Brata Siwaratri – Makna Ceritra Lubdhaka

Pendahuluan

Pada intinya kita hidup di dunia ini senantiasa dihadapkan pada masalah yang kita kenal dengan Rwa Bhineda, dua yang paradok. Ada siang malam, terang gelap, pagi malam, hitam putih, baik buruk , dan masih banyak lagi. Dari keduanya tadi manusia dihadapkan dilema untuk memilah lalu memilih. Salah pilah dan salah pilih berarti celaka. Oleh karena itu kita perlu mengadakan usaha sadar melalui olah pikiran dan olah rasa agar dapat memilah dan memilih yang tepat.

Untuk itulah maka Hindu banyak mengandung symbol-simbol yang mampu memberikan makna yang mendalam kepada sebuah yang berhubungan dengan kode budaya. Salah satu cerita yang banyak mengandung makna filosofis adalah cerita Lubdhaka. Dalam kesempatan ini, pada hari yang sangat berbahagia ini akan kita kupas tentang pemaknaan Siwaratri itu.


Makna Ceritra Lubdhaka

Mpu Tanakung adalah seorang Kawi Wiku yang mumpuni dalam bidang sastra, beliau berkata : “wruh ngwang nisphala ning mango jenek alanglang I kalangen ikang pasir wukir (KS,I:21) artinya, “aku tahu, percuma saja menikmati keindahan, jika hanya melanglang buana lalu terpesona menikmati keindahan pemandangan pasir-gunung“. Analog dengan wacana itu Mpu Tanakung menyapa kita bahwa, “Percuma saja kita menikmati kekawin Siwaratri, jika hanya mempesona menikmati lapis-lapis kulitnya saja berupa wirama, jalan ceritra, dan permainan bunyi, permainan kata-kata yang membangun kekawin itu tanpa berusaha menyimak makna simbolik yang terkandung di dalamnya.”


Ceritra Lubdhaka dalam Siwaratri

Seorang pemburu bernama Lubdhaka, setiap hari mengelilingi hutan dan gunung. Hidupnya tidak pernah susah. Ia selalu bersenang-senang dengan anak dan istrinya. Sejak kecil ia tidak pernah berbuat kebenaran, kebajikan, perbuatannya hanya membunuh binatang seperti rusa, badak dan gajah. Itulah yang dilakukan setiap hari sebagai satu-satunya mata pencaharian yang dapat memenuhi kebutuhan keluarganya.

Pada hari keempat belas bulan ketujuh (panglong ping pat belas ke pitu), Lubdhaka berburu seorang diri ke dalam hutan memakai baju hitam kebiruan. Perjalanannya ke dalam hutan menuju timur laut, ketika itu hujan gerimis, ia melewati Pura besar (dharma agung) yang keadaanya sudah rusak, namun dewanya tetap kokoh berstahana di dalam relung pelangkiran. Oleh karena kekuatan keutamaan dari malam Siwa (Siwaratri), keadaan hutan menjadi sepi. Keadaan ini membuat Lubdhaka berjalan sampai jauh ke tengah hutan.

Karena merasa penasaran, Lubdhaka terus menelusuri hutan selama satu hari berputar-putar mengelilingi lereng gunung. Setelah sore ia sampai di sebuah kolam besar yang di dalamnya terdapat Siwalinggga. Perjalanan berputar-putar membuat Lubdhaka lesu, payah, haus, lapar. Karena itu, ia beristirahat dan minum air serta mencuci muka sambil menunggu binatang yang mungkin datang minum air.

Namun harapan itu sia-sia, karena sampai malam tidak ada binatang yang datang minum air. Akhirnya ia memutuskan untuk menginap di seputar kolam itu. Untuk menghindari bahaya (dari sergapan binatang), ia memanjat pohon bila dan menaungi kolam dan membawa busur serta anak panahnya. Setelah larut malam ia tidak bisa menahan kantuknya. Agar tidak tertidur, ia memetik daun pohon maja (bila) itu satu persatu sampai fajar. Tanpa disengaja daun-daun yang dipetiknya jatuh di dalam kolam dan semua kandas mengenai Siwalingga. Dewa Siwa yang sedang beryoga disitu sangat senang memperhatikan ketekunan Lubdhaka menyertai yoganya.

Keesokan harinya, setelah pagi, keadaan di sekitar mulai terang disinari matahari. Ia berkemas-kemas pulang, setibanya di rumah, ia dijemput oleh istri dan anak-anaknya dengan rasa gembira. Setelah diceritrakan perjalanannya tidak mendapat buruan, suasana berubah menjadi sedih karena mereka sedang lapar. Mungkin istri dan anak Lubdhaka juga tidak tidur semalam karena menanti kedatangan ayah atau suami yang tidak kunjung pulang.

Beberapa tahun kemudian, Lubdhaka jatuh sakit dan kematian tidak dapat dielakan. Atmanya melayang-layang di angkasa. Dalam keadaan demikian, Dewa Siwa segera memerintahkan abdinya (para gana) untuk menjemputnya agar dibawa ke Siwaloka. Tindakan itu dilakukan Dewa Siwa karena beliau masih ingat dengan perbuatan Lubdhaka yang sangat terpuji, yaitu melakukan Brata Siwaratri pada panglong ping pat belas sasih kepitu pada zaman kreta dahulu semasih hidupnya.

Walaupun hal itu tidak sengaja dilakukannya, karena brata itu yang utama, dapat membersihkan segala dosa. Berapapun banyaknya berbuat kejahatan akan dilebur oleh keutamaan brata itu. Oleh karena itu, sudah sepantasnya Lubdhaka untuk menikmati kebahagiaan di Siwaloka.

Itulah ceritra Lubdhaka yang termuat dalam Siwatari Kalpa. Kita akan kupas satu persatu makna simbolik dari cerita Lubdhaka.


Hari Perayaan Siwaratri

Siwaratri yang datang setahun sekali yaitu pada hari 14 paruh gelap malam mahapalguna (januari-Februari), sehari sebelum Tilem Kapitu, menyediakan seperangkat pengetahuan, nilai, norma-norma, pesan, dan simbol.

Kata ratri berarti malam, karena itu Siwaratri berarti Malam Siwa. Siwa berarti baik hati, suka memaafkan, memberikan harapan. Dengan demikian Siwaratri adalah malam untuk melebur kegelapan hati menu jalan yang terang.

Siwaratri jatuh setahun sekali pada purwaning tilem ke pitu (panglong ping 14 sasih kepitu). Menurut astronomi malam tersebut merupakan malam yang paling gelap dalam satu tahun, maka buana agung terdapat malam yang paling gelap, maka di buana alit pun ada. Kegelapan di buana alit dikenal dengan nama peteng pitu, yaitu mabuk karena rupawan (surupa), mabuk karena kekayaan (dana), mabuk karena kepandaian (guna), mabuk karena kebangsawanan (kulina), mabuk karena keremajaan (yohana), mabuk karena minuman keras (sura), dan mabuk karena kemenangan (kasuran). Kegelapan inilah terjadi karena kesimpangsiuran dalam struktur alam pikiran. Kesimpangsiuran ini terjadi karena pengaruh dasendriya, sehingga menghasilkan manusia yang mengumbar hawa nafsu.


Makna Kata Lubdaka

Kata Lubdhaka (Sansekerta) berarti pemburu. Secara umum pemburu adalah diartikan sebagai orang yang suka mengejar buruan yaitu binatang (sattwa). Kata Sattwa berasal dari kata sat yang artinya mulia sedangkan twa artinya sifat. Jadi sattwa adalah sifat inti atau hakekat. Dengan demikian Lubdhaka adalah orang yang selalu mengejar atau mencari inti hakekat yang mulia.


Tempat Tinggal Lubdhaka

Lubdaka dikisahkan tinggal di puncak gunung yang indah. Gunung di dalam Bahasa Sansekerta disebut acala yang tidak bergerak. Bahkan dalam ceritra Wrespati Kalpa dikisahkan Betara Siwa dipuja di puncak Gunung Kailasa. Jadi tempat tinggal Lubdhaka di puncak gunung dapat diartikan bahwa ia adalah orang yang taat dan tekun memuja Siwa (Siwa Lingga) atau yang sering disebut seorang Yogi.


Alat Perburuan dan Binatang Buruan

Alat bebrburu si Lubdhaka adalah panah, simbol dari manah/pikiran. Dengan senjata pikiran ia selalu berburu budhi sattwa. Agar ia mendapatkan budhi sattwam mesti ia mengendalikan indrianya (melupakan bekal makanan).

Binatang yang diburu oleh Lubdhaka adalah gajah, badak, babi hutan. Dalam bahasa Sansekerta, gajah berarti asti, simbolis dari astiti bhakti. Sedangkan badak sama dengan warak bermakna tujuan sedangkan babi hutan (waraha) mengandung makna wara nugraha.

Dengan demikian ketiga binatang buruan tersebut mengandung makna bahwa Lubdhaka dengan pikirannya yang dijiwai oleh budhi sattwam senantiasa melakukan perbuatan-perbuatan yang didasari oleh astiti bhakti dengan tujuan mendapatkan wara nugraha dari Ida Hyang widhi wasa (Siwa).


Berangkat berburu pada panglong ping 14

Hari ke-14 paro terang di bulan magha ini Si Lubdaka tumben sial, tidak mendapat binatang. Ini adalah waktu kosmis yang tepat untuk melakukan laku spiritual. Bulan dikatakan memiliki 16 kala kekuatan duniawi ini simbolik dari 1 + 6 = 7, yaitu sapta timira. Pada hari ke-14 paro simbolik 1+4 = 5 melambangkan panca indra. Jadi pada pang long ping 14 terang ini telah kehilangan 14 kala dan saat itu hanya masih tinggal 2 kala yakni raga (ego) dan kama (nafsu). Jadi jika kedua kala tadi mampu kita kalahkan maka disana Siwa akan memberikan rahmatnya.


Pagi hari memakai pakaian hitam kebiruan

Hitam adalah lambang keberanian, keperkasaan. Pagi hari disebut Brahman Huhurta “Hari Brahman”, waktu yang baik untuk melakukan olah spiritual atau memuja Tuhan.


Berjalan sendirian

Pemberani. Hanya orang yang tidak mengenal atau mampu mengatasi rasa takut yang berani sendirian masuk hutan lebat. Simbolik dari mengikuti jalan yang disebut nirwrwti marga : jalan spiritual bagi seorang pertapa atau jnanin. Dalam makna berangkat sendirian maka tidak ada teman bicara itu berarti mona brata “tidak berbicara“.


Menuju arah timur laut

Menuju kiblat suci merupakan sandi dari kiblat utara simbol Ratri “malam, gelap, hitam“, dengan kiblat timur simbol Siwa atau Iswara “siang, putih, terang“. Simbolik paham sakti dengan paham Siwa.


Selama perjalanan banyak menemukan tempat suci yang rusak

Simbolik dari merosotnya situasi politik dan merosotnya kehidupan religius umat Hindu.


Tidak seekor binatangpun didapatkan

Binatang simbol “ego” sifat binatang itu tidak lagi ditemukan pada diri sang pertapa, artinya pertapa telah berhasil mengalahkan keakuannya dan rasa kepemilikannya.


Tidak terasa senjapun tiba

Simbol dari daya konsentrasinya kuat. Vivekananda mengatakan bahwa, semakin banyak waktu yang terlewatkan tanpa kita perhatikan, semakin berhasil kita dalam konsentrasi. Ketika yang lampau dan sekarang berdiam menjadi satu berarti saat itulah pikiran memusat. Sandyakala adalah hari sandi antara terang dan gelap yang menyebabkan kenyataan menjadi tidak jelas. Oleh karena seorang pertapa harus lebih awas dengan meningkatkan spiritualnya.


Naik pohon bila yang tumbuh di pinggir kolam dan duduk di cabang pohonnya

Simbol dari meningkatnya kesadaran dengan jalan meditasi untuk memurnikan pikiran agar daya budi terungkap. Pohon bila disimbolkan sebagai tulang punggung yang di dalamnya terdapat cakra-cakra , simpul-simpul energi spiritual yang satu dengan yang lainya saling berhubungan. Duduk di cabang pohon melambangkan daya keseimbangan konsentrasi antara otak kiri dan kanan, yakni otak tengah. Naik ke atas pohon melambangkan bangkitnya daya sakti yang disebut kundalini sang pertapa.


Kolam (ranu atau danau)

Simbol Yoni lambang Sakti atau Dewi, saktinya Siwa adalah lambang kesuburan.


Di tengah kolam ada Siwalingga

Batu alami yang kebetulan ada di tengah danau. Lingga adalah simbol Siwa


Memetik daun bila (bilwa)

Memetik ajaran Siwa. Kata Rwan atau ron, don, berarti daun dan dapat juga berarti tujuan. Jika dirangkai dengan kata maja atau bila (bilwa) maka melambangkan tujuan. Yakni mengembangkan kesadaran. Dengan demikian dapat diartikan dimana sang pertapa selalu memetik sari ajaran untuk mengembangkan kesadaran. Dalam hubungan jagrabrata olah kesadaran dengan mempelajari Siwa Tattwa (ajaran hakekat ketuhanan) sampai akhirnya mencapai pencerahan rohani. Jadi Mpu Tanakung di sini menuliskan dengan simbolis yaitu olah budi dan rasa terpusat kepada Tuhan. Untuk itu disebutkan oleh Mpu Tanakung, mahaprabhawa nikanang brata panglimur kadusta kuhaka, setata turun mapunya yasa dharma len brata gatinya kasmala dahat. Artinya Brata Siwararti adalah mampu meruwat sifat dusta dan keji. Cara meruwat itu adalah dengan melakukan dyana (meditasi), menyanyikan syair pujian, merafal mantra, melakukan japa (menyebut nama Tuhan berkali-kali).


Tiba di pondok sore hari, menjelang petang (hari tilem)

Kenyataan umum setiap orang berburu pasti akan kembali pulang. Simbolnya kembali dari perjalanan suci yang dilakukan selama dua hari satu malam : 36 jam.


Tiba di pondok Lubdaka baru makan

Perjalanan berburu Lubdaka tidak membawa bekal, karena memang tidak rencana menginap. Simbol dari melakukan upawasa, puasa tidak makan dan minum selama 36 jam, yakni dari pagi hari pada hari ke 14 paro terang, purwani tilem sampai besok senja kala hari ke 15 tilem.


Kesimpulan

Itulah critera tentang Lubdaka dimana ceritra itu penuh makna dan arti. Seperti yang dikatakan Mpu Tanakung bahwa kita selayaknya dalam hidup ini selalu amuter tutur penehayu, yang artinya berusaha memutar kesadaran dengan cara yang tepat. Salah satunya adalah menjalankan Brata Siwaratri ini.

Dari cerita diatas dapat kita simpulkan bahwa Lubdaka adalah manusia biasa yang penuh dosa papa, mampu dengan secara kebetulan menjalankan ajaran/memuja Siwa di hari yang ratri, yaitu panglong ping 14 yang mana itu merupakan hari pemujaan Siwa, maka segala dosa yang pernah diperbuat mendapat pengampunan. Artinya, dosa-dosanya itu menjadi berkurang karena perbuatan yang baik, di saat yang tepat.

Ada sebuah renungan yang patut kita hayati bersama di malam Siwaratri :

” Asucir wa sucir wapi, sarwa kama gato’ pi wa, Cintayed Dewam Isanam, sabahyabhyantarah sucih, Siwastawa mantra”

Orang, apakah ia suci atau tidak suci, diliputi oleh segala nafsu sekalipun, bila ia tekun bhakti kepada Dewa Siwa, Ia akan menjadi suci lahir bhatin.

Api cet su-duracaro, Bhajate mam Anaya-bhak, Sadhur ewa sa mantawyah, Samyag wyawasito hi sah (Bhagavadgita, IX:30)

Bahkan orang yang terjahat sekalipun, bila ia memusatkan pikirannya memuja aku, Ia mesti dipandang sebagai orang baik, karena bertindak menuju yang benar.


Sumber : http://iputumardika.wordpress.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s