Catur Marga/Catur Marga Yoga – 1

Catur Marga adalah empat jalan yang bisa ditempuh untuk mencapai tujuan Jagathita dan Moksa. Catur Marga Yoga adalah empat jalan yang dapat ditempuh untuk menghubungkan diri dengan yang lebih tinggi, sesama dan mahluk-mahluk lainnya. Ke dua istilah ini mempunyai pengertian yang sama.

Canang Sari

Yang disebut dengan Catur Marga, adalah : Bhakti Marga, Karma Marga, Jnyana Marga dan Raja Marga. Catur Marga Yoga, adalah : Bhakti Marga Yoga, Karma Marga Yoga, Jnyana Marga Yoga dan Raja Marga Yoga.

Setiap orang bebas memilih salah satu dari ke empat jalan itu sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing, tidaklah mesti orang hanya berpegangan pada salah satu marga saja, bahkan ke empatnya itu hendaknya digerakkan secara harmonis, seperti halnya seekor burung. Kalau diumpamakan sayap kiri dari burung adalah Jnyana Marga, maka sayap kanannya adalah Bhakti Marga, sedangkan ekornya burung adalah Raja Marga dan kekuatan mendorongnya adalah Karma Marga. Seekor burung akan bisa melayang dengan baik, kalau sayap kiri dan kanannya seimbang. Burung tidak akan bisa mencapai tujuan yang dikehendaki kalau tidak memiliki daya dorong yang kuat. Kemudian sayap ekor yang berfungsi sebagai kemudi mengarahkan sebaik-baiknya supaya jangan terbangnya menyimpang dari tujuan.

Bhakti Marga, mengutamakan penyerahan diri dan pencurahan rasa; Jnyana Marga, menggunakan akal yang membangkitkan kesadaran; Karma Marga mengutamakan kerja tanpa pamrih untuk kepentingan diri sendiri, dimana pengabdian sebagai mativator dari geraknya dan Raja Marga mengajarkan pengendalian diri dan konsentrasi.

Manusia yang akalnya hebat tetapi tanpa rasa adalah sama dengan komputer atau mesin, sebaliknya orang yang rasa emosinya tinggi tanpa diimbangi dengan akal, akan menjadi “kedewan-dewan“, bhakti dan jnyana amat perlu hebat tetapi seimbang. Akal yang hebat dan rasa yang kuat, akan sangat berguna kalau dapat diarahkan ke suatu tujuan yang baik, sebab itu diperlukan konsentrasi supaya jangan menyimpang dari arah.

Kalau akal dan rasa sudah seimbang, arah sudah terpusat, maka orang akan bisa mencapai prestasi yang sangat tinggi. Prestasi yang tinggi kalau digunakan untuk kepentingan diri sendiri akan membahayakan, sebab itu perlu kehebatan yang dimiliki oleh manusia itu diabdikan untuk kepentingan orang banyak.

Demikianlah akal dan rasa, dipadukan secara seimbang, tekad yang kuat dan terkendalikan serta terarah digerakkan untuk mengabdi.


Bhakti Marga

Bhakti artinya cinta kasih. Yang mana di Bali pengertian cinta kasih ditujukan untuk pernyataan cinta kepada yang lebih tinggi, misalnya : kehadapan Ida Sanghyang Widhi, kepada Bangsa dan Negara atau pribadi-pribadi yang dihormati.

Ada dua tingkatan Bhakti, yaitu Apara Bhakti dan Para Bhakti.

Apara Bhakti adalah perwujudan bhakti yang masih lebih rendah dan dipraktekkan oleh orang-orang yang belum mempunyai tingkat kesucian yang tinggi, sedangkan Para Bhakti adalah cinta kasih dalam perwujudannya yang lebih tinggi dan biasa dipraktekkan oleh orang-orang yang Jnyananya tinggi dan kesuciannya sudah meningkat.

Ajaran Bhakti Marga adalah ajaran yang langsung dan riil mencari Tuhan, ajaran yang alamiah, ajaran yang sudah diterima dan dilaksanakan oleh orang awam, ajaran yang sejak dari permulaan, pertengahan dan akhir tetap begerak di dalam getaran cinta kasih.

Ajaran Bhakti adalah ajaran yang mudah dilaksanakan oleh segala tingkat dan sifat manusia. Baik orang miskin maupun orang kaya, orang pandai maupun orang kurang pengetahuan, petani, pedagang maupun pejabat, semuanya bisa menempuh jalan ini.

Seorang Bhakti disebut dengan Bhakta, adalah orang yang penuh cinta kasih, cinta kepada Tuhan, cinta alam semesta, ciptaan Tuhan ini. Bagi seorang Bhakta tidak perlu tahu apakah Tuhan itu baik atau buruk, apakah Tuhan itu kecil atau besar, kuasa atau tidak kuasa, yang penting bagi mereka Tuhan itu ada dan Tuhan itulah yang dicinta.

Seorang Bhakta mencintai Tuhan, bukan karena ingin mendapat imbalan supaya masuk sorga ataupun moksa, karena bagi mereka kebahagiaan tertinggi itu adalah bercinta dengan Tuhan. Bhakti Marga menggunakan rasa sebagai sarana, rasa cinta yang alamiah tetapi meluap-luap, rasa cinta yang mengalir seperti aliran sungai yang bergerak dengan derasnya, karena rindunya bertemu dengan lautan.

Dapat juga diumpamakan seperti tumbuh-tumbuhan yang merambat yang lemah yang melilit dengan setia pada kayu yang besar dari bawah sampai ke puncak, begitu pulalah seorang Bhakti Marga yang melekat pada Tuhan, tidak pernah melepaskan diri sekejappun, sehingga walaupun sebagai manusia awam yang tidak tahu apa-apa, tetapi dengan bhakti mereka melekat pada Tuhan. Mereka akan bisa menikmati kebahagiaan yang tertinggi melalui bhakti.

Orang tidak terpelajarpun dapat melaksanakan bakti, dengan jalan tidak menggunakan akal, orang terpelajar kalau menempuh bhakti marga mereka harus melepaskan akalnya, kalau tidak demikian, maka akalnya ini akan bisa menjadi penghalang.

Contohnya, jika seorang terpelajar sembahyang di suatu Pura, di mana mereka melihat patung kayu yang harus mereka puja, maka jika akal mereka ikut bicara, mereka menjadi ragu-ragu akan kebenaran Tuhan yang ada dipatung kayu itu, akibatnya rasa bhaktipun tidak mantap.

Hampir semua agama-agama besar yang ada di dunia adalah berdasar pada cinta kasih, jalan ini disamping mudah, wajar juga bagi semua lapisan bisa melaksanakannya dan bahayanyapun kurang.

Gejala-gejala Bhakti Marga dalam kehidupan sehari-hari, adalah :

  1. Kerinduan untuk bertemu

    Sebagaimana halnya orang yang jatuh cinta, maka setiap saat rasanya mereka ingin mengunjungi kekasihnya, mereka rindu untuk bertemu menyampaikan rasa hatinya.

    Di dalam agama keinginan untuk bertemu itu diwujudkan dengan sembahyang. Demikianlah bagi orang yang telah tergetar dengan cinta/bhakti dengan Tuhan akan melaksanakan persembahyangan dengan taat dan setiap saat sembahyang tiba dia merasakan kerinduan yang mendesak. Itulah tanda-tanda orang yang sudah memulai Bhakti Marga. Sebelum rasa yang demikian dirasakan maka secara jujur belum bolehlah seseorang menyebutkan dirinya bhakti.

  2. Keinginan untuk berkorban

    Rasa bhakti atau rasa cinta menimbulkan keihlasan untuk berkorban, sebagaimana seorang pemuda yang sedang jatuh cinta kepada seorang gadis, disamping rindu ingin bertemu juga ingin memberikan sesuatu baik berbentuk materi maupun tenaga.

    Inginlah mereka menyerahkan harta miliknya, ingin pula berbuat sesuatu yang bisa menyenangkan kekasihnya, meskipun kekasihnya belum memintanya.

    Demikian pula jika diperhatikan di masyarakat, bahwa umat dengan sungguh-sungguh rela mengorbankan harta bendanya demi untuk kepentingan upacara. Kadangkala untuk yang dimakannya mereka masih berpikir, walaupun buah, sayur-sayuran, daging adalah untuk kesehatan. Inilah suatu pertanda bhakti, ingin berkorban dan mempersembahkan yang terbaik kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa.

    Seorang bhakti tidak mengenal payah, pura yang di puncak gunung, di tepi laut, dicari pula, persiapan-persiapan upacara yang memerlukan tenaga berhari-hari mereka laksanakan dengan senang hati, karena bhakti.

  3. Keinginan untuk menggambarkan

    Umat Hindu di Bali menggambarkan Ida Sanghyang Widhi atau manifestasi-Nya, berupa Pratima, Arca, dan sejenisnya, termasuk juga banten-banten, untuk melambangkan-Nya, seperti : Banten Dewa-Dewi, Catur dan sebagainya adalah melambangkan, begitulah seolah-olah rupanya Tuhan.

    Walaupun umat Hindu memuja Patung, Arca, Pratima, yang terbuat dari kayu, emas, uang kepeng, yang terbayang dalam ingatannya adalah Tuhan, bukan kayu, emas, uang kepeng dan sebagainya.

    Penggambaran yang demikian tidaklah salah, karena merupakan cetusan hati yang paling dalam, karena kasih. Jika kita bandingkan dengan orang yang sedang jatuh cinta “kasmaran” (cinta yang kalewatan), bantal gulingpun dibayangkan sebagai kekasihnya, dipeluk dan diciumnya. Cinta memerlukan objek dan sasaran.

  4. Bhakti melenyapkan rasa takut

    Orang yang bhakti kepada Tuhan, hutan yang lebat, ular dan binatang buasnya tidak akan menghalangi keinginannya untuk berbhakti. Tengah malam dalam keadaan sepi, mereka berani sendiri untuk datang ke Pura. Bhakti menghilangkan rasa takut.

  5. Bhakti melahirkan rasa seni

    Keinginan untuk menggambarkan Tuhan dan menghias Tuhan yang dicintai itu seperti menghiasi anaknya yang dikasihi. Begitulah kita lihat di Bali, Pura-Pura yang dibangun akan selalu diukir yang indah, sedangkan untuk bangunan rumah tidak akan dibuat seperti itu. Patung-patung dihias, diberi kain, seperti layaknya manusia.

    Jajan-jajan sajen berwarna-warni dan jenisnya lebih dari ratusan, tetapi jajan untuk makanan sehari-hari, bagi penduduk Bali, paling banyak hanya sepuluh macam.

    Hiasan seni janur yang bermacam-macam, penjor, lamak dan perlengkapan yang lainnya, adalah mengandung simbol dan penuh dengan kreasi seni. Demikian juga seni adalah lambang penghalusan budi, budi yang halus adalah sarana pendekatan diri dengan Yang Maha Suci.

    Hubungan seni dengan Bhakti Marga adalah sangat erat sekali, dia saling mengisi dan saling menguatkan, serta saling memperkaya, karena dasarnya satu yaitu rasa.

  6. Bhakti melahirkan rasa terharu
  7. Orang yang bhakti sering kita lihat, jika sembahyang meneteskan air mata, bukan karena menangis, namun karena terharu. Rasa terharu terpengaruh pula dari bunyi-bunyian, gambelan, kekidungan. Maka itu tabuh yang dipergunakan di Pura adalah Smara Pagulingan, yang alunannya sedih namun manis. Demikian pula kekidungan, yang nadanya menawan hati.

    Rupa-rupanya orang yang rindu pada kekasihnya, akan berkata yang halus, lembut, seperti orang sedih.

  8. Bhakti melahirkan adanya mythologi

    Disamping simbol-simbol berupa pratima dan banten, Bhakti Marga sangat suka menggunakan mythologi, sebagai tuntunan untuk memantapkan bhakti.

    Dalam ceritra “Barong Swari” diceritrakan bahwa Dewa Iswara wujud dari Barong, ada Telek lambang Dewa Wisnu dan Topeng Bang lambang Dewa Brahma, pada hari-hari suci dipentaskan, sebagai lambang pengusir mara bahaya. Demikian pula ceritra Badawangnala, Anantabhoga, Naga Basukih, Naga Taksaka, pemutaran Mandharagiri, dalam pengambilan Tirtha Amertha, sebagai lambang kesuburan dan lambang kehidupan.

Demikianlah wujud Apara Bhakti, yakni bhakti dalam taraf permulaan, sedangkan wujud Para Bhakti (bhakti yang lebih tinggi), akan tampak kadang-kadang sering bertentangan dengan Apara Bhakti. yang disebut Para Bhakti adalah cinta kasih yang tingkatannya sudah tinggi, tidak semua orang dapat melaksanakannya. Cinta kasih yang sudah sampai orang merasakan tergila-gila kepada Tuhan. Bagi mereka Tuhan adalah segala-galanya, kerinduan yang terus menerus, kesediaan berkorban setiap saat dan tidak kenal tawar-menawar.

Kadangkala umat senang sekali datang ke Pura untuk sembahyang, kemungkinan ada rasa takut “kapongor” atau untuk memohon sesuatu. Itulah tanda-tanda Apara Bhakti. Tetapi kalau Para Bhakti mereka datang ke Pura, karena rindu untuk bertemu, dan tidak ada rasa takut, karena Tuhan maha pengasih.

bersambung…

Advertisements

One thought on “Catur Marga/Catur Marga Yoga – 1

  1. Pingback: Catur Marga/Catur Marga Yoga – 2 | ...blog nak belog...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s