Catur Marga/Catur Marga Yoga – 2

Sambungan dari : Catur Marga/Catur Marga Yoga – 1

Jnyana Marga

Jnyana Marga ialah suatu jalan dan usaha untuk mencapai kesempurnaan hidup, jagathita dan moksa, dengan menggunakan kebijaksanaan filsafat, yang disebut dengan jnyana.

Dalam usaha untuk mencapai kesempurnaan kebijaksanaan itu para arif bijaksana atau jnyanin, guna mencapai kesempurnaan dengan kesadaran, bahwa manusia adalah bagian dari alam semesta, yang di dalam kitab suci Weda disebut Brahma atau Purusa, di dalam ajaran suci Siwapaksa, disebut Siwa. Disebutkan dalam sloka : “Sarwam khalu idam Brahman“, segala yang ada di alam, tidak lain dari Brahman.

Demikianlah disebut dalam Upanisad, Brahman atau Purusa, adalah sebagai sumber segala-galanya, rohaniah maupun jasmaniah. Dalam ajaran Siwa, yakni Wrehaspati Tattwa, Tuhan disebut dengan Siwa, yang dalam perkembangannya disebut Tri Purusa, yaitu Paramasiwa yang Nirguna Brahma, Sadasiwa yang Saguna Brahma dan Siwatma sebagai sumber kehidupan. Nirguna Brahma, artinya Tuhan tanpa sifat dan tanpa aktifitas. Saguna Brahma, artinya dengan sifat dan aktifitas. Siwatma, artinya sebagai sumber atma (kehidupan). Karena Siwatma merupakan sumber dari atma, maka Siwatma dan atma adalah sama (tunggal), maka timbulah istilah : Aham Brahma asmi atau Atma Brahma Aikhyam, artinya Saya adalah Tuhan, Atma adalah sama dengan Brahma.

Atas dasar itulah seorang Jnyanin, berusaha mengarahkan pikirannya kepada Siwa, dengan menjauhkan dari ikatan-ikatan Maya atau Wisaya. Jika dilukiskan seorang Jnyanin adalah bagaikan Padma walaupun tumbuh di lumpur namun tak terkotori oleh lumpur. Dengan jnyana mereka dapat mencapai kesempurnaan hidup, yakni Jagathita dan akhirnya mencapai kebahagiaan yang kekal dan kesucian yang menyebabkan atma bebas dari penjelmaan, bersatu menemui Brahma, yang disebut dengan Moksa.

Bhagawadgita, 5.20. menyebutkan :

“na prahrsyet priyam prapya, nodwijet prapya capriyam, sthirabudhir asam muddho, brahmawid brahmani sthitah”.

(Orang bijaksana yang insyaf dengan wujud Brahma, selalu memadukan sukmanya dengan Brahma, tetap berjiwa tentram dan tidak terabui oleh kebodohan, tiada berasa bahagia mendapat yang menyenangkan dan tiada bersedih mendapatkan yang tiada menyenangkan).

yo`ntah sukho `ntaramas, tanthantar jyotir ewa yah, sa yogi brahmanirwanam, brahmabhuto `dhigacchati” (Bhagawadgita : 5.24)

(Orang yang menikmati kebahagiaan batin, yang kesenangannya bersumber dalam hatinya dan yang rohaninya cerah bersinar, yogi beriman yang selalu menunggalkan sukma dengan Brahma itu menunggal dengan Brahma).


Karma Marga

Karma Marga adalah suatu jalan atau usaha untuk mencapai kesempurnaan hidup, yakni Jagathita dan Moksa, dengan melakukan kelakuan kebajikan, namun tiada terikat oleh nafsu, hendak mencapai berupa kemashyuran, kewibawaan, keuntungan dan sebagainya, melainkan melakukan kewajiban demi untuk mengabdi, berbuat amal kebajikan, untuk kesejahteraan umat manusia dan sesama mahluk.

Selain dari pada itu, Karma Marga memandang segala usaha untuk kesejahteraan umat manusia dan semua mahluk yang merupakan ciptaan Tuhan. Perbuatan beramal tanpa ikatan pamrih akan dapat menunggal dengan Tuhan. Di dalam Kekawin Ramayana, Sang Rama menasehati Sang Wibhisana, bagaimana seharusnya menjadi abdi, giat melakukan kewajiban untuk kesejahteraan rakyat tanpa ikatan nafsu untuk mendapatkan kekayaan, kenikmatan hidup atau sanjungan, yang bunyinya sebagai berikut :

“Prihen temen dharma dhumaranang sarat, Saraga sang sadhu sireka tutana, Tan artha tan kama pidonya tan yasa, Ya sakti sang sajjana dharma raksaka” (Ramayana : 24.81)

(Utamakan benar hukum keadilan dan kebajikan untuk melindungi dunia beserta isinya, hendaknya cita-cita orang budiman itu diturut, yang tidak (gelisah) hendak mendapatkan harta, nafsu dan kemashuran, adapun kemuliaan orang budiman ialah sebagai pelindung Dharma (beramal dan mengabdi mempertahankan keadilan).

“Sakanikang rat kita yan wenang manut, Manupadesa prihatah rumaksaya, Ksayan ikang papa nahan prayojana, Jananuragadi tuwin kapangguha” (Ramayana : 24.82)

(Dharma sebagai tiang negara itulah hendaknya kau turut, utamakanlah ajaran Manu untuk mengabdi kepada Negara, musnahnya kesengsaraan itulah menjadi tujuan, kecintaan rakyat dan lain-lainnya akan dijumpai).

Tidak hanya rakyat yang cinta, tetapi Tuhan pelindung Dharmapun akan merahmati umat yang berbudi mulia, yang melakukan kewajiban, dengan pedoman tanpa terikat akan hasil (pamrih), demi pengabdian untuk masyarakat dan umat manusia. Selain dari pada itu Tuhan akan membuka pintunya juga bagi seorang Karma Marga, untuk dapat merasakan dan menemui Dia, serta menikmati ketentraman rohani.

Bhagawadgita, menyebutkan :

“Yasya sarwah samarambhah, kamam samkalpa warjitah, Jnanagnidagdha karmanam, dagdha tamahuh pandhita buddhah” (Bhagawadgita : 4.19)

(Orang yang bekerja, bebas dari nafsu dan keinginan (untuk mendapatkan hasil), yang karmanya telah dibakar oleh api kebijaksanaan, dialah yang disebut arif bijaksana).

Dengan menggunakan Karma Marga, sebagai pedoman hidup, seseorang akan dapat mencapai ketentraman bathin dan kebhagiaan abadi, karena hidupnya bagaikan daun padma, walaupun tumbuh pada lumpur, namun tidak dinodai oleh lumpur itu. Maka itulah seorang Karma Marga, sebagai jalan untuk mencapai kesempurnaan berupa Dharma, untuk Jagathita dan Moksa, yang tidak diumbang-ambingkan oleh pasang surut gelombang kehidupan, selalu tenang dan penuh keyakinan.

Lebih lanjut Bhagawadgita, menyebutkan :

“Yad rchalabhasamtustah, dwamdwatito winatsarah, samah siddhawasiddhau ca, krtawapi na nibadhyate” (Bhagawadgita : 4.22).

(Tetap tenang dengan apa yang menimpa, dapat mengatasi pasang surut perasaan, tiada mementingkan diri dan memandang dengan perasaan yang sama, tercapai atau tidak usahanya, seseorang berbuat namun tidak terikat).


Raja Marga

Raja Marga adalah suatu jalan atau usaha seseorang untuk mencapai jagathita dan moksa, adalah melalui pengendalian diri dan konsentrasi. Pengendalian diri memerlukan suatu latihan yang terus menerus, yang dilandasi oleh ketekunan.

Mengendalikan mata dapat dengan memejamkan mata, mengendalikan mulut dapat dengan menutupnya, tetapi mengendalikan pikiran jauh lebih sulit. Karena pikiran itu tidak mengenal jarak batas, demikian pula waktu dan tempat dan bergerak lebih cepat dari angin.

Agar pikiran dapat dikendalikan maka perlulah dilatih membebaskan diri dari ikatan duniawi.

Pengendalian itu akan dapat terwujud :

  1. Membiasakan diri hidup sederhana, apa yang ada hendaknya disyukuri. Dengan membiasakan hidup yang sederhana maka kepuasan dan kebahagiaan itu akan mudah serta murah mendapatkannya.
  2. Mengendalikan pikiran adalah dengan meniadakan keinginan. Yang dimaksud dengan meniadakan keinginan adalah keinginan yang pamrih untuk kepentingan diri sendiri. Tujuannya agar kita dapat menjadi tuan dari tubuh kita sendiri. Tetapi jangan sebaliknya menjadi budaknya panca indria yang merupakan alat bagi tubuh untuk menggoda pemiliknya.
  3. Konsentrasi, yakni pemusatan pikiran kepada hal-hal yang baik dan benar.

    Yoga mengajarkan ada tata cara untuk melatih konsentrasi, yang disebut dengan Astangga Yoga, yaitu : Yama, Nyama, Asana, Pranayama, Prathyahara, Dharana, Dhyana dan Samadhi. Yama adalah pengendalian diri tahap pertama, yang jumlah lima, yakni Ahimsa, Brahmacari, Satya, Awyawaharika dan Astainya. Nyama, pengendalian diri tahap ke dua, yakni Akrodha, Guru Susrusa, Sauca, Aharalaghawa, Apramada. Asana, adalah latihan tubuh, agar menjadi sehat dan suci. Pranayama, mengatur nafas dengan baik, serta perimbangan yang serasi antara menarik (puraka), menahan (kumbhaka) dan mengeluarkan nafas (recaka). Prathyahara, menarik indria dari objeknya (wisaya). Dharana, mengarahkan pikiran kepada objeknya. Dhyana, memimpinnya agar sungguh-sungguh bisa terpusat. Samadhi, menunggalkan pikiran (atma) dengan objek yang dituju (Tuhan).

  4. Kesucian, yang perlu dipertahankan. Sebab tanpa kesucian sesuatu itu akan sulit tercapai, yang disucikan adalah jasmani dan rohani

Demikianlah sekilas tentang arti dan pengertian Catur Marga yang juga disebut dengan Catur Marga Yoga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s