Pura Luhur Uluwatu

Pura Luhur Uluwatu – Pesona di Bibir Pantai

Pura Luhur Uluwatu tidak hanya menebarkan pesona keindahan yang puitis, juga getaran kesucian nan utuh. Di sinilah orang-orang bersimpuh, berbakti, memuja keagungan Tuhan sebagai Siwa-Rudra, pelebur segenap kepapaan hidup.

uluwatu

Ketika sang surya mulai menepi di bibir langit, keindahan di tepi pantai Uluwatu semakin mempesona. Meru tumpang telu (tiga) yang agung telihat begitu indah.

Itulah pemandangan eksotik yang bisa dinikmati di pantai Uluwatu yang berada di kawasan Pura Uluwatu, di sini bisa disaksikan tingkah lucu kera-kera yang menghuni tempat tersebut.

Uluwatu yang terletak di Kabupaten Badung tepatnya di Badung Selatan. Pura Luhur Uluwatu semula merupakan milik Kerajaan Mengwi. Pada abad XVI berlangsung perkawinan antara leluhur Puri Denpasar, I Gusti Ngurah Pemecutan Sakti dengan I Gusti Ayu Agung Bongan dari Puri Mengwi. Dari perkawinan tersebut wilayah Dalung (Gaji) hingga Pecatu diberikan kepada I Gusti Ayu Agung Bongan sebagai tatadan (warisan pemberian) termasuk tempat suci yang ada di wilayah ini.

Berlanjut pada abad XVIII berdirilah Puri Denpasar. Mengingat dari Puri Denpasar banyak semeton, untuk mengempon pura akhirnya dibagi. Pura Petitenget, Pura Perancak dan Pura Batubolong diempon oleh Puri Anyar Lelangon Denpasar dan sejak beberapa tahun silam pura ini pengelolaannya diserahkan kepada warga desa pekraman setempat. Berikutnya untuk Pura Sakenan Denpasar diserahkan kepada Puri Kesiman.

Puri Agung Jero Kuta- Badung memperoleh tugas mengempon Pura Luhur Uluwatu, hingga kini. Sedangkan warga Desa Pekraman Pecatu yang terdiri dari Banjar Kauh, Banjar Tengah dan Banjar Kangin berstatus sebagai pengemong. Adapun pura lain di wilayah Bukit Pecatu seperti Pura Gunung Payung dan Pura Geger yang semula dikelola langsung Puri Agung Denpasar belakangan diserahkan sepenuhnya kepada warga desa pekraman setempat.

Mencermati peninggalan kuno berupa candi kurung (kori gelung agung) yang menjulang megah, membatasi areal tengah (jaba tengah) dengan mandala utama (jeroan) pura ini, kemungkinan besar Uluwatu sudah ada sejak abad ke-8, jauh sebelum Mpu Kuturan terlebih lagi Banghyang Dwijendra pernah datang ke Bali. Mpu Kuturan diperkirakan menata parahyangan di Bali sekitar abad ke-11, sedangkan Danghyang Nirarta atau Danghyang Dwijendra abad ke-16 atau ke-17. Candi kuno itu menatahkan hitungan tahun Icaka dengan candrasangkala : gana sawang gana berarti Icaka 808 atau tahun 886 Masehi.

uluwatu1

Pura Luhur Uluwatu di kawasan kaki Pulau Bali ini menyajikan sesuatu yang lain. Bila lazimnya anda memuja ke arah timur atau utara, di sini pemujaannya justru mengarah ke barat daya (nriti). Jumlah pelinggih (bangunan suci) tak sebanyak di pura Kahyangan Jagat lainnya. Di Mandala Utama (jeroan) hanya ada Meru Tumpang Tiga menghadap ke timur laut dan di depannya berdiri dua pengapit. Di depan lagi ada prasada serta bangunan piyasan. Mandala ini dibatasi kori gelung agung dengan arsitektur kuno, sebagai batas demarkasi dengan kawasan di luarnya (jaba tengah). Di kawasan ini banyak ditemui kera. Kera-kera ini menjadi daya tarik tersendiri di obyek wisata paling bergengsi di Bali Selatan ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s