Siwaratri – 1

Pendahuluan

Pada hari panglong ping 14 sasih kepitu (catur dasi kresnapaksa maghamasa), disebut Hari Siwaratri atau Rarahinan Siwaratri. Pada saat itu masyarakat umat Hindu di Bali dan Lombok khususnya, melakukan suatu kegiatan keagamaan dengan membuat upacara bebanten dan dibarengi dengan melakukan pajagran, antara lain dengan mabebasan atau mapepaosan semalam suntuk.

Kegiatan ini dulunya hanya dirayakan oleh orang-orang tertentu saja, tetapi pada tahun-tahun terakhir ini pelaksanaannya sudah semakin meluas dengan melibatkan berbagai lapisan masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa umat semakin memiliki kesadaran tentang pentingnya perayaan Siwaratri. Apakah ada suatu nilai yang telah dapat menumbuhkan dan mendorong timbul dan berkembangnya kegiatan semacam itu ? Adakah masyarakat yang telah dapat memahami dengan benar nilai-nilai keagamaan yang terkandung dibalik makna Siwaratri dan sekaligus di balik makna kisah Lubdhaka ? Hal itulah yang menjadi dasar pokok pemikiran untuk mengadakan suatu pertemuan dalam hal memaknai Siwaratri tersebut.

Mengenai hal itu telah banyak para sarjana yang telah mengumpulkan data-data yang berhubungan dengan Siwaratri. Lebih-lebih Dr.C. Hooykaas dengan penuh perhatian mengumpulkan dan menyalin lontar-lontar yang tersebar dan menulis tentang pelaksanaan upacara Siwaratri dalam bukunya Agama Tirta.

Disamping itu kita ketahui bahwa hampir setiap hari menjelang hari Siwaratri atau pada hari Siwaratri, diadakan Upanisada oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia, tentang Siwaratri dan beberapa tokoh menurunkan tulisan-tulisan tentang aspek-aspek yang berhubungan dengan Siwaratri dalam media massa dan mengadakan siaran melalui media elektronik. Demikian juga para sekaa santi, melakukan kegiatan dengan istilah masanti, yakni membaca naskah Siwaratri baik yang berupa Kekawin maupun berupa Geguritan dengan memberi terjemahan serta pengupasannya. Jelaslah terjemahan dan pengupasannya cukup beraneka, walaupun masih dapat ditarik persamaan pandangan dalam hal-hal tertentu.

Demikian juga sudah sering diadakan seminar atau kesatuan tafsir terhadap aspek-aspek keagamaan yang terkandung dalam makna Siwaratri. Namun demikian untuk lebih mengingat kembali agar pelaksanaan Siwaratri itu lebih mantap dan dapat mensosialisasikan kepada masyarakat, tentang tata cara pelaksanaan, yang berhubungan dengan Upakara-Upakara yang dipersembahkan dan Brata-Brata yang wajib dilaksanakan dalam perayaan Siwaratri. Maka itulah dalam penulisan artikel ini akan disampaikan tentang Upakara dan Brata Siwaratri. Semoga dan dengan penuh harapan setelah membaca artikel ini dapat memberikan rangsangan guna lebih meningkatkan minat untuk mencari sipta atau suksmaning Siwaratri.


Pengertian Siwaratri

Untuk memproleh gambaran tentang pengertian Siwaratri, Siwaratrikalpa atau Brata
Siwaratri, dikutipkan dari Pustaka Padmapurana, yakni perkataan Maharesi Wasista kepada Raja Dilipa, sebagai berikut :

Srnu rajan pravaksyami siwaratrivratam tava wratanam uttamam saksac chiwalokaikasadhanam (Tuanku, dengarkan dan saya akan menerangkan kepada Tuanku tentang brata malam Siwa, yang jelas merupakan Brata yang paling utama, yaitu jalan untuk mencapai sorganya Siwa).

Maghaphalgunayor madhye krsnapakso catur dasi siwaratriti vijnya sarva papapaharini (Malam ke-14 yang gelap pada pertengahan bulan magha/kepitu atau phalguna/kawelu, haruslah dikenal sebagai malam Siwa yang membebaskan semua dosa).

Krtopavasa ye tasyam sivam arcanti jagratah bilvapatrais caturyamam tayanti sivatulyatam (Mereka yang berpuasa dan tetap tidak tidur, berbakti kepada Dewa Siwa dengan daun bila selama malam itu mendapatkan identitas dengan dewa Siwa).

Na tapobhir na danais ca na va japyasamadhibhih prapyate tatphalam rajan nopavasa makhadibhih (Bahwa imbalannya tidak diperoleh dengan kekerasan, tidak juga dengan hadiah-hadiah, samadhi, doa, puasa dan lain-lain).

Guhyad guhyataram loke vratam etc chivapriyam tvayapi khalu sarvatra na praksam idam vratam (Brata ini adalah sangat rahasia di dunia ini dan tentu saja tidak boleh dibuka dimana-mana walaupun oleh Tuanku sendiri).

Bhudaranam yatha merus tejasam bhaskaro yatha dvipadam ca yatha viprah kapileva catuspadam, Japyanan iva gayatri rasanam amratam yatha purusanam yatha visruh strinam yadvad arundhati, Sivaratrivratam rajan vratanam uttamam tatha sivaratrir mahavhnir bhavanicasamanvita, Dahaty avarite yogac chuskardam kalmasodhanam etat te kathitam rajan sivaratri vratam mahat evam eva pura devyai mahadewena bhasitam. (Brata malam Siwa merupakan brata yang paling istimewa, ibarat Merunya pegunungan, Matahari dari apa yang bersinar, guru dari makhluk-makhluk yang berkaki empat, Gayatrinya doa, amertanya cairan, Wisnunya orang laki, Arundhatinya orang wanita, Malam Siwa yang diasosiasikan dengan Dewi Bhawani, begitu terjadi kontak, membakar bahan bakarnya dosa, baik basah maupun kering. Brata agung malam Siwa ini telah diuraikan kepada Tuanku, seperti telah diceritrakan kepada Dewi sebelumnya oleh Mahadewa).

Berdasarkan kutipan dari Padmapurana seperti yang tersebut di atas, maka dapatlah dipahami, bahwa Siwaratrikalpa itu berarti Brata yang dilakukan pada malam Siwa. Malam Siwa itu jatuh pada hari panglong ping 14 sasih kepitu yang mana Dewa Siwa melakukan yoga samadhi, untuk melebur segala macam dosa manusia yang bakti dan memuja beliau. Dewa Siwa melebur mala petaka dunia yang mengganggu keserasian Bhuwana Agung. Panglong ping 14 sasih kepitu, pada malam harinya merupakan malam yang tergelap didalam masa setahun. Kegelapan yang tergelap yang menguasai Bhuwana Agung akan memberi pengaruh kepada bhuwana alit yakni diri kita sendiri, maka itu wajiblah kita melakukan pemujaan kehadapan beliau, dengan melaksanakan Brata Siwaratri, yakni Mona, Upawasa dan Jagra.

Brata Siwaratri dan Tata Pelaksanaannya

Tata cara pelaksanaan dari Brata Siwaratri, disebutkan dalam pustaka Siwaratri Brata. Dalam pustaka ada disebutkan tentang petunjuk terutama bagi Sang Sadhaka dalam melakukannya, lengkap dengan puja mantranya. Dalam manggalanya, disebutkan :

“Nihan krama siwaratri brata uttama, tindakira sang pandita siwa mwang buddha, sang maharep lepas saking atma sangsara, siddhaning yasa, tapa, brata, dhyana, yoga, samadhi mwang kirtinya …”

(Inilah tata cara melaksanakan Brata Siwaratri utama, yang dilaksanakan oleh Pendeta Siwa maupun Pendeta Buddha, orang yang mengharapkan terlepasnya atma dari sengsara, guna berhasilnya yasa, tapa, brata, dhyana, yoga, samadhi serta kirtinya…)

Dalam buku Agama Tirta yang ditulis oleh Dr. C. Hooykaas, mencantumkan transkripsi naskah upacara Siwaratri, terutama mengenai upacaranya. Manggala dari naskah itu menyebutkan :

“Iti kalingan brata Siwaratri, caru ring sanggar tawang, 4 dandanan tekeng catur, banten gana, banten sumur, banten palinggihan, saha dandanan swang swang …”

(Inilah keterangan mengenai Brata Siwaratri, cari di sor sanggar tawang, dandanan 4 lengkap dengan catur, banten gana, banten sumur, banten palinggihan, disertai dandanan masing-masing …)

Sedangkan dalam lontar Aji Brata, diuraikan lebih lengkap, sebagai berikut :

“Iti kalinganing abrata siwaratri, sa, ring sanggar tawang 4 dandanan, tekeng catur, banten gana, banten sumur, banten palinggihan, padha sadandanan swang, bubur pehan, bubur gula, winoran tak wilis, mwang daging sarwa suci, mwang sarwa wawangi pinaka dhupa, pula gembal, sasayut katututan, pras, lis, gelas sanga. Mwah lingganing bhatara aprarahi kancana, palungguhanya rwaning pisang tahen, rinajah padmasana ring sor, ring ruhur padma anglayang, yeka pinakadining caniga, dulurana rwaning camara, rwaning swaha, sabagianya kari sekarnya, mwah parijata, rwaning kalewi, yeka pinakadining caniga, plawa samadaya, cinagaron tan kari, sapa dulurnya, asaksi ping telu tekeng rahina, purwania sore, madyaning ratri, pareking rahina. Tatkalaning apraya angabhakti, sama atepung tawar, asagawu, wus abhakti, kasaksi asiwaratri, teher atirta samadaya. Kang tumuta siwaratri, ping tiga swang. Tatkala huwus angabhakti, muwah huwus atirta, sinebit rwaning maja, tibakena ring kumbha mesi we, idep tibeng padmasana rwan ikang maja, telenging sagara, saksenen ring Sanghyang Siwadutya, muwah ring sanghyang purusa pradhana, muwah ring sanghyang triyodasasaksi, muwah ring sanghyang jagatnatha, mwah ring sanghyang prajapati.

Mwah abhakti, sinusupan rwaning maja 108, pinarah tiga, ikang rwaning maja satus welu, pinaka wangi, muwah sekar pinakadinya, menur, kenyeri, gambir, kacubung, waduri putih, putat, angsoka, sari tangguli, tanjung, kalah, campaka, tunjung biru, tunjung bang, tunjung putih, sulasih merik, tan kari dukut dreman, mwah sarwa sekar asing wenang anggonta meyos, arthania 11.

Muwah purwania mangabhakti duking rahina, amwita ring sanghyang surya, muwah ring guru graha, kawangene majinah 2, wus angabhakti raris amona, teher angupawasa, sore raris angembat.

Malih angabhakti duking sore, amwita ring sanghyang surya, ka iswara, ka wisnu, ka brahma, ka siwa, ka, sumur, ka gana.

Malih angabhakti ring tengahing wengi, ka surya, ka iswara, ka wisnu, ka brahma, ka siwa, ring sanghyang giriputri.

Malih angabhakti ri mehing rahina, ka surya, ka iswara, ka wisnu, ka brahma, ka siwa, ka bhatara Kumara, kawangene sinusupan rwaning maja, ne majinah 11, maka ping 3 sowang-sowang.

Mantraning angabhakti yan asiwaratri, ma.,OM OM Siwa linggaya namah, Saha nibakakena rwaning maja, rwaning maja 108, parah tiganen. OM Gung Guru padukebhyo namah,OMOM Paramagurubhyo namah, OM OM Paramestigurubhyo namah, ring sanggar tuduhing mantra. OM Hrang Hring sah Siwalinggaya namah.

Luhuring sanggar tuduhing mantra : OM Kung Kumaraya namah. Kiduling sanggar,OM Gemung Gana pataye namah,OM Gajendramukha pataye namah.

Iti pangabhakti asiwaratri. OM OM Siwa linggaya namah, OM OM Astalinggaya namah.”

Dari naskah-naskah yang tersebut di atas, bahwa pelaksanaan upacara Siwaratri, dapat dibedakan menjadi 2 yaitu : untuk Sadhaka dan untuk Walaka. Dalam hubungan itu ada 3 hal yang patut diperhatikan, yaitu : Upakaranya, Bratanya dan Tatacaranya dan itupun masih dibedakan menurut tingkatannya : Uttama, Madhya dan Nista.


Upacara Siwaratri untuk Sadhaka

Upakara :

Uttama :

Mendirikan sanggar Tawang, berisi banten catur wedhya, daksina sarwapat 1, suci wedhya 3, dandanan, peras, ajuman, sodan, salaran, kelanan, sorohan, karangan itik, pangkonan, rayunan prangkat, ulam itik.

Di hadapan memuja : banten gebogan, bubuh pesaji, sega liwet, bubur putih, bubur bang, bubur wilis, misi tak hijo, sesayut panca lingga, peras gede, tumpeng, pangambyan, prayascita lewih, penyeneng, padudusan agung,pangresikan, lingga diisi rerajahan padmanglayang dan kain sutra kuning diisi rerajahan padmasana. Selain itu dibuatkan : lingga emas dihiasi dengan kain sutra kuning sebagai siwa pratistha, ayaban saha bebangkit dan sesayut durmanggala. Bunga berwarna-warni, yaitu : menuh, kanyiri, gambir, kecubung, waduri putih, putat, angsoka, sari tangguli, tanjung, kalak, cempaka, tunjung biru, tunjung bang, tunjung putih, dan sulasih merik. Daun bila 108 lembar, wangi-wangian dan padang dreman.

Di palinggih Kamimitan berisi banten pajati selengkapnya asoroh. Di bawah di halaman, banten caru ayam brumbun, biakala, gelar sanga, segehan agung.


Madhya :

Banten seperti pada tingkat utama, tetapi di sanggar Surya, memakai banten ardhanareswari, tidak memakai catur, daksina rongan, suci alit, peras, sodan, tipat kelanan.

Di hadapan memuja : banten ayaban majerimpen tanpa bebangkit, padudusan alit, bubur bang, bubur putih, bubur wilis berisi kacang hijo, sesayut panca lingga, tumpeng, pangambian, prayascita, panyeneng, pangresikan. Lingga emas diganti dengan lingga perak, dialasi dengan pucuk daun pisang emas, bunga berwarna, daun bila 108 lembar, seperti pada tingkat uttama.

Di Kamimitan banten pajati asoroh.

Di bawah (natar) banten caru ayam brumbun, biakala, segehan agung.


Nista :

Di sanggar banten pajati asoroh.

Di hadapan mamuja : prayascita, panyeneng, pangresikan, sesayut panca lingga, ayaban sakabwatan.

Di halaman (natar), segehan agung.

Banten di Kamimitan : pajati asoroh. Lingga dibuat dengan bunga widuri putih, dialasi pucuk daun pisang kayu. Bunga berwarna, daun bila 108 lembar, seperti di atas.


Brata :

Uttama :

Monabrata, diam tidak berbicara, duduk dan beryoga.

Upawasa, tidak makan dan tidak minum.

Jagra, tidak tidur.

Hal itu dilakukan setelah persembahyangan, yang didahului dengan surya sewana, Argha dan Pancalingga. Semua jenis brata itu dilakukan selama 36 jam, mulai matahari terbit pada panglong ping 14 sasih kepitu, sampai matahari terbenam hari tilem kepitu.


Madhya:

Brata yang dilakukan adalah Upawasa dan Jagra.

Untuk menghilangkan kantuk, bisa dihibur dengan membaca pustaka yang memuat sastra agama, itihasa atau wiracarita. Upawasa dan jagra itupun harus dilakukan selama 36 jam.


Nista:

Brata yang dilakukan hanyalah jagra, selama 36 jam. Untuk menghilangkan kantuk bacalah pustaka agama, itihasa atau wiracarita, bisa juga berjalan-jalan ke tempat-tempat suci.

Tata Cara Ciwaratri untuk Sadhaka

Bagi Sadhaka yang nabenya masih ada, terlebih dahulu melakukan padacamani kepada Nabenya. Ini dilakukan waktu siang hari pada pangelong kapitu. Setelah itu pada sore harinya bersembahyang di kamimitan yang maksudnya mempermaklumkan kepada leluhur yang telah suci bahwa yang bersangkutan melaksanakan Brata Siwaratri dan memohon agar leluhurnya memberikan tuntunan batin untuk mencapai tujuan.

Pada waktu mulai memasuki malam hari, pemujaan dilakukan dengan Puja Argha dan Pasang Lingga didahului dengan Suryasewana dan Pujaparikrama. Pemujaan yang demikian itu dilakukan tiga kali yaitu: mulai memasuki hari malam, pada tengah malam dan menjelang pagi besoknya.

Persembahyangan dipusatkan kepada Dewa Siwamahadewa sebagai manifestasi Hyang Widi yang paling sempurna yang diproyeksikan atau diprastithakan ke dalam lingga yang dibuat itu. Sarana yang dipakai dalam menyembah Ciwalingga adalah semining mahe (kedapan daun bila) daun bunga kuning. Maksud persembahyangan itu adalah memohon kehadapan Hyang Widi Wasa dalam manifestasi Ciwamahadewa untuk melebur dosa dan papa neraka siyajamana (yang melakukan Brata Ciwaratri itu). Di dalam sembahyang itu pikiran dan batin dipusatkan seperti dalam keadaan yoga semadhi, sehingga muncul suatu getaran-getaran suci pertanda telah kontaknya dengan Dewa Ciwamahadewa. Selain persembahyangan pokok ditujukan kepada Dewa Ciwamahadewa, juga sembahyang kepada Dewa Samodaya seperti Suryadhitya, Brahma, Wisnu, Iswara, Gana dan Gangga. Ini adalah sembahyang kepada Dewa Samodaya ketika sembahyang mulai memasuki malam hari. Untuk sembahyang tengah malam, maka Dewa Samodaya yang disembah adalah: Suryadhitya, Brahma, Wisnu, Iswara dan Giriputri. Untuk sembahyang pagi-pagi buta besok paginya, Dewa Samodaya yang disembah adalah: Suryaditya, Brahma, Wisnu, Iswara, dan Kumara.

Selesai sembahyang, dilanjutkan dengan matirthapakuluh yang dimohon kehadapan Dewa Ciwamahadewa.

Sesudah selesai sembahyang fase pertama dan juga telah nunas tirta pakuluh, lalu daun bila  tadi diambil dan dijatuhkan ke dalam sangku berisi air dan cara menjatuhkannya adalah satu persatu sampai habis 108 lembar disertai pula dengan padang lepas (dukut dreman) dan bunga-bunga yang berwarna itu.

Besok paginya setelah selesai sembahyang dan matirthapakuluh, lalu nyurud dan yang boleh dimakan adalah kerak nasi wilet yang disajukan itu hanya diisi garam dan boleh minum air putih, sampai nanti hari telah malam kembali (ini bagi yang melakukan brata upawasa). Barulah selesai rangkaian brata Ciwaratri itu.

bersambung…


Advertisements

One thought on “Siwaratri – 1

  1. Pingback: Siwaratri – 2 | ...blog nak belog...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s