Sanitasi – Tantangan Akses Air Minum dan Sanitasi Dasar

Tantangan Pemenuhan Target Akses Terhadap Sumber Air Minum dan Fasilitas Sanitasi Dasar Pada Tahun 2015

Air Minum

Pencapaian target menurunkan proporsi penduduk tanpa akses terhadap sumber air minum pada tahun 2015 mempunyai dimensi tantangan yang beraneka ragam, sebagaimana berikut:

  • Cakupan pembangunan yang sangat besar.
  • Keterbatasan sumber pendanaan.
  • Penurunan kualitas dan sumber air baku.
  • Mengingat jumlah kepadatan penduduk di kawasan perkotaan lebih tinggi, maka faktor penduduk juga merupakan tantangan yang klasik.
  • Masalah kemiskinan yang diderita penduduk turut menjadi penyebab rendahnya kemampuan penduduk untuk mengakses air minum yang layak.
  • Lemahnya kemampuan manajerial operator air minum.

Melihat pencapaian target MDGs khususnya bidang air minum yang masih stagnan, beberapa upaya harus dilakukan dengan serius. Upaya yang diperlukan ini berlandaskan pada pilar-pilar peningkatan pengetahuan akan penyediaan air minum, kerjasama para pemangku kepentingan, pengembangan kemampuan masyarakat lokal dalam penyediaan air minum, serta konservasi sumber air baku.

.

Sanitasi Dasar

Berkaitan dengan masalah sanitasi dasar, terdapat beberapa tantangan dalam rangka mencapai target penurunan proporsi penduduk tanpa akses fasilitas sanitasi dasar yang layak pada tahun 2015, yaitu:

Pengetahuan penduduk tentang kualitas lingkungan yang masih rendah.

Masyarakat, terutama di perdesaan, kurang memahami pentingnya sanitasi bagi kesehatan mereka. Hal ini salah satunya dikarenakan rendahnya pengetahuan mereka. Kondisi ini menyebabkan banyak jamban yang tidak digunakan sebagaimana mestinya. Rendahnya tingkat kesadaran juga menyebabkan pelayanan sarana sanitasi yang terbangun tidak dapat berkelanjutan. Banyak fasilitas mandi-cuci-kakus (MCK) yang dibangun tetapi tidak dapat dimanfaatkan dengan baik, bahkan terabaikan. Pengetahuan dan kesadaran masyarakat, jajaran eksekutif, jajaran legislatif, dan pelaku dunia usaha harus ditingkatkan, agar memahami bahwasanya sanitasi berkaitan erat dengan kualitas hidup. Bila masyarakat telah menyadari pentingnya sanitasi, khususnya berkaitan dengan kesehatan dan produktivitas, maka kebutuhan terhadap prasarana dan sarana sanitasi akan meningkat.

Persoalan sanitasi dasar bukan merupakan isu penting bagi kalangan politisi, pemerintah, bahkan dunia usaha.

Mereka belum memahami pentingnya memberikan perhatian kepada sanitasi dasar yang layak dan sehat. Masalah kesehatan lingkungan tampaknya dipandang sebagai “isu aneh” untuk diangkat pada level pengambilan keputusan. Rendahnya perhatian mereka pada masalah sanitasi dasar yang layak dan sehat digambarkan dari masih sedikitnya anggaran pendanaan untuk pembangunan sanitasi dasar. Kepedulian dan kepekaan lebih tinggi dari kalangan pengambil keputusan bahwa masalah sanitasi sangat erat kaitannya dengan peningkatan kualitas hidup dan kesehatan masyarakat, terutama masyarakat miskin baik di perdesaan maupun di perkotaan, amat diperlukan di masa depan.

Belum adanya kebijakan komprehensif lintas sektor yang berupaya menyediakan fasilitas sanitasi dasar yang layak dan sehat menyebabkan penanganan masalah sanitasi kurang diatasi.

Di masa depan, upaya peningkatan kualitas sarana sanitasi harus menjadi perhatian serius. Perhatian ini diberikan dalam bentuk penyediaan dana dan pendampingan dalam pembangunan sarana yang memenuhi kriteria teknis dan standar kesehatan yang ditetapkan tetapi sekaligus mudah dioperasikan dan dipelihara oleh masyarakat.

Rendahnya kualitas bangunan tangki septik di perkotaan.

Keterbatasan lahan di perkotaan semakin menyulitkan banyak pihak untuk membangun sistem pengolahan tinja individual dengan menggunakan tangki septik yang memenuhi syarat. Tangki septik yang buruk menyebabkan kebocoran sehingga meningkatkan pencemaran terhadap sumber air minum dari sumur/pompa.

Masih rendahnya masyarakat di kawasan perkotaan yang mendapatkan pelayanan sistem pembuangan air limbah (sewerage system).

Hal ini disebabkan laju pertumbuhan penduduk di kawasan perkotaan tidak mampu diikuti oleh laju penyediaan prasarana dan sarana system pembuangan air limbah. Rendahnya laju pembangunan sistem pembuangan air limbah bagi kota-kota metropolitan dan besar pada umumnya disebabkan oleh semakin mahalnya nilai konstruksi dan semakin terbatasnya lahan yang dapat dimanfaatkan sebagai jaringan pelayanan, sementara di lain pihak kesediaan membayar (willingness to pay) dari masyarakat untuk pelayanan air limbah domestic masih sangat rendah sehingga tidak dapat menutup biaya pelayanan.

Tidak adanya pelayanan sanitasi yang layak berdampak pada kualitas kesehatan yang rendah.

Hasil kajian ADB (1998) berjudul Strengthening of Urban Waste Management Policies and Strategies (TA Nomor 2805-INO) menyebutkan, kualitas sanitasi yang buruk akan menyebabkan kerugian ekonomi sekitar Rp 42,3 triliun per tahun atau 2 persen dari Produk Domerstik Bruto.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s