Prabhu Sasana – Kepemimpinan Hindu (1)

Pengertian Umum

Kata “prabhu” adalah Bahasa Sansekerta, yang berasal dari urat kata kerja “bhu“, yang berarti ada, hidup atau menjadi. Kemudian mendapat augmentpra“, yang berarti sebelum, amat, terutama. Kata “prabhu” dalam bentuk verbalnya berarti mengatur atau memimpin. Sedangkan dalam bentuk substatifnya kata “prabhu” menjadi “prabhuh“, dengan jenis kelamin maskulinum, yang berarti pemimpin atau pengatur. Dalam perkembangan selanjutnya kata prabhuh sering disebut prabhu saja (wisarga atau bisahnya dihilangkan), terutama perkembangannya menjadi bahasa Jawa Kuno. Hal ini telah menjadi kebiasaan bahwa tiap-tiap kata yang berakhir dengan wisarga dalam bahasa Sansekerta setelah menjadi bahasa Jawa Kuno, maka wisarga sering dihilangkan. Boleh jadi hal ini disebabkan oleh karena adanya perubahan dialek antara India dengan Indonesia. Menurut kebiasaan yang berlaku maka kata prabhu tersebut sering diartikan raja. Hal ini disebabkan karena bentuk atau sistem pemerintahan ketika jaman dahulu berbentuk kerajaan, pemimpin atau penguasa kerajaan itu adalah raja secara otokrasi.

Oleh karena itu yang dimaksud dengan prabhu ialah segala sesuatu yang berhubungan dengan kepemimpinan (leadership), terutama yang berhubungan dengan pemerintahan menurut pandangan Hinduisme.

Kata “Sasana” adalah Bahasa Sansekerta, yang berasal dari urat kata kerja “Sas“, yang berarti mengatur , mengontrol atau mengendalikan. Sasana berarti aturan, perintah, ajaran. Jadi Prabhu Sasana adalah aturan atau tata tertib perilaku kehidupan seorang pemimpin, dalam hal ini bukanlah menonjolkan segi otokratis atau feodalistis dari pengertian tersebut, melainkan yang dipentingkan dalam segi kepemimpinannya yang bersifat universal menurut Hinduisme yang ditinjau dari segi ethika atau sasananya.

Memang keprabhuan (kaprabhon) dapat pula ditinjau dari segi ketatanegaraan, politik maupun dari sudut lainnya. Namun bukan tujuan itu yang dipentingkan, melainkan tujuan moral dan ethikanya yang merupakan tatanan prikehidupan sebagai aturan-aturan prilaku kepemimpinan yang ditinjau menurut Hinduisme. Misalnya bagaimana seharusnya moral, sifat-sifat atau swadharma seorang yang benar-benar dapat disebut seorang pemimpin yang baik dan dapat mencapai ketentraman dan kebahagiaan lahir bathin rakyatnya, bangsa dan negaranya. Masalah inilah yang akan diuraikan selanjutnya atas dasar tinjauan ethika Hindu (Hindu Sasana).

Swagunaning Prabhu (Sifat-Sifat Pemimpin)

Adanya sifat-sifat atau swagunaning pemimpin itu sungguh amat banyak jumlahnya dan memerlukan pula tinjauan yang amat luas dan mendalam. Oleh karena dasar peninjauan kami hanya dari ethika moral saja, maka yang akan diuraikan hanyalah mengenai hal moral yang mendasari segala tindakan yang dijelmakan di dalam kepemimpinannya.

Sifat-sifat atau swaguna yang dimaksudkan dalam bagian ini disamping merupakan kejiwaan dan keahliannya, namun dapat pula dimaksudkan sebagai suatu syarat yang menyatakan sukses atau tidaknya seorang pemimpin dalam mengemban tugas dan kewajibannya.

Perkembangan selanjutnya dari pada sifat-sifat/swaguna ini akan menimbulkan adanya swadharma yaitu segala aspek dan aktivitasnya sebagai pemimpin. Swadharma kepemimpinan yang dijiwai oleh swagunanya dapat pula disebut Swadhyayaning Prabhu, dalam arti segala usaha kreatif dan kebijaksanaan dari kepemimpinannya. Berhasil atau tidaknya segala aktivitas itu adalah ditentukan oleh swagunanya. Oleh karena itu swaguna dan swadharma atau swadhyayaning prabhu itu tidak dapat dipisah-pisahkan. Justru karena sangat pentingnya swaguna dan swadharma itu maka selanjutnya akan dicoba menguraikannya sehingga dapat diketahui bagaimana hubungan antara swaguna dan swadharma dan bagaimana pula jenis dan watak, sifat moral dan aktivitas yang harus dimiliki dan diusahakan oleh seorang pemimpin.

Dari beberapa naskah Hindu yang memuat tentang keprabhon atau kepemimpinan yang pernah kami baca, kami menjumpai adanya keterangan tentang sifat-sifat /swagunaning prabhu sedikit berbeda-beda. Namun perbedaan itu pada dasarnya mempunyai dasar dan tujuan yang sama yaitu sebagai suatu sifat kepemimpinan atau syarat-syarat untuk mencapai cita-cita yang tertinggi dari suatu negara. Adanya perbedaan itu dapat kita benarkan sebab penilaian dari penulis-penulis Hindu terdapat sifat/krakter/mental seseorang pemimpin bersifat subyektif dan relatif dalam arti tidak mempunyai suatu ketentuan penilaian yang mutlak dan pasti.

Di dalam naskah Jawa Kuno Nawa Natya yang berarti sembilan kerendahan hati, yang memberikan keterangan kepada kita, yang berupa saran-saran atau petunjuk-petunjuk sebagai seorang prabhu dalam mengangkat atau mencari bawahannya sebagai pembantu utamanya dalam mengendalikan negara, hendaknya bersikap seperti halnya memilih kembang-kembang bunga segunung yang akan ditanam didalam suatu taman.

Didalam memilih kembang-kembang tersebut hendaknya yang dipilih yang indah warnanya, sedap dipandang, harum baunya dan mempunyai keutamaan penggunaan beserta yang memberi kepuasan bagi yang melihatnya dan yang memakainya.

………….. den kadi anemu sekar sawana, pilihing gandhanya mwang warnanya, ika ta ulah-ulah de sang mahyun sumawita manut i karsa sang prabhu, ndan inaranan mantra mukhya, amatih amangku bhumi,dyaksa amengku kaprabhon, ika pinaka mukhyaning rajya, pinaka gunaning rakryan apatih, ring jaba ring jero, maka nguni anglalanging bhumi, amanca nagara, wruh ring sarwa sastra, sarwagama, widagdha, wira, wiweka, prajna, pragiwakya, sarwa yuddha, wruh ring don mwang donya kira-kira, sama upaya, samahita, manelusi wong rodra, laghawangartha, tan ajerih ring lokika, paramartha, tutuging guna, pinaka kahoting palagan, de sang prabhu, yan hana wang mangkana, ika gunanya, dadya ika kapatih amengku bhumi ………….”.

Artinya :

………….. seperti halnya menjumpai bunga sehutan, pilihlah bau dan warnanya, kegunaannya, menyebabkan senangnya beliau yang dipuja, itulah yang patut diusahakan oleh mereka yang ingin mengabdi, memenuhi kehendak yang mulia raja, yang disebut menteri terkemuka yaitu Patih Amengkubhumi, yang waspada memangku kepemimpinan, beliau itulah sebagai pemuka kerajaan/negara. Adapun keutamaan sifat-sifat maha menteri itu lahir bathin, ialah mengawasi negara, memimpin wilayah (seluruh daerah), mahir terhadap ilmu pengetahuan, segala ajaran agama, bijaksana, pemberani, pandai menimbang yang baik dan buruk, berpengetahuan luas, pandai berdiplomat, mahir dalam ilmu perang, mahir dalam pekerjaan, serta pandai dalam menyelesaikan suatu kerja, setia akan janji, setia kepada tujuan suci negara, bersih dari sifat-sifat angkuh, sepi ing pamerih, tidak kalah berlogika, bercita-cita luhur, serbaguna, bisa diharapkan dalam perang oleh yang mulia raja. Jika ada orang yang demikian kegunaannya/keutamaan sifat-sifatnya, patut dijadikan Patih Pemangku Negara (Amengkubhumi).

Menilik dari kutipan di atas, dapatlah disebutkan bahwa Nawa Natya memberikan keterangan sifat-sifat kepemimpinan sebagai unsur-unsur pokok dan syarat-syarat yang utama dan jika digolong-golongkan, secara garis besarnya dapat disebutkan sebagai berikut :

  • Prajna Widagdha : bijaksana dan mahir dalam segala ilmu pengetahuan, berbudi mulia, cerdas, ahli, termasuk mahir dalam agama, cekatan dalam berpikir.
  • Wira Sarwayuddha : seorang pemimpin hendaknya pemberani, ikhlas berkorban, tegas terhadap kebenaran, pantang menyerah, termasuk mahir dalam ilmu peperangan.
  • Dirotsaha : tekun, aktif dan setia dalam segala usaha dan pekerjaan, berkeyakinan mencapai kebahagiaan yang tertinggi atas dasar amal pengabdian melalui pekerjaan, tahu akan kerja serta dapat merencanakan penyelesaiannya.
  • Paramartha : memiliki jiwa dan sifat-sifat kesucian, keluhuran cita-cita, mengutamakan kebenaran, keadilan dan ikhlas beramal kebajikan untuk kesejahtraan dan kebahagiaan umat manusia. Sifat Paramartha ini kita dapat ikuti dalam naskah Kekawin Arjuna Wiwaha, bagian permulaan, sebagai berikut :

    “Ambek sang paramartha pandita huwus limpad sakeng sunyata, tan sakeng wisaya prayojananira lwir sanggraheng lokika, siddhaning yasa wirya do nira sukaning rat kininkinira, santosa heletan kelir sira sake sanghyang jagatkarana”

    (Adapun pribadi seseorang yang dapat disebut Parama Pandita, adalah yang telah mencapai tingkat kesucian, tidak berdasarkan nafsu keindriaan segala prilaku beliau mendapat kedudukan di dunia, terwujudnya pengabdian dan kesejahtraan masyarakat itulah yang beliau usahakan, kesentausaan beliau hanya selapis tipis antaranya dengan Tuhan Sanghyang Jagatkarana)

  • Pragiwakya : seorang pemimpin hendaknya mempunyai bakat dan kecakapan dalam berbicara maupun berpidato dan berdiplomat. Sifat Pragiwakya ini dalam naskah Gajah Mada disebut Wagmiwak/Wakjnana.
  • Sama Upaya/Samahita : seorang pemimpin harus setia pada janji pengabdiannya terhadap kesucian dan keluhuran cita-cita negara.
  • Laghawangartha : mempunyai jiwa yang tidak terikat oleh harta benda dalam arti tidak mengutamakan pamerih yang berlebih-lebihan. Sifat Laghawangartha ini pada dasarnya berhampiran dengan Tan Satresna, yang artinya tidak mempunyai sifat egoistis yang bersifat mengutamakan kepentingan pribadi.

Demikianlah secara garis besarnya sifat-sifat kepemimpinan yang diungkapkan dalam naskah Nawa Natya, sebagai suatu syarat yang harus dipenuhi dan diusahakan oleh setiap pemimpin dalam Hinduisme, terutama bagi mereka yang memegang tampuk pemerintahan negara.

Sifat-Sifat Pemimpin Menurut Naskah Gajah Mada

Sifat-sifat kepemimpinan yang disebutkan dalam naskah ini merupakan sifat-sifat pribadi yang dimiliki oleh Mahapatih Gajah Mada, seorang politikus dalam jaman kemegahan Majapahit. Penulisan sifat-sifat kepemimpinan didasarkan kepada penuturan Rakawi Prapanca dalam kitab Nagarakerthagama, yang sejarah kebesaran Majapahit. Rakawi Prapanca secara jelas dapat mengenal dari dekat kebesaran jiwa Gajah Mada sebagai seorang negarawan, yang memiliki peringai kepemimpinan yang tak kalah dengan tokoh-tokoh negarawan lainnya. Rakawi Prapanca sebagai penulis yang menggambarkan sifat keistimewaan Gajah Mada,, memberi ulasan adanya 15 (limabelas) sifat istimewa Gajah Mada. Ke-15 (kelima belas) sifat istimewa Gajah Mada itu merupakan suatu konsepsi kepemimpinan yang perlu dilatih dan diusahakan oleh setiap pemimpin negara. Adapun sifat-sifat keutamaan kepemimpinan itu meliputi :

  • Wijnana : seorang pemimpin harus bersifat bijaksana, terutama dalam mengatasi suatu kesukaran atau kegentingan yang menimpa negara dan diri pribadinya sebagai pemimpin. Sifat Wijnana melepaskan seseorang dari kegentingan dan kesukaran yang menimpa dirinya, sehingga tidak pernah merasa putus asa atau kekurangan akal dalam mencari jalan keluar dari keadaan yang menimpanya. Kesanggupan melenyapkan suatu kegentingan dan kembalinya ketentraman dengan sempurna merupakan suatu kebijaksanaan yang tertinggi dari seorang pemimpin.
  • Mantri Wira : bersifat dan bersikap sebagai pembela negara yang sejati, berkeberanian yang tak terhingga dalam kebenaran dan berkesetiaan yang tidak terbatas, dalam menjunjung cita-cita negara. Sifat Mantri Wira menempatkan seseorang pemimpin pada pengabdian yang tertinggi dan keikhlasan berkorban demi tujuan negara.
  • Wicaksaneng Naya : bijaksana dan ahli dalam bidang politik kepemimpinan, terutama mahir dalam berlogika (menganalisa) dengan berpedoman dengan Tri Kala, yaitu : Atita (mengenang kejadian yang telah lewat), Nagata (menganalisa dan mereka-rekakan kemungkinan yang akan datang) dan Wartamana (dapat menentukan sikap dalam masa sekarang yang sedang dihadapi).
  • Matanggwan : dipercaya dalam arti dapat kepercayaan yang tinggi dari rakyat dan negara yang dipimpinnya. Sifat Matanggwan ini merupakan syarat yang utama dalam kepemimpinan, merupakan andil yang tak ternilai yang menentukan kuat atau tegaknya seseorang pemimpin. Orang yang memiliki sifat Matanggwan tidak pernah mengabaikan kepercayaan tersebut mendorong seseorang pemimpin untuk bekerja lebih tekun untuk mewujudkan kepentingan umum. Semakin besar Matanggwan yang diterimanya sebagai besar pula tanggung jawab dan pengabdian yang diperlukan.
  • Satya Bhakti Aprabhu : taat setia dan bhakti kepada atasan, terutama setia dan bhakti kepada kepala negara dan pemerintahan, sifat ini amat penting bagi seorang pemimpin, dalam menjauhkan maksud-maksud jahat sebagai penghianat negara dan bangsa. Mereka berkeyakinan bahwa nasib negara adalah nasibnya sendiri. Dengan adanya rasa setia bhakti akan menimbulkan disiplin yang tinggi kepada atasan dan disegani oleh bawahan.
  • Wagmiwak/Wijnana : seorang pemimpin memiliki bakat dan kepandaian dalam hal berkata-kata, berbicara dan berpidato baik dalam lingkungan kecil maupun berdialog dalam persidangan. Dengan Wagmiwak seorang pemimpin dapat membangkitkan kesadaran rakyat dan menanamkan kesadaran politik di lubuk hati rakyat, yang dibawa oleh pandangan hidup dan aliran politiknya.
  • Sarjawopasama : bersifat rendah hati, mudah memberi hati kepada orang lain, tulus dan ikhlas, bersikap ramah tamah, bermuka manis dan pemaaf, selalu berusaha mendekatkan diri dengan kawan seperjuangan dan rakyat yang di bawah kepemimpinannya. Sifat Sarjawopasama adalah suatu sifat untuk dapat mengendalikan diri dari sifat takabur, merasa diri lebih unggul, memenangi dan bangga pada kesanggupan diri sendiri. Sifat Sarjawopasama adalah sifat yang amat berat yang dimiliki oleh seorang pemimpin.
  • Dhirotsaha : bersifat rajin dan sungguh-sungguh dalam suatu pekerjaan, selalu berusaha dan berkreatif, penuh dengan inisiatif yang menuju ke arah kebaikan dan kesejahteraan negara, seluruh kehidupannya diamalkan demi pengabdian kepada negara.
  • Lalana : bersifat gembira, tidak cepat runtuh oleh suatu kesedihan, melainkan senantiasa menunjukkan sikap sadar dan penuh keimanan. Bagaikan batu karang di dalam lautan (kelan ri panas tis).
  • Diwya Citta : berhati baik, jujur dan dapat meyakini pendapat-pendapat orang lain. Selalu siap mendengarkan bermacam-macam pikiran orang lain dalam persidangan.Segala buah pikiran orang selalu disambut dengan pikiran yang tenang dan dengan uluran tangan terbuka. Sifat ini merupakan landasan permusyawaratan untuk memproleh kata sepakat dalam persidangan.
  • Tan Satresna : tidak bersifat egoistis atau individual yang mengutamakan diri sendiri, golongan dan lingkungannya. Sifat ini tidak menginginkan kenikmatan dan kesenangan perseorangan, melainkan senantiasa menunjukkan sikap serasa sependerita yakni berat sama dipikul ringan sama dijinjing.
  • Masihi Samastha Bhuwana : pemimpin hendaknya bersikap penyayang dan cinta pada seluruh alam dengan keyakinan hidup, segala barang duniawi adalah bersifat sementara dan selalu berubah-ubah. Mereka hendaknya meyakini adanya kekekalan roh dan kesementaraan dunia. Sifat ini mendorong seorang pemimpin untuk menyerahkan jiwa raganya untuk kepentingan nusa dan bangsa.
  • Ginong Pratidina : selalu tekun dan berusaha setiap hari untuk menegakkan kebenaran dengan mengerjakan segala kebaikan dan membuang segala keburukan dan kejahatan. Sifat ini menuntun seorang pemimpin untuk mendapatkan kewibawaan yang tinggi sehingga akhirnya memproleh sifat anyakrawarti, berwibawa dan disegani serta bersatu ke luar dan ke dalam.
  • Sumantri : menunjukkan sikap dan sifat sebagai petugas abdi negara yang baik, yang penuh dengan kesempurnaan kelakuan. Sifat ini perlu dimiliki oleh setiap pemimpin, terutama pada pengendali pemerintahan negara, sebab mereka senantiasa menjadi sorotan dan tauladan bawahannya dan rakyat pada umumnya (sang amawa rat tiruning sarat), orang yang mengendalikan negara menjadi tauladan masyarakat.
  • Anayaken Musuh : sifat terakhir yang perlu ditegakkan oleh seorang pemimpin, menurut Mpu Prapaca dalam naskah Gajah Mada, buah tangan Prof. M. Yamin, sifat yang dimaksud dengan Anayaken musuh, adalah sikap dan sifat yang dapat menundukkan dan mengalahkan setiap musuh. Memusnahkan setiap pengacau baik dari dalam maupun dari luar, yang bersifat menghancurkan atau menghambat kemajuan negara. Sikap ini bukan berarti sikap dan tindakan yang keras dan kejam, tetapi tetap mengutamakan rasa kasih sayang dan perdamaian dengan negara tetangga (mitra satata). Kasih sayang kita tumbuhkan dan perdamaian kita hormati, namun tidak gentar menumpahkan darah di dalam membela keagungan negara dari cengkraman musuh, yang meruntuhkan kedaulatan negara.

Demikianlah sifat-sifat kepemimpinan atau Swagunaning Prabhu, yang terdapat dalam naskah Gajah Mada oleh Prof. M. Yamin, yang berdasarkan penulisan kitab Nagarakerthagama, buah karya Rakawi Prapanca, yang menilai segi-segi kemuliaan dan sifat utama Gajah Mada sebagai tokoh utama Negarawan Majapahit.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s