Upacara Ngebek Widhi

Pura Pucak Mangu

Upacara di Pura Pucak Mangu dilakukan 2 kali dalam 1 tahun, yaitu :

  1. Upacara Piodalan, pada Purnama Sasih Kelima
  2. Upacara Ngebekin, pada Purnama Sasih Kepitu

Upacara Piodalan di Pura Pucak Mangu yang jatuh pada hari Purnama Sasih Kelima. Dua hari sebelum Purnama, yakni pada Pananggal 13, diadakan ada upacara Melasti di Pasiraman Pakebutan, yang terletak di Desa Bukian. Jika upacara piodalan dalam tingkatan utama besoknya dilakukan Mapepada, tetapi jika upacara nista (kecil), tidak melakukan Mapepada, hanya menggunakan Sima Gunung. Upacara piodalan dilakukan di dua tempat, yakni : di Pucak Gunung Mangu dan di Panataran Agung Tinggan.

Upacara Ngebekin, bukanlah merupakan upacara piodalan, tetapi merupakan upacara permohonan kepada Ida Bhatara, agar hasil panen padi atau tanaman lain agar berhasil dengan baik. Hal ini mengingat bahwa Ida Bhatara yang dipuja di Pura Pucak Mangu sesuai dengan konsep Padma Bhuwana adalah Bhatara Sangkara, yakni dewa pelindung tumbuh-tumbuhan. Upakara yang dipergunakan adalah Sorohan Palupuhan, yang merupakan jenis banten yang khas yang dipersembahkan pada Upacara Ngebekin. Pelaksanaan dari upacara Ngebekin ini hampir sama dengan upacara piodalan. Namun yang bersifat khusus adalah dengan menyiram Lingga dan airnya itu merupakan Tirtha Pakuluh Ida Bhatara, yang hanya dipercikkan di sawah dan di ladang, bukan untuk diperciki atau diminum warga. Fungsi dari Tirtha Ngebekin ini agar tanaman di sawah tidak diserang oleh hama dan berhasil dengan sempurna.

Upakara khusus yang dipergunakan pada Ngebekin adalah banten kuno, yakni palupuhan babi, yang terdiri dari nasi sasahan, di atas daun telujungan dan di atas nasi itu diletakkan babi yang telah disembelih,yang dipersembahkan kepada Ida Bhatara dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Wisnu, yang memberikan anugrah kemakmuran kepada manusia.

Sorohan nasi palupuhan dengan daging babinya adalah simbul pertemuan Ida Bhatara Wisnu yang berwujud babi, yakni pada waktu mencari pangkal Lingga dan bertemu dengan Dewi Wasundhari (Prethiwi), yang digambarkan dengan nasi palupuhan. Pertemuan Dewa Wisnu dengan Dewi Prethiwi, yaitu pertemuan air dengan tanah, merupakan simbul kesuburan.

Sebagai gambaran lengkap tentang upacara ini, dapat dilihat pada tayangan berikut : Ngebek Widhi

Pura Pucak Bon/Pura Pucak Entap Sai

Di Pura Pucak Bon, ada juga suatu upacara yang disebut dengan Ngebekin, yang juga dilaksanakan setiap tahun, yakni pada hari Purnama Sasih Kawelu. Pelaksanaan upacara ini melalui 2 proses, yaitu upacara mohon tirtha dan upacara pemujaan, yang dipimpin oleh Pamangku. Salah satu tujuan dari upacara itu adalah mohon kesuburan tanaman padi di sawah agar buahnya penuh berisi.

Upacara pertama, memohon tirtha di Pasiraman Penataran. Tirtha yang dimohon itu ditempatkan pada sebuah “sujang“, dan dibawa ke puncak. Setelah sampai di Pura Pangubengan, banten “Sok Tamukuran” yang telah disiapkan sebelumnya, dipersembahkan kepada Ida Bhatara Pajenengan (Lingga Yoni). Pamangku mengambil Lingga dari Yoninya, kemudian ditempatkan di atas bokor perak, yang harus dijunjung oleh seorang laki yang belum pernah kawin. Lingga tersebut kemudian disiram atau diwasuh pada, dengan sebagian tirtha yang dimohon dari Pasiraman Penataran tersebut. Kemudian Lingga itu ditaruh kembali pada Yoninya. Tirtha “wasyuh pada” dan tirtha yang dimohon di Pasiraman dibawa ke puncak.

Sesampainya di puncak dilakukan prosesi yang sama yaitu upacara “wasuh pada” lalu Banten Sok Tamukuran yang telah disiapkan dipersembahkan kepada Bhatara Sri Amerta. Oleh Pamangku Lingga diambil dari Yoninya ditempatkan di atas bokor, diwasuh pada dengan sebagian tirtha tadi, sehingga tirtha wasuh pada menjadi satu, lalu dimasukkan lagi ke dalam sebuah “batil perak“.

Sedang upacara berlangsung, ada juga acara lain yaitu mohon tirtha di Pasiraman Luhur. Tirtha yang dari Pasiraman Luhur itu tidak melalui proses wasuh pada, tetapi dengan cara “matur piuning” kehadapan Ida Bhatari Sri Amerta. Lalu kedua jenis tirtha itu dibawa turun dari puncak, ditempatkan di “Bale Pelik” Pura Penataran Pucak Bon.

Upacara di Penataran adalah melakukan pemujaan, umat setempat menghaturkan persembahan, sembahyang dan mohon tirtha, kiranya Tirtha yang dimohon itu adalah Tirtha yang dimohon di Pasiraman Luhur. Sedangkan “Tirtha Wasuh Pada” dimohon untuk dipercikkan di sawah ladangnya, agar tanaman padi dan sebagainya menjadi subur.

Banten Sok Temukuran, terdiri dari seponjok nasi/nasi palupuhan dan jajan dibuat dari ketan. Nasi tersebut ditempatkan di atas bagian dalam dari “daun telujungan” yang diletakkan menengadah dan jajannya ditempatkan di dua “daun telujungan” di bagian luarnya, yang kemudian diletakkan tertelungkup. Menariknya jajan itu tidak boleh diisi dengan gula berwarna merah.

Rupa-rupanya banten “Sok Temukuran” adalah lambang laki (Purusa) dan perempuan (pradhana). Nasi yang diletakkan di atas daun telujungan bagian dalam, yang diletakkan menengadah dipandang sebagai simbul Perempuan/Pradhana, sedangkan jajan yang diletakkan tertelungkup adalah lambang Laki/Purusa. Banten inilah yang dipersembahkan kehadapan Bhatara Sri Amerta yang berwujud Lingga Yoni.

Memperhatikan hal tersebut, yakni sebagai pertemuan laki dan perempuan, maka banten Sok Temukuran, berasal dari kata “sok temu kuren“, berarti pertemuan laki dan perempuan. Maka atas dasar itulah Lingga dilambangkan laki/Purusa, maka pada saat wasuh pada harus dijunjung oleh orang laki yang belum kawin, demikian juga jajan ketan yang digunakan adalah gula putih (lambang sukla/sperma) dan Yoni lambang perempuan/Pradhana, sebagai penerima atau wadah dari sukla tersebut.

Dalam mythologi Hindu, Lingga adalah simbul Dewa Siwa dan Yoni adalah Saktinya. Di Pura Pucak Bon Lingga Yoni itu disebut Bhatara Sri Amerta, yakni Tuhan dalam fungsi sebagai pemberi kesuburan.

Upacara Ngebekin, disamping menggunakan banten Sok Temukuran, juga menggunakan :

  • Banten Palupuhan, dengan daging itik dipersembahkan kepada Bhatara Sri Amerta.
  • Banten Palupuhan, dengan daging babi hitam, dipersembahkan kepada Ida Bhatara Kabeh.
  • Jajan /sanganan kukus dengan unti putih, disertai dengan nasi dan daging ayam.

Dewasa ini dapat kita kaitkan dengan upacara Ngusabha Desa dan Ngusabha Nini. Pada upacara Ngusabha Desa yang dipuja adalah Dewa Wisnu (Saktinya) dan Dewi Prethiwi dan pada Ngusabha Nini yang mendapatkan pemujaan pokok adalah Dewi Sri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s