Agama Hindu dan Ekonomi

Berdasarkan Penetapan Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama, barulah diakui agama Hindu (Bali) secara resmi oleh Pemerintah Republik Indonesia, disamping Agama Islam, Kristen Katholik, Kristen Protestan, Hindu Bali dan Buddha.

Atas pengakuan itu maka agama Hindu adalah sejajar dengan agama yang lainnya. Sehingga umat Hindu di Indonesia adalah merupakan bagian atau unsur dari bangsa Indonesia. Sebagai salah satu komponen bangsa tentunya merupakan kewajiban dari umat Hindu di Indonesia untuk menyumbangkan segala apa yang terbaik demi terwujudnya cita-cita bangsa Indonesia, yakni masyarakat yang adil dan makmur.

Kewajiban umat Hindu di Indonesia, dapat digolongkan menjadi 2 bagian, yaitu Dharma Negara dan Dharma Agama.

Dharma Negara

Dharma Negara dalam pengertian ini adalah kewajiban umat Hindu terhadap negaranya, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini dapat kita buktikan bahwa sastra-sastra Hindu dikenal adanya ajaran Catur Guru Bhakti , mengajarkan untuk selalu berbakti kepada empat guru. Salah satu dari Catur Guru itu adalah berbakti kepada Guru Wisesa, artinya berbakti kepada pemerintah.

Berbakti kepada pemerintah, disamping taat kepada peraturan-peraturannya dan kebijaksanaannya, hendaknya juga ikut menyumbangkan pemikiran-pemikiran atau apa saja yang baik untuk mensukseskan tujuan pemerintah. Wisesa Guru Bhakti, tidak berarti semata-mata taat pada perintah-perintah atasan, tetapi di sini ikut aktif menyampaikan aspirasi masyarakat kepada pemerintah dan sekaligus membantu pemerintah sesuai dengan keadaan dan kemampuan masing-masing. Berbakti kepada Guru Wisesa, dimaksudkan menanamkan kesadaran pada masyarakat akan pentingnya ada pemerintah yang bersih dan kuat serta berwibawa untuk melindungi masyarakat.

Hal ini dalam kitab Manawadharmasastra, Bab VII. 2 dan 3 ada disebutkan pentingnya ada pemerintah untuk melindungi rakyat.

Brahmampraptena samskaram ksatriyena yatha widhi, sarwasya yathanyayam kartawyam pariraksanam.

(Ksatria yang telah menerima pentasbihan menurut Weda, berkewajiban melindungi seluruh dunia (rakyat) dengan sebaik-baiknya).

Arajake hi lokesmin sarwato widrute bhayat, sarthamasya sarwasya rajanamasrjat prabhuh.

(Karena, kalau orang-orang ini tanpa raja akan terusir, tersebar ke seluruh penjuru oleh rasa takut. Tuhan telah menciptakan raja untuk melindungi seluruh ciptaan-Nya)

Dharma Agama

Yang dimaksud dengan Dharma Agama adalah kewajiban warga negara terhadap agamanya masing-masing. Tujuan Negara dan tujuan Agama pada hakekatnya sama. Negara Republik Indonesia menuju masyarakat adil dan makmur, berdasarkan Pancasila. Masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila itu adalah masyarakat yang sejahtera material dan spiritual. Jadinya tidak berbeda dengan tujuan agama Hindu, untuk mencapai kebahagiaan jasmani (jagdhita) dan kebahagiaan rohani (moksa).

Ketaatan pada agama diwujudkan dalam segala aspek kehidupan. Kehidupan yang bersumber kepada Tuhan Yang Maha Esa, diwujudkan dengan bentuk pengabdian kepada semua ciptaan-Nya. Jadi dapat disimpulkan bahwa Dharma Agama dalam perwujudannya dilaksanakan dengan melakukan pengabdian kepada seluruh ciptaan Tuhan. Pengabdian kepada Tuhan dan seluruh ciptaan-Nya dalam agama Hindu disebut Yadnya.

Ber-yadnya berarti bekerja untuk mengabdikan diri pada Tuhan dan ciptaan-Nya, ini berarti melaksanakan pembangunan di segala bidang untuk mencapai kebahagiaan seluruh isi alam. Hakekatnya Dharma Agama adalah memberikan kekuatan spiritual pada Dharma Negara. Oleh karena itu Dharma Agama dan Dharma Negara adalah dua kewajiban dasar yang saling melengkapi satu sama lainnya dan tak dapat dipisahkan.

Ketaatan umat Hindu pada agamanya justru memantapkan ketaatannya pada Negara dimana ia hidup. Demikian pula sebaliknya ketaatan pada Negara justru akan melindungi dan memantapkan ketaatan kepada Agama.

Dengan demikian pemimpin Negara hendaknya selalu mendasari hidupnya dengan Dharma Agama, yakni agama yang dianutnya dan Dharma Negara sebagai pemimpin, sehingga nantinya dapat dipakai pengayoman oleh umat manusia. Seperti yang disampaikan oleh Bhagawan Wararuci dalam Sarasamuscaya :

“……..kadyanggan sang prabhu sujanman pinakopajiwaning wadwa angusir wibhawa”

(….seperti seorang pemimpin negara yang berbudi luhur, merupakan sumber perlindungan bagi rakyat, untuk mencapai kehidupan yang sejahtera).

Untuk mencapai kehidupan yang sejahtera lahir bathin atau kehidupan yang adil dan makmur, maka agama Hindu mengajarkan hendaknya dalam pemerintahan menjalankan empat lapangan yang disebut Catur Mandala Praja, yakni :

  • Lapangan Politik (Legislatif, Eksekutif dan Yudikatif), menjalankan tugas sesuai dengan swadharmanya masing-masing.
  • Tri Weda / Trayi Widya (Reg Weda, Sama Weda dan Yajur Weda), yakni berlandaskan spiritual, berdasarkan sastra-sastra agama.
  • Wartta, perekonomian, yang meliputi pertanian, peternakan dan perdagangan.
  • Tri Warga/Tri Purusartha, yang meliputi Dharma, Artha dan Kama.

Lapangan Politik dalam sistem pemerintahan Hindu mendapatkan kedudukan yang penting untuk menjaga keseimbangan dalam pemerintahan.

Tri Weda, pemerintahan Hindu memandang dalam mengatur pemerintahan haruslah dijiwai oleh agama, karena ajaran agama adalah wahyu Tuhan, sehingga tidak ada orang yang berani melanggar aturan. Melanggar aturan berarti melanggar perintah Tuhan.

Wartta atau perekonomian, yakni yang merupakan sumber pokok kemakmuran, yaitu pertanian, peternakan dan perdagangan. Kemajuan dari tiga bagian tersebut merupakan dasar utama dari pada kemajuan ekonomi. Ekonomi yang baik apabila adanya keseimbangan antara produksi, konsumsi dan distribusi. Maka itu untuk mencapai negara yang makmur harus pemerintah memperhatikan pertanian di Bali dengan sistim subaknya, peternakan dan perdagangan, yang selalu hendaknya mendapatkan perlindungan, pembinaan dan pengawasan.

Negara yang berhasil yakni yang ekonominya mapan, daerahnya aman dengan politik yang stabil, berlandaskan Agama.

Tri Warga/Tri Purusartha, yakni tiga unsur yang tidak dapat dipisahkan Dharma, Artha dan Kama. Ketiga unsur itulah yang merupakan tujuan hidup manusia.

Dharma dalam filsafat Hindu, yang diuraikan dalam kitab Wrehaspati Tattwa, yakni :

“Silam yajnah tapah danam prawrajya bhiksu ewa ca yogascapi dharmasya winirnayah”

(Yang termasuk dalam Dharma adalah Sila, Yadnya, Tapa, Dana, Prawrajya, Bhiksu dan Yoga).

Sila artinya selalu berpegang teguh pada prilaku yang baik. Yadnya artinya dapat melakukan pengorbanan suci dengan perasaan yang tulus ikhlas. Tapa artinya dapat mengendalikan indria dengan baik. Dana artinya melakukan sedekah dengan pikiran yang suci. Prawrajya artinya hidup suci lahir bathin. Bhiksu artinya hidup mengembara dengan tujuan menyebarkan ajaran agama. Yoga artinya selalu mengadakan hubungan yang harmonis dengan Ida Sanghyang Widhi Wasa, dengan sesama dan lingkungan.

 Dalam ajaran Susila Dharma itu akan menjelma menjadi Trikaya Parisudha, yakni (1) Manacika, berpikir yang baik, (2) Wacika, berkata yang baik dan (3) Kayika berbuat yang baik. Pikiran, perkataan dan perbuatan yang baik adalah sebagai alat mendidik agar menjadi orang yang berbudi Sattwam. Pikiran, perkataan dan perbuatan yang sedang, menyebabkan berbudi Rajas. Pikiran, perkataan dan perbuatan yang masih rendah menyebabkan berbudi Tamas. Sattwan, Rajas dan Tamas disebut dengan Tri Guna.

Tri Guna itu ada pada tubuh manusia yang memberi pengaruh pada kehidupan. Budhi Sattwa, mendekatkan kepada kebahagiaan. Budhi Rajas mendorong orang aktif, bergerak dan rajin bekerja. Dan Budhi Tamas adalah bersikap masa bodoh, malas dan pengotor.

Artha, meliputi Tri Bhoga, yaitu (1) Bhoga, makanan dan minuman, (2) Upabhoga, pakaian dan perhiasan serta (3) Paribhoga, perumahan, ilmu pengetahuan dan hiburan. Kesemuanya itu dibutuhkan dalam hidup, karena kehidupan akan selalu bergantung kepada Tri Bhoga dan mendapatkannya dengan jalan Trikaya Parisuddha. Orang hidup wajib menjalankan Dharma.

Kehidupan yang sejahtra dan bahagia, jika 5 Wa terpenuhi, seperti :

  • Wareg, terpenuhi makanan yang sehat dan bergizi.
  • Wastra, terpenuhi pakaian dan perhiasan.
  • Wesma, terpenuhi rumah yang sehat (asta kosala).
  • Waras, terpenuhi atau memiliki pengetahuan yang cukup memadai.
  • Waskita, adalah hiburan.

Ke limanya ini tidak dapat dilepaskan dengan perekonomian yang mapan, seimbang, murah dan dapat dijangkau.

Kama, keinginan. Kama itu menimbulkan Tri Parartha, yakni (1) Asih, cinta kasih sesama makhluk, (2) Punya, memberikan dengan tulus ikhlas dan (3) Bhakti, mengabdi kepada negara, bersembahyang kepada Tuhan. Kehidupan jagadhita, yakni sejahtra lahir dan bathin berdasarkan Dharma, erat sekali hubungannya dengan perekonomian yakni meningkatkan taraf hidup umat manusia. Ekonomi yang dimaksud adalah tetap berlandaskan kepada Dharma Agama.

Perlu juga kami sampaikan, ajaran-ajaran ekonomi telah tercermin dalam pelaksanaan upacara dan upakara umat Hindu di Bali, misalnya : upacara Madagang-dagangan pada waktu upacara Pawiwahan, upacara Mapepasaran, upacara Padanan dan banyak lagi upacara-upacara sejenis itu dalam kegiatan umat Hindu di Bali khususnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s