Kepemimpinan dan Agama

Agar geraknya sesuatu sesuai dengan tujuan, maka perlu ada yang memimpin. Seperti mobil agar tentu jalannya perlu adanya sopir yang mengendalikan. Demikian juga halnya manusia. Setiap orang adalah pemimpin, setidak-tidaknya adalah pemimpin dirinya sendiri. Memimpin diri adalah amat sulit, karena diri sendiri itu amat bengal dan selalu bergejolak. Orang-orang yang tidak dapat memimpin dirinya sendiri, akan goyang pendiriannya dan karena itu akan mudah diperbudak oleh nafsu jahat.

great-leader

Demikian juga untuk memimpin orang banyak, bukanlah suatu hal yang mudah. Karena mempunyai kekuasaan, kadang-kadang pemimpin itu bisa takabur. Kesempatan memimpin digunakan untuk menuruti hawa nafsu, sehingga lupa akan dirinya. Iapun menjadi pencuri tersembunyi dan menindas orang lain. Apabila demikian halnya maka hanya kehancuranlah yang akan ditunggu, karena kebenaran tidak bisa diajak begitu. Oleh karenanya menjadi pemimpin terletak nasib sekumpulan orang. Apakah baik atau buruk nasib itu tergantung dari pemimpinnya. Supaya pemimpin itu baik, agamalah harus dipedominya, supaya menjadi orang yang bermoral, berbudi pekerti yang luhur serta mulia, serta menjadi panutan. Seorang pemimpin harus orang yang arif bijaksana, dapat menahan diri, jujur dan suka bekerja. Pemimpin itu bukan tukang debat, suka membuat masalah, tetapi tidak pernah menyelesaikan masalah dengan berdasarkan kebenaran yang membawa kedamaian hati. Jika ada pemimpin yang demikian maka masyarakat akan menjadi kacau.

Untuk itu kewajiban-kewajiban pemimpin telah disebutkan dalam pustaka suci maupun dalam ceritra-ceritra Hindu. Pemimpin disamping sebagai ayah dan ibu, juga merupakan suatu pribadi dan kepala keluarga, semua kedudukannya itu haruslah mendapat perhatian yang seimbang. Seorang pemimpin harus memiliki konsep-konsep kepemimpinan yang utama untuk dapat menata masyarakatnya. Ajaran Hindu tidak membenarkan pimpinan karena kesibukannya tidak memberikan perhatian pada pembinaan dirinya, phisik maupun mental, demikian pula terhadap keluarganya. Kehidupan pribadi seorang pemimpin harus bersinar menjadi contoh kehidupan pribadi warga masyarakatnya, demikian pula kehidupan keluarga pemimpin, haruslah menjadi contoh kehidupan keluarga dan warga masyarakat. Dalam Kekawin Ramayana, disebutkan raja Dasaratha sebagai seorang pemimpin yang perlu menjadi contoh tauladan. Keutamaan raja Dasaratha diuraikan dalam Kekawin Ramayana, dalam Sargah I, bait 3 sebagai berikut :

Gunamanta sang Dasaratha,
weruh sira ring weda bhakti ring dewa,
tar malupeng pitra puja,
masih ta sireng swagotra kabeh.
 
Sangat utama beliau sang raja Dasaratha,
beliau ahli weda dan bhakti kepada Tuhan,
tidak pernah lupa beliau memuja leluhurnya,
beliau sangat mencintai seluruh keluarganya.

Inilah salah satu bait kekawin yang memberikan suatu gambaran seorang pemimpin negara/daerah. Seorang pemimpin daerah tidak hanya sibuk dengan urusan daerah/negara saja, tetapi disela-sela kesibukannya, ia harus juga memberikan perhatian kepada agamanya, dengan mempelajari kitab sucinya, memuja Tuhannya, leluhurnya dan harus pula meluangkan waktu untuk memberikan kasih sayang kepada keluarganya.

Kalau kita perhatikan ilustrasi di atas penerapan kehidupan bernegara, bermasyarakat, pertama-tama harus diterapkan oleh pemimpin bagi dirinya maupun keluarganya. Di sini dapat kita tarik suatu maksud bahwa kewibawaan pemimpin, harus didasarkan kepada kewibawaan yang murni, bukan kewibawaan yang didasarkan pada kekuasaan.

Pemimpin dalam konsepsi Hindu hendaknya selalu berlandaskan agama, perundang-undangan, demikian pula tingkah laku dari pada aparatur pemerintah, yang selalu sejalan dengan konsep-konsep Dharma. Demikian pula masyarakatnya semakin mendapat bimbingan dari pemimpinnya untuk berbuat menurut petunjuk-petunjuk kitab sucinya dan hukum yang berlaku.

Atas dasar ini akan terjadi suatu keserasian antara kepemimpinan kepengikutan, pemimpin dihormati oleh pengikutnya. Pengikut mendapat perlindungan dari pemimpinnya. Di Bali dan di Jawa, keserasian antara pemimpin dengan rakyatnya terkenal dengan istilah “manunggalnya Kawula lawan Gusti“.

Pemimpin dengan rakyat menurut konsep Hindu harus bersatu. Persatuan antara pemimpin dengan rakyat, akan terjadi apabila pemimpin bertindak berdasarkan hukum dan rakyat selalu dibina untuk mentaati hukum. Dalam kitab hukum Hindu Manawadharmasastra Bab. VII, 17, 18, 19, 20, 22 dan 24, menguraikan pemimpin dan rakyat harus berbuat berdasarkan hukum.

Sloka 17 :

Sa raja puruso danda sa neta sasita ca sah, catur nama asramanam ca dharmasya pratibhuh smretah ( Hukum adalah suami bagi raja, yang mengatur hal-hal dari penguasa, dan itu disebut kepastian bagi ke-empat tingkat hidup yang tunduk kepada undang-undang).

Sloka 18 :

Danda casti prajah sarwa danda ewabhiraksati, danda suptesu jagarti danda dharmam widurbudhah (Hukum itu sendirilah yang memerintahkan semua makhluk, hukum itu sendirilah yang melindungi mereka, hukum itu yang berjaga selagi orang tidur, orang-orang bijaksana menyamakannya dengan dharma).

Sloka 19 :

Samiksya sa dhretah samyaksarwa ranjayati prajah, asamiksya pranitastu winacayati sarwatah (Bila hukuman diberikan terhadap seseorang setelah mempertimbangkannya, hal itu akan menjadikan orang-orang bahagia, tetapi menjatuhkan hukuman tanpa pertimbangan akan menghancurkan segala-galanya).

Sloka 20 :

Yadi na pranayendraja dandham dandhayeswa tandritah, sile matsyaniwa paksyan durbalan balawattarah (Bila raja tidak menghukum, dengan tidak jemu-jemunya kepada orang yang patut dihukum, maka yang kuat akan melalap yang lemah, seperti ikan dalam tempayan).

Sloka 22 :

Sarwo dandhajito loko hi sucir narah, dandhasya hibhayatsarwam jagad bhogaya kalpate (Seluruh dunia dipelihara dalam aturan oleh karena hukum, karena orang yang tidak bersalah sukar untuk didapat, oleh rasa takut akan hukuman, seluruh dunia memberi kenikmatan seseorang atau korbannya).

Sloka 24 :

Dusyeyun sarwa warnas ca bhidyeran sarwa setawah, sarwa loka prakopas ca bhawet dandhasya wibhramat (Semua golongan akan kacau, semua golongan akan dilanggar dan semua manusia satu dengan yang lainnya, akibat karena kesalahan terhadap hukuman.

Demikian juga kalau kita perhatikan di Nusantara, kerajaan-kerajaan pada jaman Hindu, yang memproleh kejayaannya, apabila pemerintah dalam suatu negara/daerah bertindak berdasarkan hukum bukan berdasarkan emosi pribadi semata-mata. Kerajaan Majapahit mencapai kejayaan karena kitab hukum Hindu, yaitu Manawadharmasastra diambil dan disusun kembali sesuai dengan situasi dan kondisi Majapahit. Oleh karena kitab undang-undang Majapahit adalah merupakan penerapan antara Manawadharmasastra dengan situasi dan kondisi Majapahit sebagai negara Nusantara. Hal ini telah dapat memperkuat kerajaan Majapahit karena kompaknya pimpinan negra/daerah dengan rakyatnya.

Runtuhnya kerajaan Majapahit disebabkan terjadinya perpecahan dikalangan pimpinan negara dan perpecahan ini menyebar sampai pada rakyat. Perpecahan ini terjadi karena masing-masing pihak tidak lagi taat akan peraturan hukum yang berlaku.

Dari uraian singkat ini dapat kita simpulkan bahwa ajaran ketatanegaraan Hindu dalam pengembangannya mengarah pada terbentuknya Negara Hukum yang Demokratis. Artinya negara itu dalam penyelenggaraannya selalu berdasarkan hukum untuk memenuhi tuntutan hati nurani rakyatnya.

Dalam ceritra Ramayana kita perhatikan 2 type pemerintahan yang sangat berlawanan. Adapun ke-dua contoh itu : Rama pemimpin kerajaan Ayodhya dalam tindak tanduknya selalu berpegang pada hukum dan mereka berbuat untuk rakyatnya. Rahwana pemimpin negara Alengka dalam tindak tanduknya sebagai pemimpin berdasarkan emosi pribadi semata-mata tidak berlandaskan hukum dan mereka memerintah bukan untuk kepentingan rakyatnya, tetapi untuk kenikmatan pribadi.

Dua karakter pemerintahan ini dapat kita ambil sebagai ilustrasi bahwa Rama pemerintahannya sesuai dengan idealisme yang terkandung dalam sistem ketatanegaraan (Hindu) berhasil dalam kemenangan, sedangkan Rahwana tidak menggunakan hukum (Hindu) sebagai dasar pemerintahannya akhirnya menemui kehancuran.

Demikianlah kerahayuan, kesejahteraan, umat manusia tergantung pada pemimpinnya, yang bertindak berlandaskan hukum dan berpedoman pada agama yang dianutnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s