Siwaratri – Makna Spiritual Daun Bila (Bilva)

Tanaman Bilva (Ficus religiosa) adalah tanaman suci, mempunyai akar ke atas (spirit) dan akar ke bawah (duniawi), merupakan tanaman aswatha (bhagavadgita), dimana setiap lembarnya merupakan simbol-simbol sloka-sloka suci Weda (Suryadharma dkk, 2004).

Tanaman bilva menyimpan zat asam (oksigen/neeter), dimana di dalam Atharwa Weda VI.95.1.disebutkan bahwa :

Asvattho devasadanah

Tanaman bilva (Ficus religiosa) dinamakan tempat kediamannya para dewa sebab ia selalu memancarkan oksigen (nettar).

Kenudian dipertegas lagi dalam Sama Weda 1.824 bahwa :

Tam it samanam vamna caviruddho antarvantis ca sarvate ca vivaha.

Tanam-tanaman dan tumbuhan memancarkan udara vital yang dinamakan samana (oksigen) secara teratur.

Di Bali, daun bilva dipergunakan sebagai sarana pemujaan yang paling utama pada Hari Siwaratri, yang tertuang dalam Siwaratri Kalpa (Titib, 2001, Agastia, 1997).

Di dalam ceritra Lubdaka dikatakan, naik ke atas pohon bilva (irika tikang nisada memenek pang ing maja) . Kata bilva (bila) dapat berubah menjadi wira yang berarti perwira, teguh hati, tekun. Dengan analisis itu maka pohon bilva mengandung simbolik yang menggambarkan bahwa ia adalah bertumpu pada ketekunan (Rai Sudharta, 1994).

Lubdaka adalah seorang pemburu, kerjaanya adalah membunuh yang disebut himsa karma. Sedangkan dalam ajaran Hindu dilarang membunuh, menyakiti yang disebut ahimsa karma. Sebenarnya ceritra Lubdaka dibangun berdasarkan faham dwaita “dualis”. Dimana menurut Bethara Siwa , Lubdaka adalah orang yang telah melaksanakan dharma yang utama, karena setia menjalankan Brata Siwaratri yakni, upawasa, monabrata dan jagra. Ini adalah pemujaan kepada Siwa dengan tepat. Sedangkan menurut Bethara Yama, Sang Giriputri belum tahu tentang Brata Siwaratri ini penuh berkah. Namun Betara Yama menilai Lubdaka adalah si pembunuh maka ia harus mendapat siksa neraka.

Penilaian keduanya ini berdasarkan Wisaya Karma, yaitu perbuatan yang berhubungan dengan panca indra atau perbuatan mengikat, ini yang menurut betara yama. Sedangkan menurut Sreyo Karma, perbuatan yang membebaskan, walaupun perbuatan itu dilakukan dan berhubungan dengan panca indra, bila itu dilakukan dengan tidak mengharapkan hasil maka ia akan menang atas perasaan keakuan, kepemilikan, ketamakan hawa nafsu. Maka ia akan menjadi suci dan dikasihi Tuhan (Narayana, 1991-2). Ini adalah penilaian Betara Siwa.

Selanjutnya dikatakan Lubdaka memetik daun bilva menjatuhkan ke dalam danau. Artinya dia takut terjatuh maka tidak boleh mengantuk. Simbolis di sini dia takut jatuh, yaitu mengalami reinkarnasi dimana reinkarnasi itu adalah kehidupan yang terjadi dari kejatuhan dari sorga atau neraka. Untuk itulah agar tidak jatuh manusia mestinya berintrospeksi diri. Ibarat bayangan bulan di tempayan setiap bayangan itu akan menampakan diri kita secara keseluruhan. Maka ranu, kolam yang ada di bawah dengan lingga disimbolkan cermin untuk melihat bayangan kita sedangkan lingga adalah atma kita.

Memetik-metik daun bilva dalam Pustaka Siwaratribrata sebanyak 108 adalah simbolik dari menghitung kesalahan yang telah diperbuat. Angka 108 dijumlahkan menjadi 9 yakni angka tertinggi, simbolik dari Lubdaka melakukan perbuatan dengan keteguhan hati, ketekunan memuja Siwa adalah mencapai puncaknya (Rai Sudharta, 1994).

Atas dasar analisis itulah maka cerita Lubdaka adalah simbolik seorang yogi dalam menekuni Yoga. Dengan Brata Siwaratri di malam ke ping 14 brata itu mencapai puncaknya. Seperti disebutkan dalam Wrehaspati Kalpa, bahwa bagi mereka yang telah mencapai Samadhi, segala papa nerakanya terbakar, dibakar oleh panasnya api gaib (bhanimaya) sebagai akibat dari matangnya yoga. Oleh sebab itu papa neraka adalah akibat dari pahala atau dosa, maka hal itu juga berarti terleburnya dosa yang telah diperbuat.

Jika dalam hidup tidak pernah melakukan Brata Siwaratri maka dalam hidup ini tidak akan punya arti. Seperti dikatakan dalam Arjuna Wiwaha disebutkan bahwa :

“Seseorang yang tidak pernah melakukan brata, tapa, yoga semadi akan berharap, memaksa supaya memperoleh kesukaan dari Hyang Widhi akan dibalikan halnya dan ditimpa kesedihan, disakiti oleh rajah dan tamah.”


Kesimpulan

Tanaman bilva adalah tanaman suci yang mempunyai akar ke atas (spirit) dan akar ke bawah (duniawi) merupakan tanaman aswatha (bhagavadgita), dimana setiap helainya adalah simbol-simbol sloka. Tanaman ini adalah tempat kediaman Dewa, sebab itu ia memancarkan sinar/oksigen.

Daun bilva adalah merupakan sarana aturan yang paling mulia dalam Siwaratri Kalpa. Pohon bilva dinaiki dan memetik daunya sebanyak 108 adalah simbolik dari seorang yogi yang tekun memuja Siwa sebagai manifestasi yang paling utama, walau bhaktinya tidak sengaja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s