Siwaratri – 2

Sambungan dari Siwaratri-1

Upacara Siwaratri untuk Walaka

Upakara :

Uttama:

Banten di sanggar surya adalah: catur, dandanan, banten gana, daksina sarwa pat, suci, peras, kelanan dan banten sumur. Banten dihadapan sembahyang adalah: banten palinggih (daksina tapakan), dandanan, bubur putih, bubur barak, bubur wilis winoran, tatak hijo, pulagembal, sasayut, pangambian, peras, prayasita, lis, pangeresikan. Selain itu buat lingga berisi prarahi emas diletakan diatas daun pisang emas rarajahan padmasana ring sor dan rarajahan padmanglayang ring ruhur, berisi daun cemara, daun suala (?), daun kalovi (?) daun bila 108 lembar, bunga bungaan yaitu: waduri putih, putat (?), angsoka, sari tangguli, tunjung, cempaka biru, tunjung bang, tunjung putih, sulasih merik, padangdreman dan wangi-wangian. Banten dikamimitan adalah pajati asoroh, banten ring sor adalah: caru ayam brumbun, biakala dan gelar sanga.

011814_2236_CaturMargaC1.jpg


Madhya :

Banten di sanggar surya adalah: daksina sarwapat, dewa-dewi, peras, suci, kelanan.

Banten dihadapan sembahyang adalah: sesayut, pengambian, prayascita, pangeresikan dan tumpeng ayaban sakabwatan.

Dibuatkan lingga dengan prarahi kayu cendana beralaskan daun pisang bunga-bungaan seperti tersebut tadi, padang dreman, daun bila 108 lembar dan wangi-wangian.

Banten di kamimitan adalah pajati asoroh

Banten ring sor adalah biakala dan segehan agung


Nistha :

Banten di sanggar surya adalah: pajati asoroh

Di hadapan sembahyang banten: sesayut, pangambian dan perasyascita. Dibuatkan lingga dengan bunga waduri putih dialasi daun pisang kayu, bunga-bunga berwarna, padang dreman, daun bila 108 lembar dan wangi-wangian. Banten di kamimitan adalah: canang, daksina. Banten ring sor adalah segehan nasi sasah.


Brata

Uttama :

Upakaranya lengkap seperti tersebut di atas tadi.

Melakukan monabrata, upawasa dan jagra selama 36 jam, mulai dari matahari terbit pada hari panglong 14 kapitu sampai matahari terbenam pada tilem kapitu.


Madhya :

Upakaranya lengkap seperti tersebut diatas. Tidak melakukan monabrata, tetapi melakukan upawasa dan jagra selama 36 jam seperti di atas. Untuk menghilangkan mengantuk, bisa dihibur dengan membaca sastra agama, itihasa atau wiracrita.


Nistha :

Upakaranya boleh tidak lengkap atau dikurangi dari yang semestinya. Tidak melakukan monabratha dan upawasa, tetapi harus melakukan jagra selama 36 jam seperti tersebut di atas. Untuk menghilangkan mengantuk boleh berjalan-jalan ke tempat-tempat suci atau membaca sastra agama, itihasa atau wiracarita.


Tata Cara Ciwaratri untuk Walaka

Terlebih dahulu pada pagi hari pangelong 14 kapitu, melakukan suci laksana atau mapeningan. Sore harinya melakukan persembahyangan kepada Suryaditya maksudnya mempermaklumkan dan mohon agar beliau menyaksikan pelaksanaan Brata Ciwaratri yang dilakukan. Setelah itu bersembahnyang di kamimitan maksudnya mempermaklumkan dan mohon tuntunan batin agar sukses dalam melakukan Brata Ciwaratri.

Setelah hari mulai malam, maka mulai melakukan persembahyangan fase pertama. Persembahyangan dipusatkan kehadapan Hyang Widi dalam manifestasi Siwamahadewa yang dipratisthakan ke dalam lingga itu. Selain itu juga sembahyang ditujukan kepada Dewa Samodaya yaitu: Suryadhitya, Brahma, Wisnu, Iswara, Gana dan Gangga.

Persembahyangan fase kedua yaitu tengah malam, juga dipusatkan kepada Dewa Siwamahadewa serta pula Dewa Samodaya yaitu: Suryadhitya, Brahma, Wisnu, Iswara dan Giriputri.

Persembahyangan fase ketiga yaitu pada pagi-pagi buta besoknya, juga dipusatkan kepada Dewa Siwamahadewa serta Dewa Samodaya yaitu: Suryadhitya, Brahma, Wisnu, Iswara dan Kumara.

Setiap selesai sembahyang diikuti dengan matirtha pakuluh yang dimohon kehadapan Dewa Siwamahadewa.

Untuk persembahyangan fase pertama, setelah selesai sembahyang serta telah matirthapakuluh, lalu daun bila tadi diambil dan dijatuhkan ke dalam sangku berisi air dan cara menjatuhkannya itu adalah satu persatu sampai habis 108 lembar disertai pula padang derman (padang lepas) dan bunga-bungaan yang beraneka warna itu.

Besok paginya setelah sembahyang dan matirtha pakuluh, dilanjutkan dengan nyurud (Yadnya Sesa) dan yang boleh dimakan hanyalah kerak nasi liwet yang disajikan itu hanya berisi garam dan boleh minum air putih, sampai hari telah malam kembali (ini bagi yang melakukan brata upawasa). Dengan demikian, selesailah sudah tatacara pelaksanaan Ciwaratri itu.

Ini berlaku untuk semua tingkat upacara Ciwaratri. Yang berbeda adalah jenis upacara yang dipakai dan brata yang dijalani.

Mengenai tatacara dan sarana yang dipakai dalam melaksanakan brata Ciwaratri, ada pula disebutkan dalam kekawin Ciwaratrikalpa sarga 36 dan 37, namun tidak selengkap seperti yang disebutkan dalam pustaka Ciwaratri Brata dan Aji Brata. Di dalam kekawin Ciwaratrikalpa tidak disebutkan bantennya dan tidak disebutkan mantra dan stawa yang dipakai, sedangkan di dalam pustaka Ciwaratri Brata dan Aji Brata menyebutkan hal itu.


Hakekat Brata Siwaratri

Dalam konsepsi ajaran Siwaratri, mengajukan jalan untuk mencapai Siwaloka, yaitu dengan menjalankan brata, yaitu Mona Brata, Upawasa dan Jagra. Hal ini jelaslah disebutkan, dalam bait-bait kekawin, di bawah ini .

“tuhun kalewih ing bratenajaraken mami niyata maweh phaladhika, tuwin milagaken saduskreta teher masung atisaya bhoga bhagya len, awas tan angusir yamanda phala ning jana gumawayaken tikang brata, sapapa nika sirna de ni phala ning brata winuwusaken ku tan salah” (Siwaratrikalpa,34,4)

(Sebenarnya pantangan yang aku ajarkan sangat utama, tentu akan berpahala utama. Dan lagi akan menghilangkan segala dosa, memberikan kebahagiaan dan kesenangan. Tentu tidak akan jatuh ke Yamaloka, demikian pahala pantangan yang aku katakan tidak ada yang lain. Semua dosanya hilang berkat pahala pantangan yang aku katakan, tidak salah)


“ikang maka ngaran si lubdhaka juga ng huwus angulahaken wara brata, matanghi ri kanang wengi ng kapitu kresna makatithi catur daottama, nda tan hyun ika ring bratadhika nimitta nika tan akejep sakeng takut, tathapi katemu ng phaleriya tuhun karana nika tekeng sabda ninghulun” (Siwaratrikalpa,34,5)

(Yang bernama si Lubdhaka saja yang melaksanakan pantangan yang utama itu. Ia berjaga semalam suntuk pada hari ke empat belas paruh bulan gelap, yang amat utama. Bukan karena sengaja maksudnya melaksanakan pantangan yang utama itu, ia tidak tidur karena takut. Walaupun demikian ia berhasil mendapat pahala dari pantangan itu demikian sebenarnya yang menyebabkan ia berhasil menuju Siwaloka)


“ring enjing I huwus ning anggelar anusmarana datenga ring gurugreha, manembaha juga amwitanglekasaken brata sumuhuna pada sang guru, ri sampun ika madyusasisiga manggelarakena siwanalarcana, teher duluranopawasa saha mona manigasana suddhakangsuga” (Siwaratrikalpa, 37,1)

(Pagi-pagi setelah siap menyatukan pikiran, harus datang ke rumah guru. Menyampaikan sembah dan mohon ijin akan melaksanakan brata menyertai sang guru. Setelah selesai mandi dan mencuci muka, bersiap-siap menuju Siwageni. Disertai dengan berpuasa pantangan berbicara, memakai baju putih yang baru)


“ri sampun i telas nikang rahina ring wengi niyata matanghya tan mrema, bhatara siwalingga kewala sirarcana i dalem ikang suralaya, kumara nguniweh gajendrawadana ng ruhunana sira kapwa pujanen, rikang rajani yama pat gelarana krama nira manuta ng sakabwatan” (Siwaratrikalpa,37,2)

(Setelah siang berlalu, pada malam harinya berjaga-jaga tidak boleh tidur. Hanya Lingga Siwa yang dipuja pada istana Bhatara Sanghyang Kumara dan Sanghyang Gana patut dipuja lebih dahulu. Saat malam hari selama 4 yama, gelarlah sarana upacara, sesuai dengan kemampuan).

Jelaslah berdasarkan kutipan di atas, Brata Siwaratri yang harus mendapatkan perhatian, yaitu Mona, Upawasa dan Jagra. Mona artinya wacang yama, kahreting ujar, haywa akecek kunang. Maksudnya mengendalikan kata, jangan berkata-kata sedikitpun. Hal inipun perlu dilaksanakan dengan keteguhan hati, yakni dalam melaksanakan Brata Siwaratri. Tetapi dalam kehidupan sehari-haripun kita harus mengendalikan perkataan, tidak berkata yang dusta (ujar madwa), tidak berkata-kata kasar (ujar apregas), tidak berkata-kata yang kotor (ujar parusya), prinsipnya melaksanakan Sad Dharma Wacana, yaitu : senang merapalkan Weda, senang melakukan pemujaan, berbicara yang menawan, membicarkan tentang perbaikan tempat suci, ramah-tamah dan hormat kepada tamu.

Upawasa, artinya puasa atau tidak makan dan minum. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari kitapun dapat melaksanakan upawasa dalam pengertian berpantang tehadap makanan/minuman yang berlebih-lebihan. Merupakan suatu ajaran yang mengatur keseimbangan kerja dengan pengaruh energi yang diperlukan, disesuaikan dengan berat ringannya suatu pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan swakarma seseorang. Pantangan makanan/minuman yang berlebih-lebihan adalah merupakan latihan untuk memperkuat daya tahan kerokhanian yang merupakan latihan pengendalian diri dalam mengendalikan nafsu keduniaan.

Jagra, artinya bangun, berjaga atau tidak tidur. Istilah lainnya adalah tan aturu, tan mrema, atanghi atau atutur. Terhadap makna yang terkandung dalam jagra/atanghi, disebutkan :

“yadin sagati-gatya ning wang amangun hala lumarani buddhi ning para, dwijaghna tuwi mon kretaghna gurutalpaka mati raray unggu ring weteng, sapapa niki nasa de nikin atanghi manuju siwaratri kottama, sawet ni parama prabhawa nikanang brata kalingan I sabda ni nghulun” (Siwaratrikalpa,37,8)

“ikang mangaran si Lubdhaka juga ng huwus angulahaken wara brata, matanghi ri kanang wengi ng kapitu kresna maka tithi caturdasottama” (Siwaratrikalpa,34, 5a,b)

“sapapa nika sirna de ni phala ning brata winuwusakenku tan salah” (Siwaratrikalpa,34,4d)


(Demikian pula semua perbuatan orang yang tidak baik dan menyakiti hati orang. Membunuh pendeta, tidak ingat dengan pertolongan orang, durhaka kepada guru, membunuh bayi dalam kandungan. Semua papa itu lebur karena majagra (melek) pada Siwa yang utama. Berkat keutamaan pengaruh brata itu demikian kesimpulan kata-kataku).

(Yang bernama su Lubdhaka saja yang melaksanakan brata yang utama itu, ia melek (atanghi) semalam suntuk pada hari ke empat belas paruh bulan gelap).

(Semua papanya lebur oleh pahala brata (pantangan) itu, demikian kataku tak salah)


Kesimpulan

  1. Brata Siwaratri adalah brata yang mulia untuk melebur dosa.
  2. Brata adalah segala keteguhan hati atau suatu pengendalian diri.
  3. Melalui Brata Siwaratri : Mona, Upawasa dan Jagra adalah jalan menuju Siwaloka.
  4. Perayaan Siwaratri perlu dilaksanakan lebih mantap oleh umat Hindu.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s