayuga, Gunabhiksama, Sadhuniragraha, Widagdha Prasanna, Wirota Sadharana, Kretarajahita, Tyaga Prasanna, Sura Laksana, Sura Pratyayana, sangha kwehnya. Andrayuga, ngaranya prajnaning dharma tutur watek haji, widagdha weruh ring halahayu. Gunabhiksama ngaranya sadhu sira ring arthaning gusti, lumanglang sira ring arthaning gusti, lumanglang sira ring pakeweh, upeksa sira ring rowang, anut sakramaning wang akweh, enak de nira kretha rahayu. Sadhuniragraha ngaranya sadhu sira ring wawadon, tan cekap sira ring sama-sama wwang. Widagdha Prasanna, tan mmangan sira ingaturan sabda tan yogya, tan sungsut purih sira, prasanna budhi nira enak. Wirota Sadharana, ngaranya wani tan karahatan, tan asor ring ujar mrih ring niti. Kretarajahita, ngaranya wani asor weruh ring Kutara Manawadi.Tyaga Prasanna ngaranya tan panengguh anghel yening ingutus dening gusti. Sura Laksana, ngaranya tan anengguh awedi, enggal tan asowe. Sura Pratyayana, ngaranya bhaktya agusti, sura laksana ring paperangan, sumangga ring pakeweh rumaksaning gusti. Iti ambek Nawa Sangha kayatnakena, kramanya swang-swang, rahayu dahat yan kalaksanang”.

Artinya :

Inilah ambek Nawa Sangha (sembilan sifat utama) yang menyebabkan saudara dapat mencapai kesempurnaan, yaitu : (1) Andrayuga; (2) Guna Bhiksama; (3) Sadhunigraha;

(4) Widagdha Prasanna; (5) Wirota Sadharana; (6) Kretarajahita; (7) Tyaga Prasanna; (8) Sura Laksana; (9) Sura Pratyayana.

Andrayuga, artinya mahir dalam ajaran agama (dharma), filsafat kebenaran dan senang kepada ilmu pengetahuan yang lainnya, bijaksana dalam membedakan antara yang baik dan yang buruk. Guna Bhiksama, artinya bijaksana dan cepat mengerti dengan maksud dan tujuan atasannya. Dapat meneliti segala kesusahan, cinta kepada sesama umat manusia, dapat mengikuti segala gerak aspirasi masyarakat, hidup tenang dan penuh kebahagiaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s