Durgamahisasuramardhini

Durgamahisasuramardhini, berasal dari kata durgamahisaasuramardhini. Durga dalam bahasa Sanskerta, berarti Ia yang tidak dapat didekati. Mahisa adalah binatang sejenis kerbau. Asura, artinya raksasa. Mardhini, artinya pembunuh yang kejam. Jadi Durgamahisasuramardhini adalah Durga sebagai pembunuh raksasa yang berwujud mahisa.

Durgamahisasuramardhini

Pada arca Durga, digambarkan sebagai seorang Dewi, sedang berdiri di atas seekor kerbau, dengan tangan lebih dari dua, disebut Cunda. Masing-masing tangannya memegang senjata (Dewata Nawasanga), salah satu tangannya memegang ekor kerbau, sedangkan salah satu tangan yang lain memegang rambut raksasa yang muncul pada leher atau kepala kerbau itu.

Penggambaran Dewi Durga sebagai seorang dewi yang sedang berperang melawan raksasa, hal itu tidak dapat dilepaskan dengan ceritera dewa-dewa atau mythologi Hindu. Ceritera tentang dewa-dewa itu amat penting artinya bagi suatu agama atau kepercayaan, karena di situ diterangkan mengenai apa dan siapa dewa-dewa itu serta asal usulnya. Tidak dapat disangkal bahwa untuk menerangkan apa dan siapa Dewi Durga itu kita harus kembali kepada mythologi Hindu (India), karena Durga adalah salah satu dewi dalam agama Hindu.

Durga dalam mythologi Hindu, dikenal sebagai dewi yang menyeramkan, yang dianggap sebagai penjelmaan dari Dewi Uma atau Parwati, yaitu sakti (istri) Dewa Siwa. Di dalam agama Hindu, dewa-dewa mempunyai 2 aspek, yaitu aspek yang baik (santa) dan aspek yang menyeramkan (krodha). Maka Dewa Siwa sebagai aspek dewa yang baik, digambarkan sebagai Siwa Mahadewa, sedangkan dalam aspek krodha, digambarkan sebagai Dewa Kala yang menyeramkan. Demikian pula istrinya/saktinya, sebagai perwujudan aspek yang baik, istri Siwa digambarkan cantik jelita sebagai Parwati atau Uma, sedangkan dalam aspek yang menyeramkan digambarkan sebagai Durga. Kata Durga (bahasa Sanskerta), berarti “Ia yang tidak dapat didekati“, yaitu suatu julukan terhadap dewi yang ganas menakutkan itu.

Untuk dapat memahami, mengapa Durga digambarkan berperang dengan raksasa, maka untuk mengetahui hal itu berdasarkan apa yang diceriterakan dalam mythologi Hindu. Ide untuk melukiskan Durga, di mulai ketika Kahyangan diserang oleh bala asura (raksasa) yang amat sakti, yang dipimpin oleh Sumbha dan Nisumbha. Mereka bermaksud untuk menguasai Triloka, yakni Bhur (alam bawah), Bhwah (alam tengah) dan Swah (alam atas). Dunia atas merupakan tempat tinggal para dewa, dunia tengah adalah tempat tinggal para manusia dan dunia bawah tempat tinggal para asura (raksasa) dan sebangsanya. Ketiga dunia itulah yang ingin dikuasai oleh para raksasa itu. Dengan sendirinya para dewa sangat marah dan mempertahankan hak-haknya. Akan tetapi kesaktian para raksasa itu sangat luar biasa, sehingga para dewa dapat dikalahkan. Para dewa yang kalah perang itu sangat marah, dari kemarahannya itu terlahirlah Dewi Durga, yang kemudian menjadi pemenang dan dapat mengalahkan para raksasa itu.

Dewi Durga diberikan senjata oleh para dewa, Dewa Wisnu memberikan Cakra, Dewa Siwa memberikan Trisulanya dan dewa-dewa lainnya memberikan senjatanya masing-masing. Akhirnya Durga berwujud Cunda, bertangan 12 dan masing-masing memegang senjata, yaitu : pedang, trisula, cakra, anak panah, busur, tameng, jerat, gada, kapak, lembing, angkus. Sedangkan konsep di Bali memegang senjata Nawasanga, sesuai dengan pangider-ideran. Dengan senjata-senjata itu Durga siap untuk berperang melawan para Asura.

Di dalam peperangan, Durga berubah-ubah bentuk, kadang-kadang bertangan sepuluh, dua belas dan seterusnya. Durga mempunyai nama-nama lain, yang disesuaikan dengan keadaannya pada waktu itu. Di dalam peperangan itu, tiba-tiba Durga merubah dirinya bertangan sepuluh disebut Dasabhuja dan membunuh para asura yang diketemukannya.

Atas kekalahannya itu, Asura mengirim panglima perangnya, yang bernama Raktawija. Dengan segera ia berhadapan dengan Durga. Durga mengendarai seekor singa, yang ikut mengamuk menghabisi Asura. Karena kendaraannya itu Durga disebut Singhawahini (Ia yang berkendaraan singa).

Dalam pertempuran itu Raktawija mempunyai kesaktian yang unik. Jika ia terluka, mengeluarkan darah, begitu darah menetes menyentuh bumi, maka pada saat itu pula, darah itu berubah menjadi Asura baru. Karena kesaktiannya ini pulalah maka ia disebut Raktawija, artinya “Ia yang lahir dari darah“.

Demikianlah berkali-kali terjadi, sehingga dalam waktu sekejap, pihak Asura mendapat tambahan bantuan beribu-ribu jumlahnya. Walaupun demikian Raktawija terdesak, sehingga ia berusaha melarikan diri. Dalam usaha melarikan diri itu ia berubah menjadi seekor kerbau, dinamakan “Mahisa Asura“, yang artinya Asura yang berubah menjadi kerbau.

Ia melarikan diri dan bergabung diantara kerbau-kerbau yang sedang ada dalam gembalaan di padang rumput. Akan tetapi Durga mengetahuinya dan mengejar terus. Semua senjata yang ada di tangan Dewi Durga dipergunakannya, tetapi tidak ada yang mengena. Akhirnya Dewi Durga meloncat ke atas punggung kerbau itu dan begitu kaki Durga menginjak punggungnya, kerbau itu pingsan. Lalu Durga menyembelih leher kerbau itu dan Raktawija muncul sebagai bentuk aslinya, keluar dari leher yang disembelih itu. Dalam keadaan itulah Durga diberi julukan “Durgamahisasuramardhini“.

Rambut Raktawija yang keluar dari leher kerbau itu dipegangnya demikian pula ekor kerbau itu dipegang dengan tangan yang lain. Durga membunuh Raktawija dengan senjatanya. Darahnya diminum oleh seorang Dewi bernama Ambika, yang merupakan penjelmaan Durga, sehingga darah itu tidak menetes ke tanah. Maka Raktawijapun mati.

Mengenai Dewi Ambika, dewi yang meminum darah itu adalah juga penjelmaan Durga, ketika ia sedang berada di Sungai Gangga. Pada waktu itu lahirlah Ambika yang wajahnya amat cantik. Kebetulan pada waktu itu dua orang hamba Sumbha dan Nisumbha, yang bernama Chanda dan Munda melihatnya. Maka dilaporkan kepada rajanya, mengenai kecantikan Dewi Ambika itu dan menyarankan kepada rajanya supaya Ambika dijadikan istrinya. Maka disuruhlah ke dua hambanya itu untuk meminangnya, tetapi ditolak.

Maka bertindaklah mereka dengan kekerasan. Tetapi Ambika dapat mengalahkan para raksasa itu. Maka itu Ambika diberikan julukan Chamunda, yang diambil dari nama musuh-musuhnya itu. Nama Chamunda tiada lain adalah nama julukan Dewi Durga. Tatkala Dewi Durga mengalahkan Raktawija, merubah dirinya menjadi berwarna hitam dan berupa amat menakutkan. Dalam keadaan itu ia diberi nama Kali, yang berarti si Hitam. Demikian juga beliau diberi julukan Jagad Datri, berarti “Ia yang menyelamatkan dunia“, bergelar Mukta Kesi, berarti “Ia yang berambut terurai“, demikian juga disebut Tara, yang berarti Bintang.

Akhirnya atas kemenangan Durga itu maka dewa-dewa menyanjungnya dan berpesta ria, menyambut kedatangan Durga, dalam kesempatan itu Durga diberi nama Jagad Ghauri, artinya “Ia yang tercantik“.

Dalam tradisi India Durga juga diberi gelar Candi, yang berasal dari kata Candika, berarti Durga. Dalam penggambarannya Durga berdiri di atas kerbau dan ada juga menaiki singa, memanah raksasa yang berkepala kerbau. Dalan relief-relief Durga dikelilingi oleh Gana (makhluk sorga), yang membantu Durga dalam peperangan.

Advertisements

One thought on “Durgamahisasuramardhini

  1. Pingback: Patung Dalam Agama Hindu – 1 | ...blog nak belog...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s