Pura Taman Ayun

Pura Taman Ayun merupakan pura peninggalan jaman Kerajaan Mengwi. Pura ini juga tercatat sebagai “Kerajaan Air” yang merupakan sumber pengairan bagi para petani di daerah ini.

taman_ayun

Pura Taman Ayun dibangun pada saat dinasti Kerajaan Mengwi tahun 1634, pendiri pura ini adalah raja pertama Cokorda Sakti Blambangan. Pura ini dilengkapi dengan dasar pura yang proporsional yang terbagi menjadi 3 (tiga) halaman (Tri Mandala). Di setiap halaman didirikan bangunan tertentu sebagai bagian dari fasilitas pura untuk tujuan khusus. Adapun Tri Mandala tersebut adalah :

Halaman Luar (Nista Mandala)

  • Berupa parit (air) yang mengelilingi pura, bertujuan untuk membendung pengairan irigasi, fungsinya adalah menampung atau menjaring air sungai kemudian membagikan ke semua hilir (sawah). Dalam pengaturan pengaturan air untuk irigasi di Bali dinamakan Subak.
  • Wantilan atau paviliun besar berfungsi sebagai arena panggung untuk pementasan kesenian Bali, dalam hal ini sebagai pusat pengembangan kebudayaan.
  • Air mancur alami merupakan bagian dari landscape taman.

Halaman Tengah (Madia Mandala)

  • Terdapat wantilan di bagian Madia Mandala yang berfungsi sebagai tempat pendukung upacara keagamaan, seperti gambelan dan nyanyian suci yang disakralkan (kidung/kekawin) pada saat ada upacara keagamaan atau pada hari-hari besar agama Hindu. Tempat ini juga dipergunakan sebagai tempat mempersiapkan segala perlengkapan upacara yang rutin dilakukan.

Halaman Utama (Utama Mandala)

  • Utama Mandala adalah halaman yang paling suci. Di Utama Mandala terdapat pelinggih-pelinggih (bangunan suci) tempat distanakannya Ida Sanghyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa dengan berbagai perlambang dan sebutannya. Sebelum masuk ke dalam Utama Mandala terdapat gerbang besar sebagai titik masuk ke halaman utama. Gerbang ini hanya dibuka sewaktu-waktu pada saat upacara keagamaan dilaksanakan.

Kerajaan Air Pura Taman Ayun

Kerajaan air di Pura Taman Ayun ini memiliki fungsi yang multidimensional. Namun dapat dilihat fungsi dari Pura Taman Ayun ini dari beberapa aspek, antara lain :

Aspek Sosial

Untuk menjaga toleransi sosial dalam semangat kebersamaan dengan motto “Paras Paros Sarpanaya” atau kebersamaan antara klan etnik yang berbeda dan penduduk desa untuk menjalin keseimbangan dan harmonisasi dalam masyarakat.

Aspek Agama

Untuk mendorong dan meningkatkan kualitas kehidupan beragama dan pola pikir spiritual dan cara hidup masyarakat.

Aspek Lingkungan

Untuk meningkatkan efektivitas sistem subak dalam pengelolaan sumber daya alam, yaitu air. Dengan demikian kerajaan juga memperhatikan masalah pertanian di daerah ini. Selain itu fungsi yang tidak kalah pentingnya adalah mengembangkan tempat (zona) hijau di sekitar pura dan zona penyangga dengan menanam vegitasi langka untuk kebutuhan upacara

Aspek Budaya

Memelihara dan mengembangkan budaya, yaitu budaya tradisional, seperti pelestarian tari-tarian, gambelan, serta pertunjukan lainnya. Mempertahankan semua arsitektur yang indah di Pura, seperti ukiran, gerbang utama, pelinggih, serta bangunan untuk fasilitas pendukung.

Aspek Ekonomi

Mengembangkan perekonomian agro organik seperti Subak. Pura ini merupakan salah satu tujuan terbaik pariwisata yang memberikan dampak yang tinggi terhadap perekonomian masyarakat setempat.

Semua fitur di Pura Kerajaan Air di Mengwi merupakan contoh ekspansi penuh dari sistem Subak di Bali. Di bawah kebijakan kerajaan dan didukung oleh partisipasi aktif dari seluruh masyarakat, usaha bersama dan kooperatif dalam semangat kebersamaan dalam setiap aspek sistem Subak (Paras Paros Sarpanaya), sikap toleransi antara sesama manusia hidup dalam keseimbangan.

Kerajaan telah berkomitmen untuk secara berkelanjutan meningkatkan praktik terbaik dari sistem Subak, karena Sistem Subak mencerminkan implementasi dari filosofi prinsip “Tri Hita Karana“, yaitu hubungan seimbang antara Manusia dengan Tuhan, Manusia dengan Manusia dan Manusia dengan Alam sekitarnya.

Bupati Badung Anak Agung Gde Agung, SH merupakan keturunan Raja Mengwi dan semua kebijakan dan inisiatif yang sangat tegas dengan komitmen yang tinggi untuk meningkatkan Sistem Subak. Anak Agung Gde Agung, SH sebagai Bupati Badung berkomitmen untuk mengembangkan Bali sebagai model pembangunan masyarakat yang berkelanjutan berbasis pertanian melalui peningkatan sistem Subak serta kearifan lokal dengan nilai-nilai universal.

Sisi religius sangat menonjol pada keberlangsungan tata kelola air dan aktifitas pertanian, ditandai dengan dilaksanakannya upacara adat Agama Hindu di setiap tahapan bertani. Seperti tahap mengalirkan air ke persawahan dalam upaya pengolahan lahan, akan didahului dengan upacara/ritual “Magpag Toya“, sampai menempatkan hasil panen yang didahului dengan upacara/ritual “Ngunggahang Betara Sri“.

Dalam upaya menghalau hamapun akan didahului dengan upacara agama yang pada intinya memohon kepada Tuhan agar sawah terhindar dari hama. Dalam hal mengatasi hama sudah menjadi budaya untuk “nedunang“/mengundang Raja Mengwi ke sawah-sawah dimana hal ini dipercayai dapat menghalau segala hama yang ada di sawah.

Video tentang Pura Taman Ayun dapat dilihat pada tayangan berikut :

Advertisements

One thought on “Pura Taman Ayun

  1. Pingback: Pura Kahyangan Jagat | ...blog nak belog...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s