Sanitasi – Penduduk Tanpa Akses Air Minum

Keadaan dan Kecenderungan Proporsi Penduduk Tanpa Akses Terhadap Sumber Air Minum Yang Aman dan Berkelanjutan

Air minum adalah kebutuhan dasar setiap penduduk. Terdapat beberapa pemahaman tentang definisi air minum. Akses masyarakat terhadap ketersediaan air minum dapat dilihat melalui lima indikator, yaitu: kualitas, kuantitas, kontinuitas, kehandalan sistem penyediaan air minum (reliable), serta kemudahan baik harga maupun jarak/waktu tempuh (affordable).

air minum

Dalam Laporan Perkembangan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals) Indonesia Tahun 2007, informasi mengenai tiga perbedaan kualitas sumber air tersebut dipandang masih relevan untuk menjelaskan pencapaian target menurunkan proporsi penduduk tanpa akses terhadap sumber air minum yang aman dan berkelanjutan pada 2015. Acuan target MDGs ini adalah yang memenuhi kondisi/definisi kedua.

Proporsi rumah tangga terhadap penduduk dengan berbagai kriteria sumber air (total) (%).

Berdasarkan data ketersediaan sumber air diperoleh gambaran bahwa pencapaian target untuk sumber air perpipaan menunjukkan kecenderungan yang semakin membaik. Pada tahun 1992, pelayanan air minum perpipaan hanya dinikmati oleh sekitar 14,7 persen rumah tangga. Pada tahun 2000 sudah sekitar 19,2 persen rumah tangga yang mendapatkan akses pada air minum perpipaan. Pada tahun 2006, rumah tangga yang dapat mengakses pada air minum perpipaan justru menurun menjadi 18,4 persen.

Sementara itu untuk rumah tangga yang mendapatkan akses pada air minum non-perpipaan yang terlindungi, kecenderungannya justru meningkat relatif konstan. Jika rumah tangga yang mendapatkan akses air minum non-perpipaan yang terlindungi pada tahun 1994 hanya sekitar 38,2 persen, maka pada tahun 2000 angka tersebut sudah mencapai sekitar 43,4 persen, dan terus meningkat hingga 57,2 persen pada tahun 2006. Kondisi pencapaian akses air minum dengan berbagai definisi tersebut mempunyai gambaran yang berbeda dipandang dari segi kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan, khususnya kondisi pencapaian pelayanan air minum perpipaan dan air minum non-perpipaan yang terlindungi.

Proporsi rumah tangga terhadap penduduk dengan berbagai kriteria sumber air (total) (%).

Pencapaian akses rumah tangga pada pelayanan air minum perpipaan di kawasan perkotaan dari tahun ke tahun senantiasa lebih tinggi dibandingkan dengan rumah tangga di kawasan perdesaan. Jika pada tahun 1992 rumah tangga di perdesaan yang mampu mengakses pelayanan air minum perpipaan hanya sekitar 5,5 persen, maka akses rumah tangga di perkotaan dapat mencapai 35,3 persen.

Meskipun demikian, akses rumah tangga di perdesaan terhadap air minum perpipaan meningkat dalam kurun waktu 5 tahun terakhir dari 6,9 persen (tahun 2000) menjadi 9% (tahun 2006). Sebaliknya, akses rumah tangga di perkotaan terhadap air minum perpipaan justru menurun dalam 5 tahun terakhir dari 36,2 persen (tahun 2000) menjadi hanya 30,8 persen (tahun 2006).


122113_2331_Pembangunan1.png Pelayanan Air Minum Perpipaan dan Non Perpipaan Terlindung (total) tahun 1992-2008 (%)

Persentase rumah tangga di kawasan perkotaan yang dapat mengakses pelayanan air minum non-perpipaan yang terlindungi senantiasa lebih tinggi dari rumah tangga di perdesaan. Pada tahun 1994, sekitar 52,1 persen rumah tangga di perkotaan mampu mengakses pelayanan air minum non-perpipaan yang terlindungi, sementara untuk rumah tangga di perdesaan hanya 30,9 persen. Demikian pula untuk tahun 2000, masing-masing 55,5 persen di perkotaan dan 35,6 persen di perdesaan. Antara tahun 2003-2005, rumah tangga di kawasan perkotaan sempat mengalami penurunan akses pada pelayanan air minum non-perpipaan, namun membaik kembali pada tahun 2006 menjadi 87,6 persen.

Sementara itu rumah tangga di kawasan perdesaan menikmati akses yang meningkat tajam mecapai 52,1 persen pada tahun 2006. Berdasarkan pencapaian tahun 2006 tersebut, maka target pencapaian MDGs tahun 2015 untuk kawasan perkotaan telah terlampaui, khususnya target menurunkan proporsi penduduk tanpa akses terhadap sumber air minum yang aman dan berkelanjutan untuk air minum non-perpipaan yang terlindungi.

Provinsi di Indonesia yang merupakan daerah dengan proporsi jumlah penduduk miskin yang tinggi antara lain Papua, Papua Barat, Gorontalo, Nanggroe Aceh Darussalam, Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Barat, Bengkulu, Sulawesi Barat, dan Sumatera Selatan. Problema kemiskinan di daerah tersebut diduga erat hubungannya dengan rendahnya akses rumah tangga terhadap air minum non-perpipaan yang terlindungi. Provinsi Papua, Nanggroe Aceh Darussalam, Lampung, dan Bengkulu merupakan provinsi yang penting mendapatkan perhatian peningkatan pelayanan air minum yang layak, mengingat provinsi-provinsi tersebutmerupakan salah satu daerah kantong kemiskinan tertinggi.

122113_2331_Pembangunan2.png

Pelayanan Air Minum Perpipaan dan Menurut Desa dan Kota Tahun 1992-2006 (%)

122113_2331_Pembangunan3.png

Pelayanan Air Minum Perpipaan Terlindungi Menurut Desa dan Kota Tahun 1992-2006 (%)
Advertisements

2 thoughts on “Sanitasi – Penduduk Tanpa Akses Air Minum

    • betul bos…datanya agak jadul…belum sempat edit hasil penelitian dulu…pinginnya cuma share aja dulu…siapa tahu ada yang bisa memberikan masukan…rencananya nanti saya perbaiki berdasarkan hasil penelitian terbaru dan data dari statistik terbaru…thanks atas masukannya….:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s